Tak Kalah Romantis dari Habibie-Ainun, Begini Kisah Cinta Pak Harto dan Bu Tien


SURATKABAR.ID – Presiden Soeharto dikenal sebagai salah satu pemimpin yang membawa banyak perubahan bagi Indonesia. Dikenal sebagai pemimpin yang handal, ternyata Pak Harto punya kisah cinta romantis yang tak diketahui banyak orang.

Pak Harto dan istrinya, Siti Hartinah yang akrab disapa Bu Tien, punya kisah cinta romantis yang tak kalah manis dengan kisah BJ Habibie dan istrinya, Ainun.

Hingga akhir nafas, hanya ada satu wanita di hati Soeharto. Begitu pula dengan Tien, hanya satu pria yang ada di hatinya.

“Kami, istri saya dan saya, memang sama-sama setia, saling mencintai, penuh pengertian, dan saling memercayai,” kata Soeharto, seperti dilansir tribunnews.com.

Baca juga: Whew Bikin Salfok! Puteri Indonesia 2013 Gelar Bridal Shower, Netizen: Kuenya Jijik Begitu

Sebenarnya, Harto dan Tien sudah saling kenal sejak kecil. Mereka bersekolah di satu SMP di Wonogiri, Jawa Tengah. Di sekolah, Tien merupakan adik kelas Harto dan sekelas dengan sepupu Harto, Sulardi.

Harto sebenarnya tak pernah menunjukkan tanda-tanda naksir kepada Tien. Justru Tien yang sempat mengatakan pada Sulardi bahwa ia nanti akan jadi kakak ipar Sulardi.

Namun, kisah mereka sempat terhenti setelah lulus sekolah. Harto melanjutkan ke PETA, sementara Tien aktif di Laswi (Laskar Wanita) dan PMI.

Namun, suatu hari di tahun 1947, Harto yang berusia 26 tahun bertandang ke rumah paman dan bibinya di Yogyakarta. Mereka adalah keluarga Prawiro yang telah lama mengasuhnya.

Saat itu, bibi Harto menawarinya untuk segera menikah. Namun, Harto sempat ngeles dan beralasan masih ingin konsentrasi di dunia militer. Setelah berulangkali dibujuk, Harto pun luluh. Dia menanyakan, gadis mana yang akan dijodohkan dengan dirinya.

“Masih ingatkah kamu dengan Sri Hartinah,” jawab sang bibi, seperti dikisahkan dalam buku Falsafah Cinta Sejati Bu Tien dan Pak Harto.

Harto tentu ingat betul dengan wanita itu. Adik kelas manis yang selalu mengolok-olok sepupunya sebagai adik ipar. Namun, mendadak nyalinya ciut. Tien merupakan putri dari RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmati Hatmohoedojo, wedana dari Kraton Mangkunegaran, Surakarta.

Ia merasa tak pantas karena merupakan orang biasa. Sedangkan Tien berasal dari keluarga ningrat. Namun, sang bibi meyakinkan Harto. Apalagi, Tien sempat membuat pusing keluarganya karena berkali-kali menolak lamaran pria yang meminangnya.

Keluarga Prawiro dan Harto akhirnya mendatangi rumah Keluarga Soemoharjomo di Solo. Tak disangka, pinangan dari Harto diterima dengan baik oleh keluarga ini.

Baca juga: Tak Disangka! Soeharto Ternyata Sering Menyamar Ketika Blusukan

26 Desember 1947, Harto dan Tien menikah. Resepsinya sangat sederhana dan tak dihadiri banyak tamu. Meski awalnya sempat ragu dan ciut, ternyata cinta datang karena terbiasa.

“Perkawinan kami tidak didahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda di tahun delapan puluhan sekarang ini. Kami berpegang pada pepatah, ‘witing tresna jalaran saka kulina’,” tutur Pak Harto.

Perjalanan cinta keduanya memang berliku. Apalagi, kala itu perang masih sering terjadi. Namun, mereka hidup berdampingan selama 49 tahun lamanya.

Bu Tien meninggal pada tahun 1996. 12 tahun kemudian, Pak Harto menyusul kekasih hatinya untuk kembali bersama.