Kisah Taksi Online yang Gunakan “Tuyul” untuk Raup Keuntungan, Seperti Apa?


SURATKABAR.ID – Hebohnya kasus keberadaan aplikasi “tuyul” yang diprakarsai oleh sopir taksi online memang masih hangat dibicarakan. Tersangka berinisial FA akhirnya membeberkan kasus aplikasi “tuyul” alias pembuat order fiktif taksi online. Menurut pengakuannya, ia meraup untung banyak tanpa harus repot-repot mengantarkan penumpang dengan menggunakan aplikasi tersebut.

“Sebulan saya bisa dapat Rp 10 juta,” ungkapnya sewaktu ditemui di Mapolda Metro Jaya, Kamis (01/02/2018). Demikian seperti dilansir dari laporan Kompas.com, Sabtu (03/02/2018).

Menurut FA, dengan menggunakan aplikasi tuyul itu, dalam sehari, ia dapat membuat lima hingga enam order fiktif dalam rentang waktu pukul 14.00 hingga pukul 16.00. singkatnya, hanya butuh waktu dua jam.

Hal itu bisa dilakukannya sebab para pengguna aplikasi tuyul umumnya mempunyai lebih dari satu ponsel yang dapat dijalankan bersamaan. Pemilihan waktu beraksi pun bukan tanpa sebab.

Baca juga: Mencengangkan! Survei Buktikan Mayoritas Responden Ingin Presiden Selain Jokowi

“Itu kan jam-jam banyak pelanggan, pas bonusnya gede. Pas cuaca buruk dan tarif mahal pun kami bisa tetap beraksi. Kami juka bikin order yang jaraknya jauh-jauh. Penentuan lokasi awal, kami pakai aplikasi fake GPS,” beber FA, seperti dikutip dari reportase GridOto.com.

Ia melanjutkan, keuntungan tersebut jauh lebih besar bila dibandingkan dengan sebelum menggunakan aplikasi pembuat order fiktif tersebut.

“Dulu saya kan mitra taksi online, saya enggak punya mobil, lalu sewa sehari Rp 200.000. Belum lagi beli bensinnya. Buat narik 6 penumpang (6 perjalanan) butuh waktu seharian,” ungkapnya kemudian.

Dengan menggunakan aplikasi tuyul, para sopir taksi online ini tak perlu repot-repot melayani pelanggan. Mereka tinggal membuat order fiktif, lalu order tersebut diterima dirinya sendiri dengan akun lain. Alhasil secara otomatis kendaraan yang terlihat pada GPS di aplikasi bergerak seolah-olah tengah melayani penumpang.

Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Antonius Agus Rahmanto menyebutkan, para pengguna aplikasi pembuat order fiktif ojek ataupun taksi online mempunyai perkumpulan.

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Inilah Jejak Sejarah Operasional Becak Ibu Kota Sejak 1936 Hingga Kini

Masih dituturkan oleh FA, terbentuknya perkumpulan tersebut tak ada yang mengoordinasi. Atas dasar kesamaan nasib, para mitra ojek online tersebut berkumpul dan terbentuk begitu saja secara spontan.