Tak Disangka! Bukan Cuma Menguap, 6 Kebiasaan Ini Juga Menular


SURATKABAR.ID – Setelah melihat orang di sekitar Anda menguap, beberapa waktu kemudian, seolah tertular, Anda pun menguap. Pernah mengalaminya? ‘Latah’ yang Anda alami tersebut adalah wajar. Bukan suatu kebetulan ketika kita merespon dengan ikut menguap setelah melihat orang lain menguap. Layaknya penyakit menular, ternyata ada beberapa kebiasaan dan juga perilaku tertentu yang mudah ditirukan oleh orang lain. Apa penyebabnya?

Dalam ranah Psikologi, kondisi ini disebut sebagai behavioral contagion atau ‘perilaku menular‘. Seperti yang dilansir dari laman Hipwee.com, Sabtu (03/02/2018), otak kita sudah terhubung dengan interaksi sosial dan ikatan. Sehingga dengan demikian, kita meniru tindakan orang lain sesuai apa yang kita lihat karena itu merupakan cara alamiah untuk menunjukkan bahwa kita berempati dan memahami perasaan orang lain.

Perilaku menular ini bukan hanya mitos yang kebetulan terjadi. Mengutip laman Huffington Post, rupanya masih ada lagi tindakan lain yang dapat menular dengan sangat cepat selain menular. Apa saja? Simak beberapa perilaku yang tingkat kecepatan penularannya bahkan lebih kencang daripada virus ini.

1. Menguap

Menguap merupakan perilaku menular yang umum terjadi di sekitar kita. Penyebabnya pun tak jauh dari kedekatan hubungan sosial. Menguap adalah suatu cara untuk menghirup oksigen ke dalam aliran darah saat lelah.

Baca juga: Wanita Misterius Teriak-teriak Soal Zumi Zola dan Jokowi di Depan Gedung KPK

Di sisi lain, teori lainnya mengungkapkan bahwa menguap berfungsi sebagai mekanisme untuk mendinginkan otak. Namun terlepas dari semua itu, tak banyak yang tahu, bahwa ternyata hanya manusia dan sebagian kecil hewan cerdas saja yang bisa ketularan menguap.

Diungkapkan oleh beberapa penelitian, penularan aktivitas menguap ini berkaitan dengan kedekatan hubungan antara orang yang pertama menguap dengan yang ditularinya.

Sebuah studi lain menuturkan bahwa wanita—yang dinilai punya rasa empati tinggi—lebih mudah ketularan menguap dibanding pria. Mendukung studi sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa umumnya para penyandang autisme tak bisa ketularan menguap. Begitu juga dengan psikopat. Hal ini dikarenakan baik penyandang autisme maupun psikopat tidak mampu merasakan empati.

Selain itu, anak-anak juga tak akan tertular menguap hingga usia 4 tahun. ini dikarenakan menginjak usia tersebut barulah mereka mulai berkembang secara sosial.

2. Tersenyum

Kita semua tentu pernah mendengar ungkapan ‘Tersenyumlah, maka dunia akan tersenyum bersamamu’. Ternyata ungkapan ini ada benarnya karena faktanya tersenyum juga bisa menular.

Contohnya, ketika kita tengah bersama dengan seseorang yang tersenyum, ekspresi dari wajahnya seolah mengatakan ‘cobalah’ untuk merasakan emosi yang sama. Maka secara otomatis, kita akan ‘mencoba’ hal tersebut melalui ekspresi wajah yang juga tersenyum, untuk mengetahui apa yang bisa kita rasakan dari aktivitas itu.

Fenomena natural ini dinamakan ‘mimikri wajah’ yang menjadikan kita berempati kepada seseorang dan ikut menyelami emosi yang orang lain rasakan, lalu menerapkannya pada diri kita sendiri.

3. Tertawa

Layaknya tersenyum, rupanya tertawa juga bisa dengan mudahnya menular ke orang lain. Berdasarkan hasil riset, otak kita merespon suara tawa dan secara otomatis ikut melakukannya—bahkan di saat kita sedang tidak mendengar sebuah lelucon atau terlibat dalam percakapan maupun melihat orang yang bertingkah lucu sekalipun.

Sophie Scott selaku ahli saraf di University College London menyebutkan, sewaktu kita berbicara kepada seseorang, seringkali kita meniru perilakunya. Kita juga meniru kata yang dipakainya. Dan kita bahkan meniru gesture (bahasa tubuh) yang dipakainya.

Rupanya, hal tersebut ternyata juga berlaku untuk aktivitas tertawa. Kendati hal ini tak selalu bekerja kepada orang lain, namun otak kita akan selalu merespon tawa dengan tertawa pula. Kemampuan kita dalam menahan ataupun meneruskan impuls tertawa itu pada akhirnya menjadi perilaku lain yang tentu kadarnya berbeda di setiap orang.

4. Cemberut

Tak disangka, energi negatif juga bisa menular! Saat melihat orang lain cemberut, tak jarang kita pun akan ikut cemberut. Dengan demikian, mimikri wajah tak hanya terjadi saat kita tersenyum ataupun tertawa. Peniruan juga terjadi di saat kita cemberut.

Coba perhatikan contoh mudahnya—seperti saat teman kita sedang sedih, kita tentu tak akan bisa mempertahankan ekspresi senang yang kita ‘pasang’ meski suasana hati kita sebenarnya memang sedang senang.

Sejatinya, meski kita tak akan 100 persen cemberut saat orang lain menunjukkan wajah muram, tapi ada kemungkinan gerakan otot wajah kita akan mengarah menjadi cemberut juga.

Tak hanya cemberut, ekspresi meringis dan menyeringai pun ternyata bisa ditularkan.

5. Menggigil

Sewaktu melihat orang lain yang menggigil kedinginan, besar kemungkinan kita pun akan merasakan hal yang sama. Bahkan meski sebetulnya kita tidak sedang kedinginan.

Ternyata, bukan cuma ekspresi wajah saja yang bisa ditularkan. Apa yang kita rasakan juga bisa menular. Hal ini diungkapkan dalam hasil penelitian neuropsikiatri di Brighton and Sussex Medical School yang dimuat dalam jurnal PLOS One. Riset tersebut membuktikan bahwa temperatur juga bisa ditularkan.

Studi ini menunjukkan bahwa ketika partisipan melihat video di mana tangan seseorang dimasukkan ke air dingin, temperatur tangan partisipan akan seketika menurun. Dengan demikian, ‘penularan temperatur’ memang ada.

Semakin besar empati kita pada seseorang, makin besar pula penurunan suhu yang kita rasakan. Lagi-lagi, tingkat empati menentukan penularan sebuah perilaku. Namun uniknya, suhu yang hangat ataupun panas malah tidak memiliki efek penularan yang sama.

6. Bully di Tempat Kerja

Inilah yang paling tak disangka-sangka. Selain cemberut, hal negatif lain yang bisa menular adalah perundungan (bully) di tempat kerja. Ternyata, bersikap tak sopan pada rekan kerja bisa memengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Sebuah studi di tahun 2015 dari University of Florida menemukan bahwa saat seseorang mendapatkan perilaku kasar di sebuah tempat kerja, maka ia akan cenderung mempraktikkan kekasaran tersebut di tempat kerja baru nantinya, ketimbang mengambil sisi positifnya (pernah dengar istilah hurt people hurting people?).

Sayangnya, kebanyakan orang awam menganggap hal-hal semacam ini merupakan hal lumrah yang ujung-ujungnya malah menjadi kebiasaan.

Trevor Foulk selaku kepala dari penelitian ini menyatakan bahwa banyak orang menoleransi hal ini secara umum. Padahal, tentu saja hal ini berbahaya. Menurutnya, tempat kerja adalah tempat yang efek negatifnya paling tinggi jika terjadi keributan di dalamnya.

7. Mengambil Risiko

Jika orang-orang di sekitar kita tergolong berani mengambil risiko, maka bukan tak mungkin juga bagi kita untuk melakukannya. Demikian juga hal ini berlaku sebaliknya. Bukan tak mungkin kita akan berani mengambil risiko jika orang lain juga sudah melakukannya.

Mengambil resiko itu menular. Sedikit banyaknya, fakta ini memperjelas mengapa seringkali anak-anak muda melakukan hal bodoh yang di luar batas. Lihat dulu, barangkali ia tengah tertulas perilaku temannya.

Berdasarkan temuan dari sebuah studi yang dilakukan oleh para ahli saraf di California Institute of Technology, diketahui bahwa setelah kita melihat orang lain melakukan hal yang berbahaya dan berisiko tinggi, kita akan lebih cenderung menoleransi risiko tersebut.

Ambil contoh, saat kita berhenti di lampu lalu lintas. Mungkin awalnya kita tak mau melanggar lampu merah. Namun setelah melihat seseorang yang menerjangnya dan masih aman-aman saja, jadi timbullah rasa ketertarikan untuk mencobanya juga. Yang lebih mengejutkan, rupanya hal ini juga berlaku untuk perilaku b*unuh diri yang belakangan makin marak terjadi.

Kesimpulannya, dengan melihat fakta bahwa memang ada beberapa perilaku yang berpotensi menular ke orang lain, sudah seyogyanya kita menebarkan ekspresi maupun perilaku yang positif.

Baca juga: Merasa Tak Sanggup, Sandiaga Serahkan Pembangunan Stadion untuk Persija ke Pihak Swasta

Sebisa mungkin, usahakan untuk meminimalisir hal-hal negatif di dalam kehidupan bermasyarakat. Karena pasalnya, energi positif yang kita dapat dari orang lain dapat mengubah hidup kita menjadi positif pula, begitupun halnya dengan energi negatif. Karena hal ini juga berlaku dua arah, yuk lebih terapkan perilaku dan cara hidup yang positif.