Tak Disangka, Kediaman Habib Rizieq di Mekah Luasnya Fantastis


    Foto: Tribunnews

    SURATKABAR.ID – Ada cerita dari para jemaah yang mengunjungi kediaman Habib Rizieq di Mekah, Arab Saudi. Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Gatot Saptono alias Muhammad Al Khaththath yang mengaku mendapat cerita itu dari jemaah.

    Dia menceritakan bahwa kediaman yang ditinggali Habib Rizieq telah diperbesar. Sampai-sampai sebanyak empat bus jemaah yang datang ke sana bisa diterima.

    “Waktu saya datang itu cuma muat delapan orang. Sekarang dapat kabar, empat bus jamaah juga muat,” ujarnya ketika menghadiri Deklarasi Kaukus Pembela Rizieq Shihab di Gedung Joeang ’45, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/2/2018), seperti dilansir dari Tempo.co.

    Sementara, soal asal-usulnya maupun dana yang menjadi sumber untuk kediaman Habib Rizieq yang berada di Mekah itu tidak disebutkan oleh Al Khaththath. “Nanti 28 Februari, Sekretaris Jenderal Kaukus Dedi Suhardadi akan umroh dan datang ke rumah Habib.”

    Lalu kapan Habib Rizieq akan kembali ke Indonesia? Menurut pendiri Presidium Alumni 212, Faizal Assegaf, Habib Rizieq bakal kembali pulang ke tanah air kalau yang menjemputnya ke Mekah adalah Anies Baswedan.

    Anies punya hubungan kuat dengan HRS (Habib Rizieq Shihab) dan diharapkan dapat menjadi penjamin keamanan bagi dirinya,” ucap Faizal, Rabu (21/2/2018).

    Menanggapi pernyataan itu, tak ada antusiasme dari respon Anies Baswedan. “O, gitu ya? Tidak ada tanggapan,” ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta, masih pada hari yang sama.

    Al Khaththath tidak sendirian menghadiri Gedung Joeang 45. Di sana para alim ulama juga turut hadir, yakni Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Persaudaraan Alumni 212, Forum Umat Islam (FUI), dan Kebangkitan Jawara dan Pengacara.

    Kehadiran mereka pun dijadikan momentum untuk mendeklarasikan Trituma yang dikeluarkan Kaukus Pembela Rizieq, berisi di antaranya permintaan supaya kriminalisasi atas alim ulama dan aktivis dihentikan, lalu adanya jaminan keselamatan untuk alim ulama dan aktivis, serta melakukan rekonsiliasi kebhinekaan untuk persatuan Indonesia.

    Awal mula pembentukan kaukus ini dilatarbelakangi kasus hukum yang menjerat sejumlah ulama serta aktivis. Seperti di antaranya Rizieq Shihab yang menjadi tersangka atas kasus dugaan pornografi, serta Alfian Tanjung dan Jonru Ginting sebagai terdakwa untuk kasus ujaran kebencian.