Arkeolog Ungkap Rahasia Bagaimana Bentuk Piramida Bisa Sangat Presisi


    SURATKABAR.ID – Rahasia bagaimana bentuk piramida bisa sangat presisi akhirnya terpecahkan. Seperti diketahui, selama berabad-abad, Piramida Giza telah membingungkan para peneliti. Bukan hanya karena rongga misterius dan ruangan tersembunyinya saja, tapi juga bagaimana masyarakat Mesir kuno membangun struktur mengagumkan tersebut tanpa teknologi modern.

    Tak ketinggalan, salah satu hal yang masih sengit diperdebatkan adalah bagaimana orang-orang Mesir kuno membangun piramida-piramida tersebut dengan sangat presisi. Padahal, saat itu mereka belum mengenal teknologi modern seperti komputer, drone atau peralatan kompleks yang canggih dengan teknologi mutakhir lainnya.

    Melansir laporan NationalGeographic.co.id, Sabtu (24/02/2018), secara keseluruhan sisi Piramida Agung Giza begitu lurus dan sejajar—hampir di sepanjang titik kardinal, utara-selatan-timur-barat. Hal ini sangat menakjubkan mengingat pada masa itu masyarakat Mesir kuno belum mengenal drone, cetak biru, dan komputer.

    Kendati begitu, para ahli juga menemukan sedikit kesalahan.

    “Ketiga piramida—dua di Giza dan satu di Dashur—menampilkan pola kesalahan yang sama; mereka sedikit berputar berlawanan arah jarum jam dari titik kardinal,” demikian ditulis oleh Glen Dash, seorang arkeolog dan insinyur, dalam karya ilmiahnya yang terbit di The Journal of Ancient Egyptian Architecture.

    Sejauh ini, terdapat banyak hipotesa mengenai bagaimana masyarakat Mesir kuno membangun piramida dengan begitu presisi. Ada pihak yang menduga mereka melakukan itu dengan menggunakan bintang kutub, atau dengan memanfaatkan bayangan Matahari. Sayangnya, belum ada yang menjelaskan bagaimana tepatnya cara untuk membangun piramida dengan sangat presisi tersebut.

    Ekuinoks Musim Gugur dan Gnomon

    Dash dalam laporan risetnya mengutarakan teori yang lebih sederhana. Mengutip laporan ScienceAlert.com, dikatakan bahwa penelitian Dash menunjukkan masyarakat Mesir kuno yang hidup sekitar 4.500 tahun silam dapat menggunakan ekuinoks musim gugur demi mencapai keselarasan sempurna.

    Ekuinoks dianggap sebagai momen dua kali setahun saat bidang ekuator bumi melewati pusat cakram Matahari, yang menyebabkan panjang waktu siang dan malam hampir sama.

    Sebelumnya, pengukuran ekuinoks telah diabaikan karena diasumsikan tak akan memberi akurasi yang cukup. Namun hasil riset Dash menunjukkan bahwa ada cara yang memungkinkan penggunaan metode ini, yakni dengan memanfaatkan tongkat yang dikenal sebagai gnomon.

    Guna memastikannya, Dash melakukan eksperimennya sendiri. Ia memulai pada hari pertama ekuinoks musim gugur tahun 2016—22 September 2016 dan menggunakan gnomon.

    Dash melacak titik bayangan secara berkala, membentuk kurva titik yang halus. Di penghujung hari, dengan seutas tali yang dililitkan di sekitar tiang, Dash memotong kurva dan menciptakan garis hampir sempurna membujur dari timur ke barat.

    “Pada ekuinoks, surveyor akan menemukan bahwa ujung bayangan berjalan dalam garis lurus dan hampir sempurna dari timur ke barat,” tulis Dash.

    Dash juga menunjukkan adanya kesalahan beberapa derajat yang sedikit berlawanan dengan arah jarum jam, mirip dengan kesalahan kecil yang ditemukan pada ketiga piramida.

    Hanya Ada Sedikit Petunjuk

    Kendati eksperimen ini dilakukan di Connecticut, Amerika Serikat, namun Dash menegaskan bahwa uji coba ini juga akan memberikan hasil yang sama jika dilakukan di Mesir. Syarat utamanya hanya dua faktor: hari yang cerah dan langit yang bersih.

    Meskipun hasil riset Dash menunjukkan bahwa teknik ini bisa dilakukan untuk menyelaraskan piramida, namun kita tetap belum memiliki bukti kuat terkait teknik yang sesungguhnya digunakan oleh masyarakat Mesir kuno.

    “Sayangnya, masyarakat Mesir kuno hanya meninggalkan sedikit petunjuk bagi kita. Tidak ada dokumen teknik atau rencana arsitektur yang ditemukan yang memberikan penjelasan teknis bagaimana orang-orang Mesir kuno menyelaraskan piramida-piramida mereka,” tulis Dash kemudian.

    Kita mungkin tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu, namun hasil riset ini memberikan poin menarik: bahkan hal sesederhana seperti memetakan cahaya selama ekuinoks musim gugur, bisa cukup canggih untuk menyelaraskan beberapa struktur kuno buatan manusia yang kini paling dikenal dan disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia.