Sadis, Warga Rohingnya ‘Disiksa’ Begini Hingga Menderita Oleh Kelompok HAM Myanmar


foto: Jawapos

SURATKABAR.ID – Pemerintah Myanmar dengan sengaja mengondisikan warga Rohingya supaya menderita kemudian pindah menuju ke negara lain. Warga Rohingya lantas dibiarkan agar hidup kelaparan. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Amnesty International pada beberapa hari lalu.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) itu pun menyatakan, akan terus berlanjut pemusnahan etnis terhadap orang Rohingya itu. Kurang lebih 690.000 di antaranya sudah pergi meninggalkan Myanmar sejak negara itu melancarkan tindakan keras tersebut pada bulan Agustus lalu, demikian dilansir dari Jawapos.com.

Pihak keamanan sebenarnya sudah mencegah keluarga Rohingya agar tak kabur dari Myanmar. Tetapi, penduduk Rohingya pun tetap memaksa untuk kabur. Menurut pengakuan masyarakat Rohingya, mereka terus berusaha melarikan diri dari negara itu alasan utamanya yakni kekurangan makanan.

Baca juga: Mengejutkan, Hasto Sebut Habib Rizieq Pernah Bilang Banyak Anak Keturunan PKI di FPI

“Kami tidak bisa mendapatkan makanan, itu sebabnya kami melarikan diri,” kata Dildar Begum, 30, dari sebuah desa yang terletak di dekat Kota Buthidaung, Rakhine.

Penyebab kekurangan pangan ini sebagian besar karena tindakan dari pasukan keamanan Myanmar. Mereka memblokir warga Rohingya agar tak mengakses sawah, pasar, serta bantuan kemanusiaan mereka.

“Tindakan yang disengaja oleh Myanmar untuk membuat orang Rohingya kelaparan,” ungkap Amnesty Internasional.

Temuan Amnesty ini berdasarkan pada wawancara di Bangladesh yang dilakukan dengan 11 orang Rohingya serta delapan wanita yang telah meninggalkan rumah mereka pada Desember dan Januari.

Baca juga: Masalah Banjir Tak Kunjung Usai Bikin DPRD DKI Paham Kenapa Anies Dulu Dipecat Jokowi

The Associated Press awal bulan ini menemukan bukti yang memperlihatkan bahwa ratusan orang Rohingya sudah dibantai saat akhir Agustus oleh pasukan keamanan Myanmar, mereka pun dimakamkan di kuburan masal.

Menurut Utusan Khusus PBB untuk HAM yang ada di Myanmar, Yanghee Lee, pada pembunuhan serta pembuangan mayat itu ada ciri genosida. Tentara Myanmar pun mengakui kalau mereka telah membunuh 10 orang Rohingya, yang mana jasadnya ditemukan di dalam sebuah kuburan masal pada akhir tahun lalu.

Adanya pengakuan itu usai berbulan-bulan bantahan diberikan atas kesalahan atau penganiayaan yang dilakukan terhadap kelompok minoritas Rohingya.