Bertemu 90 Menit di Istana Merdeka, Jokowi Bahas Strategi Pemenangan Pilpres dengan PSI



SURATKABAR.ID – Pada Kamis (01/03/2018), Presiden Joko Widodo menerima kedatangan para pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Istana Merdeka, Jakarta. Para pengurus PSI yang hadir adalah Ketua Umum Grace Natalie, Sekjen Raja Juli Antoni, serta Ketua DPP Tsamara Amani. Pertemuan yang dihelat tertutup tersebut berlangsung selama sekitar satu setengah jam atau 90 menit.

Melansir reportase Kompas.com, Jumat (02/03/2018), PSI sebagai partai politik yang memberikan dukungannya pada Jokowi mengakui bahwa perjumpaan ini salah satunya membahas pemenangan Jokowi di pemilihan presiden 2019 tahun depan.

“Ya ada lah (pembahasan terkait pemenangan pilpres),” ujar Tsamara kepada wartawan selepas pertemuan. Meski demikian, Tsamara enggan membeberkan secara rinci terkait apa saja yang dibahas PSI dan Jokowi sehubungan pemenangan Pilpres.

Pasalnya, hal tersebut bersangkutan dengan strategi yang tak boleh diketahui oleh lawan politik dari Presiden Joko Widodo itu sendiri.

Namun demikian, ia memberi bocoran. Bahwasanya salah satu strategi pemenangan yang akan digencarkan PSI yaitu kampanye lewat media sosial. Hal ini dikarenakan PSI sebagai partai yang baru pertama kali ikut pemilu selama ini juga berkampanye lewat media sosial.

Generasi Milenial dan Kampanye Media Sosial

“Kami tadi juga presentasi keberhasilan kami di medsos dan Pak Jokowi senang dengan hal itu. Karena Pak Jokowi sadar milenial presentasinya pada 2019 sangat besar,” ungkap Tsamara.

Tsamara pun menambahkan, kelak kinerja Jokowi selama memimpin Indonesia bisa dikampanyekan di media sosial. Selain karena cara ini lebih hemat dan tak memakan banyak biaya, pesan yang hendak disampaikan juga bisa langsung sampai ke generasi milenial.

“Apalagi Pak Jokowi punya kinerja yang sangat baik, punya prestasi. Tinggal bagaimana kami mengemas konten tersebut di media sosial agar lebih banyak anak muda yang sadar, ‘Ini lho Presiden kalian betul-betul berprestasi dan layak dipilih kembali,’” tukasnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil dari beberapa survei, diketahui bahwa elektabilitas Joko Widodo di mata generasi milenial lebih tinggi bila dibandingkan dengan Prabowo Subianto.

Seperti dilansir dari reportase Detik.com, (03/11/2017), Survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan elektabilitas Joko Widodo lebih tinggi dibanding Prabowo Subianto di mata generasi milenial. Survei CSIS ini dilakukan pada 23-30 Agustus 2017 dengan 600 sampel yang dipilih secara acak (multistage random sampling) dari 34 provinsi di Indonesia. Responden generasi milenial ialah masyarakat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih dalam pemilu dan berusia 17-29 tahun. Margin of error survei ini sebesar +/- 4 persen.

Di lain pihak, dalam laporan Kompas.com, (06/02/2018), dikatakan bahwa Generasi Muda DPP Partai Amanat Nasional (PAN) juga memberikan “Kartu Hijau” untuk kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo. Aksi ini merupakan bentuk apresiasi atas kerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Kartu merah stop, kartu kuning peringatan, ada pelanggaran, kalau kartu hijau jalan terus. Kita dukung (Jokowi) menuntaskan agendanya sampai 2019. Semoga banyak yang bisa dituntaskan. Kita sedih kok minim sekali apresiasi kepada pemerintah. Padahal sudah banyak prestasi yang diraih,” ungkap Ketua Departemen Kominfo DPP PAN, Rizki Aljupri di The Atjeh Connection SCBD, Jakarta, Selasa (06/02/2018).