Soal Isu Penyerangan Terhadap Ulama, 3 Jenderal Polisi Diterjunkan

SURATKABAR.IDMasih hangat di telinga kita tentang penyerangan terhadap sejumlah ulama yang tak hanya mengakibatkan luka-luka, melainkan juga merenggut nyawa. Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi atau memprovokasi kabar ini.

Polri tidak akan berpangku tangan untuk terus menggali data dan fakta atas peristiwa penyerangan terhadap pemuka agama.

Dari data yang dimiliki Bareskrim Mabes Polri, ada 21 peristiwa kekerasan yang terjadi sejak Desember 2017. Provinsi Aceh, Banten, DKI Jakarta, dan Yogyakarta masing-masing terjadi 1 peristiwa. Jawa Timur sebanyak 4 peristiwa dan Jawa Barat menjadi provinsi yang paling banyak yaitu 13 peristiwa.

Mendengar laporan penyerangan tersebut, Polri menerjunkan tiga jenderal untuk mengungkap fenomena tersebut. Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto menyebutkan tiga jenderal ini akan ditugaskan di tiga provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

“Ada jenderal bintang dua dan satu,” tuturnya dalam pertemuan di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabu (21/2/2018) seperti yang dilansir dari jpnn.com.

Selain tiga jenderal, nantinya juga akan ada pakar bidang kejiwaan atau psikologi yang bertugas untuk menjelaskan duduk perkaranya. Beberapa pelaku penyerangan ulama bahkan sudah berhasil diringkus. Namun, hingga kini belum ada motif yang terungkap dari kejadian di beberapa daerah yang meresahkan para pemuka agama dan masyarakat.

Berdasarkan kabar yang beredar, pelakunya merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Benarkah demikian? Direktur Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta, Etty Kumolowati mengatakan ODGJ tidak terjadi dengan tiba-tiba dan memiliki tahapan yang dapat dideteksi. Jika para pelaku yang tertangkap ini merupakan ODGJ, maka bisa dilakukan tes psikiatris.

Terlepas dari penangkapan beberapa pelaku terduga, Wakapolri justru memberikan pengakuan mengejutkan. Komjen Pol Syafruddin menyatakan, sebagian besar informasi terkait kasus penganiayaan terhadap kiai adalah hoax. Misalnya di Jawa Barat, dari informasi yang beredar ada 13 kasus, namun faktanya hanya ada dua kasus yang benar-benar terjadi.

Seperti diwartakan Republika.co.id (21/2/2018), Syafruddin mengungkapkan jika sebagian besar kabar soal penyerangan adalah hoax. “Kasus ini adalah isu hoax yang lebih banyak. Jadi sekarang ini 95 persen itu hoax.” katanya

Sementara itu, Ustad Yusuf Mansur menanggapi peristiwa ini dengan sangat positif. Menurutnya, penyerangan tersebut menjadi pelajaran dan nasihat untuk menjaga para ulama. Masyarakat juga diminta waspada meski di masa damai.