Namanya Disebut-sebut dalam Kasus Korusi, Fahri Hamzah Mengaku Sudah Diancam Sejak 2007


SURATKABAR.ID – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah disebut-sebut oleh mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin, dalam pusaran korupsi saat mantan politikus PKS itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR. Bahkan, Nazar mengaku memiliki bukti keterlibatan Fahri di dalam kasus korupsi.

Seperti diwartakan jawapos.com, Fahri mengaku geram mendengar pernyataan Nazar tersebut. Fahri mengklaim bahwa tudingan semacam itu bukanlah hal baru baginya.

“Karena saya sendiri mengalami upaya (untuk) menyeret-nyeret saya dalam korupsi. Menurut saya itu mulainya 2007,” ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Fahri menjelaskan, waktu itu ada yang mengancam bakal membongkar komunikasinya yang disadap ihwal pembagian fee proyek korupsi. Tidak hanya dirinya, Fahri juga mengatakan bahwa keluarganya pun ikut diancam.

“11 tahun yang lalu saya sudah diancam. Bahkan keluarga saya pun kena ancam juga,” kata Fahri.

Oleh sebab itu, imbuhnya, Fahri menganggap Nazaruddin yang merupakan mantan anggota DPR itu sebagai ancaman bagi keamanan asional. Ia menyebut, sejak menjadi buronan dan kabur ke Cartagena, Kolombia, Nazaruddin mantan anak buah SBY itu sudah menuding banyak orang di Indonesia ini.

“Semua orang di dalam bangsa ini diomongin sama Nazar dari layar kecil itu, Skype,” katanya.

Fahri lantas berargumen bahwa nyanyian Nazar tersebut telah membuat partai yang pada saat itu tengah berkuasa menjadi menderita. Imbasnya sampai kursi partai tersebut hilang sekitar di atas 80.

Maka, lanjut Fahri, ocehan Nazar itu telah sudah mengacaukan keamanan nasional. Katanya, Nazar semakin aktif menuding dan menyebut semua nama pejabat, terutama DPR dari mimbar depan gedung KPK.

“DPR paling banyak disebut sama dia, semuanya mulai fraksi, alat kelengkapan dewan, terutama orang-orang Banggar,” katanya.

Fahri berkesimpulan, apa yang dilakukan Nazar itu adalah modusnya untuk menggalang satu desain guna membungkam, menakutkan yang digalang oleh suatu persekongkolan.