Terungkap! Inilah Sosok Wali Murid yang Aniaya Kepala Sekolah


SURATKABAR.ID – Astri Tampi (57), Kepala Sekolah (Kepsek) Menengah Pertama Negeri 4 di Labuan Uki, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang, Mongondow, Sulawesi Utara menjadi korban aksi penganiayaan yang dilakukan oleh salah seorang orang tua murid pada Selasa (13/2) pagi.

Akibat insiden gara-gara isu alat tes kehamilan di kalangan pelajar tersebut, korban mengalami luka di tangan, hidung patah, lebam di kepala karena terkena kaca, sakit di punggung, dan cucuran darah memenuhi bagian depan seragam dinasnya, seperti dilansir dari Tribunnews.com.

Berdasarkan penuturan Nursiah Saka, salah seorang guru SMP Negeri Lolak, tersangka, Meidy yang merupakan orang tua dari murid mereka di sekolah tersebut, datang ke sekolah memenuhi panggilan kepsek terkait ulah putrinya yang diduga mengunggah foto alat tes kehamilan.

Menjadi korban penganiayaan dari orang tua murid, Astri pun segera melaporkan kasus tersebut  ke Polsek Lolak di hari yang sama dengan didampingi sang suami. Dengan kondisi tubuhnya yang masih penuh luka, Astri diantarkan suaminya.

“Anggota langsung bergegas menuju ke tempat kejadian perkara dan menjemput tersangka Meidy di rumahnya Desa Labuan Uki,” tutur Kapolsek Lolak AKP Suharno menanggapi kasus tersebut, seperti yang dikutip dari laman Tribunnews.com pada Rabu (14/2/2018).

Tersangka yang diringkus polisi tak mencoba melarikan diri. Ia mengaku khilaf saat melakukan perbuatan tersebut. Dan untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, tersangka harus menjalani serangkaian pemeriksaan di Polsek Lolak.

Dari hasil interogasi awal, pelaku terbawa emosi ketika diminta Astri sebagai kepala sekolah di tempat belajar putrinya, untuk membuat surat pernyataan terkait sang putri yang diduga mengunggah alat tes kehamilan sehingga menyebabkan kehebohan di area sekolah.

Namun tersangka menolak menandatangani surat pernyataan tersebut hingga emosi lebih berkuasa dibandingkan akal sehatnya dan melakukan aksi penganiayaan kepada korban dengan menggunakan sebuah meja kaca.

Joni Sengkey, suami korban yang ditemui di RSUD Prof Dr RD Kandou untuk menemani sang istri menjalani perawatan mengaku tidak habis pikir dengan tingkah laku Meidy terhadap Astri. Padahal semua berawal dari masalah yang sangat sepele, namun pelaku seolah mau menghabisi istrinya.

“Ini masalah sepele, tapi dia sepertinya hendak membunuh istri saya,” ujar Joni yang mengungkapkan hubungan keluarganya dengan Meidy tergolong dekat. “Jarak rumah kami sekitar 300 meter. Dia juga sering minta tolong pada saya,” tambah pria yang berprofesi sebagai Sangadi Desa Labuan Uki.

Lebih lanjut, Joni menjelaskan seperti apa sosok Meidy yang kerap meminjam uang kepada istrinya tersebut, yang ternyata merupakan residivis kasus pembunuhan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pelaku menunjukkan perubahan sikap ke arah yang lebih baik dengan rajin pergi ke gereja.

Namun ada satu hal dari semua tindakan yang dilakukan pelaku penganiayaan yang terlihat masuk akal di mata Joni, yakni sang istri beberapa kali menyita ponsel milik putri Meidy karena menyimpan tontonan tak senonoh bagi anak di usia mereka.

“Di dalamnya ada tontonan p0rno,” tutur Joni yang berharap Meidy mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya tersebut. “Mudah-mudahan istri saya yang terakhir, jangan ada lagi guru yang jadi korban,” pungkasnya.