Mencekam! Selamat dari Bencana Tanah Longsor Brebes, Mulyono Beri Kesaksian Mengerikan


    SURATKABAR.ID – Belasan korban masih belum berhasil diketemukan, bencana tanah longsor di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Kamis (22/2) masih menyembunyikan kisah-kisah mengerikan dari para korban selamat.

    Dilansir dari laman Jpnn.com, Mulyono, pria berusia 57 tahun salah seorang korban selamat dengan berpegangan erat pada pelepah kelapa, menuturkan pengalaman mencekamnya selama berjuang mati-matian untuk tetap hidup dalam bencana tanah longsor mematikan tersebut.

    Menurut penuturan Mulyono, sebelum insiden tanah longsor, ia mendengar suara dentuman yang sangat memekakkan telinga. Suara tersebut disusul dengan pergerakan tanah yang sangat deras mengalir dari arah atas bukit.

    “Seperti suara ledakan, kemudian tanah bercampur air turun dengan cepat menyapu tempat sekitar saya berada,” ungkap pria 57 tahun tersebut saat ditemui di rumah sakit dalam kondisi yang masih tak berdaya, dikutip dari laman Jpnn.com pada Sabtu (24/2/2018).

    Pada Kamis (22/2) pagi, ia bersama sejumlah warga desa lainnya yang kebanyakan wanita, berada di blok Pasirpanjang Lama, di bawah Bukit Lio, Desa Pasirpanjang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sementara para wanita tersebut mengolah lahan sawah, Mulyono mencari kayu.

    Begitu mendengar suara dentuman dan menyadari bahaya yang akan terjadi, Mulyono tanpa pikir panjang langsung mengerahkan seluruh tenaga menjauh dari tempat tersebut. Sayang, usahanya terlambat. Lumpur sudah menyusulnya dan menyeret tubuhnya.

    “Saat saya lari, terdorong oleh pelepah pohon kelapa kering yang hanyut terbawa longsor. Karena takut tenggelam, saya berpegangan erat ke pelepah itu,” tutur Mulyono yang mengaku tak mengingat kondisi warga lainnya. “Sempat tenggelam sampai sekeliling kelihatan gelap,” tambahnya.

    Pria yang beristrikan Tarmah tersebut mengaku hanya pasrah mengikuti ke mana arus lumpur membawa dirinya. Ia tak melepaskan pelepah kelapa tersebut dari dekapannya. Dan beberapa saat kemudian, arus lumpur mulai melambat.

    Mulyono berjuang mencapai tepian yang permukaannya lebih tinggi dari tempat dirinya berada saat itu. “Saya kira dangkal, ternyata sampai hampir tenggelam di situ. Saya nyaris putus asa karena tidak kuat lagi untuk mengangkat tubuh dari lumpur,” papar pria tersebut.

    Namun rupanya kematian belum akan menjemput Mulyono. Melalui perjuangan, ia akhirnya berhasil menginjakkan kaki di dataran yang lebih tinggi. “Saya sempat minum air sawah karena capek sekali,” ungkap Mulyono yang mendapatkan perawatan di Puskesmas Desa Bentar.