Bisakah Kamu Tebak Agama Wanita-Wanita Ini Berdasarkan Jilbab yang Dipakainya?


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini, perdebatan tentang kerudung dan agama cenderung semakin sengit. Pemakaian jilbab, hijab, burka dan bahkan larangan burkini di seluruh Eropa kini kian mendapat perhatian publik internasional.

Kebanyakan masyarakat awam juga beranggapan bahwa hanya umat Islam saja yang para wanitanya mengenakan tudung atau kerudung. Sedikit banyaknya, hal ini bisa jadi dipicu juga oleh karena orang Barat yang kebanyakan mengasosiasikan kerudung dengan Islam dan terorisme.

Melansir laporan Metro.co.uk, Rabu (28/02/2018), dewasa ini, sudah bukan rahasia lagi jika publik menemukan ada para petahana dunia Barat yang secara terang-terangan mengaku Islamofobia.

Namun faktanya, tentu bukan hanya wanita muslimah saja yang kerap memakai jilbab atau hijab. Seperti yang diketahui, ada banyak pengikut agama-agama lainnya di seluruh dunia yang kaum wanitanya juga mengenakan penutup kepala. Bisa jadi, mungkin banyak dari kita yang belum bisa membedakan dan mengetahui agama mana yang dianut seorang wanita yang mengenakan kerudung.

Kerudung dalam Peradaban Sebelum Islam

Kewajiban berjilbab bagi wanita tak hanya diajarkan Islam, tapi juga ditetapkan dalam tradisi sebelum Islam. Murtadha Muthahhari menyatakan bahwa hijab dan kain kerudung sudah ada di tengah sebagian kaum sebelum Islam. Penduduk  Iran tempo dulu, kelompok-kelompok Yahudi, dan juga bangsa India merupakan bangsa pemakai jilbab. Jilbab juga digunakan sebagai pakaian yang terhormat oleh kaum wanita Zaroaster, Hindu, Yahudi, dan Kristen.

Tema tentang jilbab dan pengalaman keagamaan ini dikupas tuntas oleh Murtadha Muthahhari dalam bukunya Hijab Gaya Hidup Wanita Muslimah. Menurutnya, pemakaian hijab untuk memberikan kenyamanan diri sudah dipraktikkan sejak zaman India, Persia, dan Yunani kuno. Pada masyarakat India kuno, motif pemakaian hijab karena ada kecenderungan ke arah kerahiban. Ini sebuah perjuangan melawan kesenangan dan menaklukkan ego.

Murtadha menduga, praktik pemakaian hijab berasal dari India. Kelompok agamawan membuat batas antara wanita dan pria dalam rangka kerahiban itu. Konsep ini, menurutnya, kemudian berkembang dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Gambar di atas merupakan seorang wanita Kristen asal Pakistan.

Adapun pemakaian hijab di Persia lebih didasari alasan sosial. Pada zaman dahulu, jaminan keamanan untuk wanita dan anak-anak sangat kurang. Will Durrant dalam History of Western Civilization menulis situasi di zaman Iran kuno. Menurutnya, hijab yang ada di Iran sekarang pada dasarnya berhubungan dengan Iran pra-Islam, bukan Iran setelah Islam. Demikian sebagaimana dilansir dari laporan Republika.co.id, Rabu (22/02/2017).

Di masa kekuasaan orang Sassan di Iran, jika seorang raja atau pangeran mendengar kecantikan seorang wanita, ia pasti langsung akan mencari dan membawanya. Sehingga gagasan mengenai hijab di Iran saat itu terkait erat dengan kehormatan seorang wanita yang harus dijaga dari pria lain yang selalu mengintainya.

Di sisi lain, sejumlah pandangan stereotipikal tentang jilbab kerap diidentifikasi sebagai produk budaya  Arab, anti-kemajuan, simbol  kebodohan, terorisme, dan lainnya. Berkaitan dengan pandangan stereotipikal ini, Zahra Rahnavard mengingatkan kaum wanita untuk menyadari bahwa larangan berjilbab adalah senjata paling ampuh untuk merendahkan dan menghinakan kaum wanita. [“Pesan Pemberontakan Hijab  Jerit Hati Wanita Muslimah”, Zahra Rahnavard, (Bogor: Cahaya, 2003), cet. Ke-I, h.22].

Lebih lanjut, mari simak beberapa gambar di bawah berikut. Bisakah kamu tebak agama wanita-wanita ini berdasarkan jilbab yang dipakainya?

  1. Kerudung Wanita Yahudi (Jewish)

Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah adalah mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja.

Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.” [Sabda Langit Perempuan dalam Tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, Sherif Abdel Azeem,  (Yogyakarta: Gama Media,  2001), cet. Ke-2, h.74].

Pada gambar di atas, dapat dilihat para perempuan dari kalangan Yahudi Ultra Orthodoks sekte Haredi Burqa yang kerap disebut Ibu para Taliban, demikian dikutip dari laman BersamaIslam.com.

Kerudung juga menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang menge-nakannya. Kerudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi.

Oleh sebab itu di masyarakat Yahudi kuno, p*elacur-p*elacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi p*elacur-p*elacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237).

Wanita-wanita Yahudi di Eropa menggunakan kerudung sampai abad ke 19 hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang shalih tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi). [S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239].

Dalam Hukum Rabi Yahudi, wanita Yahudi yang sudah bersuami dan tidak berjilbab dipandang  sebagai wanita yang tidak terhormat. Hukum Rabi Yahudi juga melarang pembacaan dan doa di depan wanita yang sudah menikah tanpa menutup kepala dengan kerudung karena wanita yang membuka rambutnya itu dianggap sebagai wanita t*elanjang. Wanita ini bahkan dianggap sebagai wanita yang merusak kerendahan hatinya dan didenda dengan empat ratus zuzim karena pelanggarannya.[ibid, h. 74-75].

  1. Kerudung Wanita Kristen

Foto di atas merupakan perempuan dari jemaah Kristen Orthodoks Old Believers dalam pakaian tradisional lengkap dengan kerudung dan sudah dibiasakan sejak masih kanak-kanak.

“…Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya.

“Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.

“Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

“Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung…” [Dalam Korintus 11: 5-15].

Gambar di atas merupakan potret sepasang pengantin dari jemaah Kristen Orthodoks Old Believers di Amerika Serikat.

Gambar di atas merupakan wanita Kristen di Etiopia.

Menurut Rasul Paulus, menutup kepala bagi wanita itu sebagai simbol otoritas laki-laki yang  merupakan bayangan dan keagungan Tuhan, karena wanita diciptakan dari laki-laki dan untuk  kepentingan laki-laki pula. [Kitab I Korintus, 11: 7-9].

Foto di atas menunjukkan biarawati dari gereja St Nicholas, Nizhni Novgorod Region, Rusia, 1904.

Dalam kaitan ini, Abu Ameenah Bilal Philips menegaskan bahwa dalam kanon Gereja  katolik  terdapat artikel hukum yang mewajibkan wanita untuk menutup kepala mereka saat berada di  Gereja. Bahkan sekte-sekte Kristen, seperti kaum Amish dan Mennonite memelihara kerudung bagi kaum wanitanya hingga saat ini.[“Agama Yesus Yang Sebenarnya”, Abu Ameenah Bilal  Philips,(Jakarta: Pustaka Dai, 2004), h. 179].

  1. Kerudung Wanita Hindu

Hal yang sama juga dilakukan dalam tradisi orang-orang India yang sebagian besar penganut ajaran Hindu. Pakaian yang panjang sampai menyentuh mata kaki dengan kerudung menutupi kepala menjadi pakaian khas yang dipakai sehari-hari.

  1. Kerudung Wanita Sikh

Demikian juga dalam agama Sikh yang terdapat di India dan kerap disebut merupakan gabungan dari agama Islam dan Hindu. Melansir Kompasiana.com, saat ini umat Sikh digolongkan ke dalam agama Hindu untuk urusan administrasi kependudukan dan bimbingan masyarakat, walaupun kedua agama ini berbeda.

Agama ini berkembang terutamanya pada abad ke-16 dan 17 di India. Kata Sikhisme berasal dari kata Sikh, yang berarti “murid” atau “pelajar”.

Kepercayaan-kepercayaan utama dalam Sikhisme adalah:

  • Percaya dalam satu Tuhan yang pantheistik. Kalimat pembuka dalam naskah-naskah Sikh hanya sepanjang dua kata, dan mencerminkan kepercayaan dasar seluruh umat yang taat pada ajaran-ajaran dalam Sikhisme: Ek Onkar (Satu Tuhan).
  • Ajaran Sepuluh Guru Sikh (serta para cendekiawan Muslim dan Hindu yang diterima) dapat ditemukan dalam Guru Granth Sahib.

Melansir Wikipedia.org, Sikh merupakan agama monoteistik yang diasaskan mengikut ajaran Guru Nanak dan sembilan orang guru lain di Punjab, India pada abad ke-15. Agama Sikhisme adalah agama kelima terbesar di dunia, dengan lebih daripada 23 juta penganut.

Sikhisme berasal daripada perkataan Sikh, yang datang daripada kata dasar śiṣya dalam bahasa Sanskrit, yang bermakna “murid” atau “pelajar”, atau śikṣa yang bermaksud “arahan”.

Di Indonesia sendiri, Sikh masuk sekitar abad 19 melalui Kota Medan, Sumatera Utara yang bertetangga dengan Malaysia dan Singapura. Karena dulu India merupakan jajahan Inggris dan bertepatan dengan Malaysia dan Singapura yang juga dijajah Inggris, saat itulah orang Sikh masuk ke Indonesia. Ini dikarenakan saat itu para penganut Sikh kebanyakan berprofesi sebagai tentara, polisi dan pengamanan. dikatakan juga bahwa dalam Perang Dunia I maupun II, itu Sikh Regiment saat itu paling banyak mendukung tentara Inggris. Demikian dilansir dari Kumparan.com.

  1. Kerudung Wanita Islam

Foto di atas dilansir dari Metro.co.uk, yang merupakan muslimah di China.

Dikatakan oleh Dedy Mulyana dalam Islam: Antara Simbol dan Identitas, pemakaian jilbab yang dilandasi pengalaman keagamaan, tidak lain merupakan cermin dari inner states yang tulus. Jilbab di sini bukan instrumen untuk menyenangkan orang lain atau sekadar untuk memenuhi persyaratan masuk ke dalam sebuah institusi. Tetapi, perwujudan rasa nyaman yang subjektif, seperti dikutip dari Republika.co.id.

Muhammad Sa’id Al-Asymawi, seorang tokoh liberal Mesir, yang memberikan peryataan kontroversial bahwa jilbab adalah produk budaya Arab. Pemikirannya tersebut dapat dilihat dalam buku Kritik Atas Jilbab yang diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation.

Meski demikian, sebagian besar ulama Islam mengatakan bahwa jilbab adalah kewajiban bagi muslimah. Wanita Islam wajib menjaga auratnya, yang diperbolehkan untuk diperlihatkan hanya wajah serta telapak tangan.