Mangkrak karena Pembebasan Lahan, Dana Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga Membengkak


SURATKABAR.ID – Karena masuknya biaya asuransi dan komponen debt service reserve accounting (DSRA), Pelaksana Tugas Direktur Utama PT KCIC Dwi Windarto menuturkan, biaya proyek pembangunan Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung bertambah bengkak menjadi USD 6,071 miliar (Rp 81,95 triliun). Sebelumnya, biaya dikisarkan sebesar USD 5,9 miliar (Rp 80,83 triliun).

Pernyataan yang dikeluarkan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ini juga menyebutkan, besaran kebutuhan biaya pembangunan kereta cepat sebesar USD 6,071 miliar telah lama ditetapkan termasuk biaya asuransi dan DSRA.

”Jadi ada reserve account yang harus ditanggung KCIC karena pinjaman sehingga bertambah dari sebelumnya,” papar Dwi di Jakarta, Rabu (12/02/2018).

Dwi melanjutkan, sumber pendanaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75% dan sisanya 25% dari PT KCIC.

KCIC sendiri merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia dengan nama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memegang 60% saham dan konsorsium perusahaan China yang menguasai 40% saham.

Ada pun Sahala Lumban Gaol selaku Komisaris PT PSBI menargetkan proyek KA Cepat Jakarta-Bandung untuk dituntaskan di tahun 2020. Pihaknya saat ini sedang menuntaskan seluruh persyaratan yang diminta CDB guna mendapatkan pinjaman.

”Mayoritas persyaratan sudah kami penuhi. Tapi bank itu kan selalu teliti, tidak ada yang mengada-ada, jadi permintaan mereka wajar-wajar saja,” ujar Sahala.

Sedangkan untuk proses pembebasan lahan KA Cepat Jakarta-Bandung, Sahala juga menambahkan, hal itu akan tuntas pada April 2018 ini.

KCIC saat ini telah mempunyai lahan sepanjang 55 kilometer yang telah diserahkan kepada kontraktor untuk dikerjakan. Diketahui, total panjang trase KA Cepat Jakarta-Bandung adalah 142 km, yang membentang mulai dari kawasan Halim Perdanakusumah ke Tegalluar di Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, pemerintah menetapkan target pengerjaan konstruksi proyek Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung terlaksana pada Mei 2018.

Pinjaman China Akan Cair Setelah Masalah Lahan Selesai

Lebih lanjut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga memastikan proyek ini tetap berjalan dan terus diawasi intens oleh pemerintah.

”Yang jelas begini, saya hanya pastikan bahwa proyek ini tetap berjalan. Mengenai teknisnya seperti apa, saya serahkan kepada pelaksana dalam hal ini KCIC,” ujarnya.

Diketahui, dana sebesar USD 500 juta akan dikucurkan China Development Bank (CDB) untuk pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Pinjaman tahap awal tersebut dijadwalkan cair Maret 2018 mendatang.

”Kami tinggal finalisasi dokumen dengan perbankan. Kita harapkan Maret bisa segera cair,” tutur Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, baru-baru ini. Demikian seperti dikutip dari Tempo.co.

Pencairan pinjaman USD500 juta tersebut merupakan bagian dari pinjaman yang disetujui CDB dengan total USD 5,9 miliar. Pencairan pinjaman awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tersebut sempat terkendala untuk dicairkan. Yang menjadi penyebabnya adalah adanya keterlambatan pembebasan lahan. CDB mensyaratkan pembebasan lahan harus mencapai 53% dari total lahan jika pinjaman ingin dicairkan.

Rini juga membenarkan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung akan mulur. Kereta kencang itu ditargetkan beroperasi pada 2019, namun pembebasan lahannya baru rampung 54 persen, atau sekitar 55 km dari total panjang lintasan. Pembangunan sudah dilaksanakan di 22 km pertama, sementara sisanya yakni sepanjang 33 km masih berada di tahap land clearing alias tahap pembebasan lahan.

“Pembebasan lahan juga lambat karena kita baru dapat penetapan lokasi pada 31 Oktober 2017, dan masih yang harus diminta persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” imbuh Rini.

Dengan masih tersendatnya proses pembebasan lahan, Rini menyebut, pembangunan kereta cepat ini baru bisa selesai pada 32 bulan jam kerja; terhitung dari Februari 2018 sehingga akan rampung pada Oktober 2020.

”Kami masih sangat berharap. Kan sekarang hitungannya 32 bulan, 32 bulan dari pembangunan. Sekarang sudah mulai land clearing di Halim,” kata Rini.