Pesan Berantai Nyalakan AC Saat Pertama Masuk Mobil Sebabkan Kanker, Bagaimana Kebenarannya?


SURATKABAR.ID – Para pengguna media sosial baru-baru ini dibuat heboh dengan pesan berantai yang berisi larangan menyalakan AC ketika pertama kali masuk mobil karena dapat menyebabkan kanker dan masalah kesehatan lainnya. Pesan tersebut pertama kali tersebar di aplikasi chatting.

Dihimpun Grid.ID dari laman KompasOtomotif, menanggapi hal tersebut Toyota Astra Motor (TAM) melalui General Manager Technical Service PT TAM Dadi Hendriadi angkat bicara. Menurutnya isi pesan tersebut adalah salah besar.

“Kalau soal uap tersebut, para produsen mobil termasuk Toyota, sudah sangat mempertimbangkan, pada saat mendesain bagian interior mobil. Proses tersebut juga termasuk pemilihan materialnya. Jadi info itu tidak benar,” jelas Dadi, dikutip dari Grid.ID pada Rabu (21/2/2018).

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa dirinya pun kerap melakukan ritual membuka kaca mobil saat menyalakan AC pertama kali masuk dalam kendaraan. “Saya juga melakukan hal yang sama, buka jendela kalau interior panas berjemur,” jelasnya.

Namun bukan untuk menyingkirkan zat beracun seperti yang disebutkan pesan berantai itu, melainkan membantu ruang kabin cepat dingin dan meringankan kerja AC. “Namun itu untuk mengeluarkan udara panas di dalam mobil, dan membiarkan udara luar masuk. Ini supaya kabin lekas dingin,” tambah Dedi.

Sebelumnya disebutkan dalam pesan berantai yang bikin geger tersebut, bahwa kebiasaan menyalakan AC segera setelah masuk ke dalam kendaraan roda empat tanpa terlebih dahulu membuka kaca, dapat menjadi penyebab utama timbulnya kanker.

Bukan hanya itu saja. Pesan tersebut juga menyebutkan menurut sebuah penelitian, bahwa dashboard mobil, sofa, dan pengharum mobil dapat menghasilkan racun yang dapat menyebabkan kanker (karsinogen), yakni Benzene. Hal tersebut tentu membuat para pemilik mobil ketakutan.

Zat tersebut disebutkan dapat meracuni tulang, meningkatkan risiko anemia, hingga mengurangi produksi sel darah putih. Dan apabila kondisi tersebut dibiarkan, maka risiko jangka panjangnya adalah dapat menimbulkan Leukimia.

Meski tak diketahui kebenaran sesungguhnya, tetap saja banyak orang yang menerima pesan berantai hoax tersebut percaya dan ikut menyebarkan isi pesan yang belum dipastikan kebenaran dari informasi tersebut.