7 Tahun Dipenjara, Ketua MUI Usul ke Jokowi Agar Abu Bakar Ba’asyir Dapat Grasi


SURATKABAR.ID – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin angkat bicara mengenai hukuman yang diterima oleh narapidana aksi terorisme Abu Bakar Ba’asyir. Ia meminta dua hal kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), salah satunya adalah memberikan pengurangan hukuman kepada Abu Bakar.

Dilansir dari laman Tempo.co, ditemui di Komplek Istana Negara, Jakarta pada Rabu (28/2), Ma’ruf Amin meminta agar presiden bersedia mengabulkan permintaan grasi kepada Abu Bakar, mengingat narapidana sudah menjalani hukuman selama hampir 7 tahun di balik jeruji besi.

“Kalau bisa dikasih grasi. Ya, itu terserah Presiden,” ujar Ma’ruf Amin, dikutip dari laman Tempo.co, Rabu (28/2/2018).

Narapidana kasus terorisme yang awalnya menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah, harus dipindahkan ke Rumah Tahanan Gunung Sindur, Bogor, karena kondisi kesehatannya semakin menurun.

Pria berusia 80 tahun tersebut harus merasakan dinginnya bilik penjara karena terbukti bersalah dalam tindak terorisme dan atas perbuatan tersebut, ia mendapat vonis hukuman penjara selama 15 tahun terhitung sejak tahun 2011 silam.

Tak hanya mengajukan grasi untuk Abu Bakar Ba’asyir, Ma’ruf Amin juga meminta agar Jokowi mengeluarkan izin supaya narapidana kasus tersebut mendapatkan perawatan yang lebih layak di rumah sakit. “Saya pernah menyampaikan itu ke Presiden dan Presiden merespon bagus,” tuturnya.

Mengenai usulan agar Ba’asyir bisa dirawat di rumah sakit, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi dan Informasi Johan Budi mengungkapkan dirinya belum bisa memberikan komentar apapun. “Mau saya konfirmasi dulu,” jelas Johan Budi.

Seperti yang diketahui, Abu Bakar Ba’asyir mengalami pembengkakan pada kakinya. Dan di tahun 2017 lalu, Ba’asyir pernah diperiksa dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita. Berdasarkan hasil pemeriksaan, terdapat gangguan pada katup pembuluk darah yang menyebabkan pembengkakan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, disebutkan bahwa Ba’asyir mengalami gangguan krinok pada pembuluh vena, yakni pembuluh vena pada bagian dalam tak kuat memompa darah ke atas. Meski demikian pembuluh darah arteri Ba’asyir ridak mengalami gangguan sumbatan.

Kabar terbaru mengenai kesehatan Abu bakar Ba’asyir adalah adanya kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan atau CVI Bilateral. Hal tersebut dusampaikan oleh Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Adek Kusmanto, dilansir dari Kompas.com.

“Pertimbangannya memberikan izin untuk melakukan berobat dengan rujukan terencana karena Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menderita sakit yang harus dirujuk ke rumah sakit umum di luar lapas,” jelas Adek yang dihubungi melalui pesan singkat, Rabu (28/2) malam.

Keputusan tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 mengenai syarat dan tata cara pelaksanaan hak warga binaan pemasyarakatan. Di dalamnya dijelaskan bahwa setiap narapidana berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

“Dalam hal penderita memerlukan perawatan lebih lanjut, maka dokter lapas merekomendasikan kepada Kalapas agar pelayanan kesehatan dilakukan di RS umum pemerintah di luar lapas, dalam hal ini RSCM,” kata Adek.

Namun meski demikian, Ditjen Pemasyarakatan masih harus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Densus 88. Hingga Rabu (28/2) malam, Ba’asyir masih bermalam di dalam lapas. “Setelah koordinasi dengan BNPT dan Densus 88 baru akan dibawa ke RSCM,” imbuhnya.