Waduh! Iran Tangkap 29 Wanita karena Tak Pakai Jilbab


SURATKABAR.ID – Wanita yang melanggar aturan wajib penggunaan jilbab ditindak keras oleh Iran. Setidaknya, 29 wanita ditangkap karena tak mengenakan jilbab pada hari Jumat (01/02/2018) waktu setempat. Tak ayal hal ini pun dikritik keras oleh para aktivis dan kelompok hak asasi manusia.

Melansir laporan JawaPos.com, Senin (05/02/2018), kantor berita Tasnim mereportasekan kejadian tersebut. Penangkapan—menurut Polisi Teheran—dilakukan karena para wanita tersebut dianggap telah mengganggu keamanan publik.

Lebih lanjut, sejak 1979 Iran telah menetapkan pemakaian jilbab sebagai aturan wajib bagi perempuan di sana. Penetapan aturan ini diresmikan bertepatan dengan usainya momen revolusi Iran oleh Ayatollah Khomeini. Ratusan ribu perempuan Iran memprotes undang-undang tersebut selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa minggu terakhir, usai unjuk rasa yang terus-menerus terjadi di negara ini, para wanita kembali menentang undang-undang yang mewajibkan mereka memakai jilbab. Bahkan pada sebuah demonstrasi, para perempuan melepaskan jilbab mereka di depan umum dan melambaikannya pada kayu seperti bendera.

Baca juga: Heboh! Bola Api Terbang di Langit Peru Disebut UFO Milik Alien

Holly Dagres yang merupakan seorang analis Iran-Amerika mengungkapkan, Pemerintah Iran sangat sadar bahwa lebih dari separuh penduduknya menentang penggunaan jilbab.

“Ini terbukti dengan fakta bahwa polisi moral terus-menerus berpatroli di jalanan kota-kota besar seperti Teheran,” ujar Dagres seperti dikutip dari Al Jazeera.

Kampanye White Wednesdays

Diketahui, seorang aktivis dan jurnalis Iran asal AS yang diasingkan bernama Masih Alinejad telah memulai kampanye melawan kewajiban berjilbab ini. Ia memulai kampanye White Wednesdays sejak 17 Mei 2017. Kampanye ini bertujuan untuk mendorong wanita agar mengenakan hijab putih atau melepasnya sebagai bentuk protes.

Ia dikabarkan juga merasa kecewa atas sikap Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif yang tetap diam meski ada penangkapan para wanita tak berjilbab tersebut.

“Pada 2014, kepolisian Iran mengumumkan mereka telah memperingatkan, menangkap, dan mengirim ke pengadilan 3,6 juta perempuan karena tak mengenakan hijab dengan semestinya. Jadi penangkapan ini bukan hal baru, jika rakyat melakukan protes karena adanya tindakan keras semacam ini,” ujar Alinejad, mengutip reportase Kompas.com.

Belakangan, pemerintah Iran kemudian menuduh Masih Alinejad telah menerima uang dari negara asing untuk membiayai dua kampanye  antihijabnya.

Namun Alinejad membantah tuduhan tersebut dan mengatakan, meski dia bekerja untuk Suara Amerika (VOA) yang didanai Pemerintah AS, dia tak pernah menerima uang untuk membiayai aktivitasnya.

Sementara itu, menurut keterangan dari Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Iran, dikatakan ada seorang perempuan yang juga menentang kewajiban berjilbab, dan ia telah dipindahkan ke sebuah penjara di sebelah selatan Teheran. Wanita itu ditahan dengan uang jaminan sebesar USD 135 ribu.

Di sisi lain, Kepala Jaksa Penuntut Iran, Mohammad Jafar Montazeri mengecam aksi perlawanan terhadap aturan kewajiban berjilbab. Menurutnya, aksi demonstrasi tersebut merupakan tindakan yang kekanak-kanakan dan emosional. Selebihnya, ia juga orang-orang luar Iran menghasut gerakan tersebut.

Diketahui, para wanita dari berbagai penjuru Iran yang mengikuti aksi protes ini naik ke atas boks jaringan telepon dan melepas hijab mereka, lalu melambai-lambaikannya kemudian menjadi viral.

Salah satu foto aksi unjuk rasa tersebut berasal dari kota Mashhad. Foto itu memperlihatkan seorang wanita berhijab berdiri di atas kotak gardu jaringan telepon sambil memegang hijabnya—sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan protes ini.

Pada Kamis (01/02/2018), aparat kepolisian menyebutkan, para peserta kampanye antihijab ini merupakan korban hasutan dari luar Iran melalui televisi satelit.

“Menyusul seruan dari sebuah stasiun televisi satelit dengan nama kampanye White Wednesdays, 29 perempuan yang memutuskan melepas hijab telah ditangkap,” seperti dikabarkan kantor berita Tasnim.

Aksi unjuk rasa ini dikabarkan juga telah menjadi berita utama Shargh—sebuah harian berhaluan reformis, dengan judul “Reaksi terhadap dilepasnya hijab di jalan raya”.

Soheila Jolodarzadeh, seorang wanita anggota parleman Iran, menuturkan, unjuk rasa semacam ini merupakan masalah waktu.

“Kondisi ini terjadi karena pendekatan kita yang salah,” ujar Soheila Jolodarzadeh, seperti dikutip kantor berita Ilna.

Baca juga: Membanggakan! Mantan Penyanyi Cilik Tasya Wakili Indonesia di Acara PBB

“Kita memberikan berbagai larangan terhadap perempuan dan membuat mereka hidup di bawah kekangan yang tidak perlu. Itulah sebabnya para gadis ini mengibarkan hijabnya,” tukasnya menambahkan.