Marak Penganiayaan Terhadap Ulama, Amien Rais Yakin Ada Dalangnya


SURATKABAR.ID – Penasihat DPP Persaudaraan Alumni 212 Amien Rais buka suara menanggapi semakin maraknya kasus penganiayaan ulama. Menurutnya persoalan yang beberapa waktu terakhir ini semakin kerap terjadi di sejumlah daerah bukanlah hal yang bisa diabaikan dan dilupakan begitu saja.

Dilansir dari laman Antaranews.com, Amien Rais dalam konferensi pers Seminar Nasional bertajuk ‘Menghadapi Fenomena Pedzaliman terhadap Para Ulama’ yang digelar di Jakarta pada Selasa (20/2), mengungkapkan kasus penindasan terhadap para pemuka agama tidak bisa dianggap remeh.

“Kurang cerdas jika menganggap penganiayaan, intimidasi, pembunuhan terhadap ulama itu dianggap biasa, jangan dibesar-besarkan,” tukas Amien Rais dengan ketus, seperti yang dikutip dari Antaranews.com, Selasa (20/2/2018).

Ia menambahkan bahwa sangat mungkin kasus penyerangan terhadap ulama sudah terpola dan terencana dengan begitu rapi serta terorganisir. Menurut Ketua MPR periode 1999-2004 ini, kasus penyerangan ini cenderung memiliki dalang yang bersembunyi di baliknya.

“Dilihat dari cara memilih korban, itu pasti ada dalangnya. Sayangnya dalang tidak kunjung ditangkap,” tambah pria kelahiran Surakarta pada 26 April 1944 tersebut. “Persoalan penganiayaan ulama ini jelas karena terjadi seperti di lapangan terbuka dengan semua orang bisa melihat.”

Amien Rais menuntut para aparat kepolisian agar dapat sesegera mungkin mengamankan dan mengadili dalang di balik maraknya penyerangan yang menyasar para ulama. Jika tidak, ditakutkan semakin tinggi kecurigaan umat Islam terhadap aparat karena tidak sanggup berbuat adil.

Menurutnya, sudah menjadi kewajiban para aparat untuk menempatkan diri dengan baik dengan cara bertindak adil terhadap siapa pun yang berbuat salah. “Polisi bisa menangkap pelaku bom Bali, tapi ini tidak. Perasaan umat Islam itu saat ini sensitif sekali.”

Sementara itu, dampak dari semakin banyaknya kasus penyerangan terhadap para tokoh keagamaan adalah penundaan kepulangan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Tanah Air pada Rabu (21/2) kemarin.

“Ada pertimbangan-pertimbangan lain, seperti kondisi Tanah Air yang semakin marak pembunuhan ulama, kemudian situasi politik juga semakin memanas,” jelas Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif di Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (21/2), dikutip Cnnindonesia.com, Rabu (21/2/2018).

Kasus kekerasan terhadap ulama serta pemuka agama semakin marak terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sebelumnya pada awal Februari 2018, di Bandung, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persis HR Prawoto alias Ustaz Prawoto dianiaya seorang pria yang diduga mengalami gangguan kejiwaan.

Lalu selanjutnya ada pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kiai Hakam Mubarok yang dianiaya oleh seorang pria tak dikenal. Hal tersebutlah yang menjadi alasan di balik pembatalan kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia.