Habib Rizieq Siap Jadi Presiden? FPI: Kalau Negara Darurat dan Mayoritas Rakyat Indonesia Meminta


    SURATKABAR.ID Sekretaris Jenderal DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Novel Bamukmin menyatakan jika Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab siap untuk memimpin Indonesia.

    “Kalau negara darurat dan mayoritas rakyat Indonesia meminta Habib Rizieq, bisa saja itu terjadi,” kata Novel, Jumat (23/2/2018), dikutip dari tempo.co.

    Meski demikian, ia menegaskan jika Habib Rizieq bersedia jadi presiden jika ditunjuk, bukan melalui proses pemilihan umum.

    “Tetapi berdasarkan musyawarah mufakat, bukan demokrasi,” ujarnya.

    Nama Habib Rizieq belakangan muncul di beberapa survei mengenai calon presiden yang diinginkan rakyat.

    Seperti diwartakan republika.co.id, nama Habib Rizieq muncul dalam survei Media Survei Nasional (Median) terkait elektabilitas sejumlah calon presiden 2019. Pada survei tersebut responden diminta memilih 33 calon yang sudah mereka daftar, namun juga mempersilahkan untuk menuliskan nama lain jika yang mereka inginkan tidak ada dalam daftar tersebut.

    Ternyata, hasilnya cukup mengejutkan, dimana Habib Rizieq dan juga Ustaz Abdul Somad. Padalah dua tokoh tersebut tidak masuk dalam 33 nama calon yang disodorkan ke responden.

    “Saya kira dengan model seperti ini jauh lebih fair karena lebih terbuka,” tutur Direktur Eksekutif Median Rico Marbun dalam peluncuran hasil survei Median yang dilakukan pada 1–9 Februari 2018, di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

    Pada hasil survei tersebut, Habib Rizieq maupun Ustad Somad sama-sama memiliki elektabilitas sebagai calon presiden sebesar 0,3 persen.

    Angka tersebut mengungguli beberapa tokoh yang juga cukup santer dibicarakan publik, seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan 0,2 persen, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (0,2 persen), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (0,2 persen), dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko (0,1 persen).

    Survei digelar pada tanggal 1 sampai 9 Februari 2018 dengan mengambil 1.000 responden dengan tingkat batas kesalahan sebesar kurang lebih 3,1 persen. Survei itu diklaim mencapai tingkat kepercayaan 95 persen. Adapun sampel dipilih secara acak dengan teknik multistage random sampling.