Sanksi Tegas! Anak Gadis Hamil di Luar Nikah, Orang Tua Kena Denda Seumur Hidup


SURATKABAR.ID – Warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali memiliki sanksi tegas bagi orang tua yang anak gadisnya hamil di luar nikah. Hamil di luar nikah merupakan pantangan bagi warga desa tersebut, sehingga kalau sampai ada yang berani melakukannya, maka hukum adat istiadat setempat akan menindak tegas dengan cara pemberian sanksi yang telah ditetapkan secara turun-temurun.

Seperti dilansir dari laporan JawaPos.com, Senin (12/02/2018), Desa Adat Tenganan Pegringsingan terhitung merupakan salah satu desa tua di Pulau Dewata. Sejak dulu, desa yang dikelilingi bukit ini terbilang konsisten dalam mempertahankan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana sendiri merupakan falsafah hidup yang Harmonis dengan Tuhan, Alam Sekitar, dan Sesama Manusia.

Desa ini juga masih menjaga budaya dan adat leluhurnya. Warga desa tersebut tetap tunduk terhadap aturan adat setempat. Hal ini terlihat sewaktu para wartawan menyambangi Tenganan Pegringsingan. Tampak puluhan krama desa tengah berkumpul di rumah Klian Desa Adat Tenganan, Ketut Sudiastika.

Sebagian besar kaum laki-laki menggunakan pakaian sehari-hari khas sana yakni kain motif kamen dan tanpa baju. Mereka juga menggunakan udeng—yaitu penutup kepala dari kain yang merupakan bagian dari kelengkapan sehari-hari pria di pulau Jawa (iket/ totopong) dan Bali.

Nampah Dandan Beling

Dalam kunjungan tim media saat itu, Kamis (11/5/2017), warga di sana sedang memusatkan upacara di rumah Sudiastika. Ritual tersebut dinamakan Nampah Dandan Beling. Tradisi apakah ini?

“Oh ini adalah upacara karena ada warga mempunyai anak perempuan hamil di luar nikah,” jawab Sudiastika. Kepada tim jurnalis, yang bersangkutan pun menganjurkan agar media menggali info lebih lanjut dari Klian Desa Adat lainnya, yakni I Wayan Sudarsana.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan, desa tua ini mempunyai enam desa adat. Hal ini tak sama dengan desa lainnya di Bali—yang pada umumnya hanya dipimpin oleh satu klian. Sudiastika sendiri dikenal sebagai klian adat pertama dari enam klian lainnya, sehingga tradisi upacara pun dilangsungkan di tempatnya.

I Wayan Sudarsana Klian Desa Adat Tenganan Pegringsingan mengungkapkan, kata nampah itu berarti ‘menyembelih’ atau ‘memotong’. Sedangkan dandan artinya ‘denda’ atau ‘sanksi’.

“Kalau beling tak perlu dijelaskan, pasti sudah tahu. Artinya ‘hamil’,” tutur Sudarsana dengan ramah.

Bisa dibilang, upacara tersebut merupakan ajang untuk memohon pengampunan karena ada wanita hamil di luar nikah di desanya. Upacara ini digelar tiap tahun, tepatnya pada sasih kapat berdasarkan kalender desa setempat.

Sudarsana lantas menambahkan dengan nada serius, bahwa di desa setempat—sama seperti tempat kebanyakan yang beradat Ketimuran lainnya—adalah pantang untuk hamil di luar nikah. Jika sampai terjadi, maka orang tua si perempuan harus membayar denda. Jumlahnya memang tak begitu besar. Dulu, dendanya berupa dua keteng uang kepeng. Setelah zaman semakin modern, denda dikonversi menjadi Rupiah. Besarannya Rp 1000 (seribu Rupiah). Nominal ini dibayar tiap tahun seumur hidup oleh orang tua wanita yang bersangkutan.

“Kecil kan? Cuma seribu Rupiah. Tapi sanksi moralnya itu yang berat. Malu ketahuan desa. Berarti orang tua ini tidak bisa menjaga anak gadisnya,” tegas Sudarsana.

Sebagai orangtua, mereka harus menjaga anak gadis mereka agar tak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan awig-awig yang telah tersirat di lontar. Tradisi ini juga merupakan bentuk introspeksi bagi krama lainnya. Demikian dikutip dari laporan Bali.Tribunnews.com.

“Dendanya tidak seberapa. Sanksi moralnya tidak bisa hilang sampai kapan pun. Setiap tahun tradisi ini pasti digelar,” tambah Sudarsana.

Denda ini hanya berlaku untuk orang tua yang mempunyai anak gadisnya hamil sebelum menikah, dan pada akhirnya menikah dengan laki-laki satu desanya. Hanya saja, hal ini tidak berlaku bagi wanita hamil di luar nikah yang pada akhirnya menikah dengan laki-laki dari luar desa atau wanita hamil tidak ada mengakuinya.

“Mempelai diminta jujur, sudah hamil apa belum. Kalau hamil, ya, denda. Tidak berani bohong,” lanjutnya kemudian.

Selain membebankan denda terhadap orang tua si anak gadis, hamil di luar nikah ini juga membuat desa setempat menggelar upacara yang disebutnya Nampah Dandan Beling tersebut. Seperti yang dihelat pada Kamis (11/05/2017). Krama desa adat kemudian memotong seekor babi. Syaratnya, babi itu harus hitam dan mulus. Tak boleh cacat.

Kelak, daging babi ini akan dihaturkan ke semua pura di sana. Usai ngaturang daging babi lengkap dengan bantennya, krama adat ini akan makan bersama dengan menu daging babi berbagai jenis olahan.

“Nanti kalau ada sisa, dibagi lagi, bawa pulang. Babinya dibeli desa adat,” tukas ayah Jegeg Karangasem 2014, Ni Putu Eka Agustini, tersebut. Mengakhiri penuturannya, Sudarsana juga berharap agar kasus hamil di luar pernikahan ini berangsur menurun.