Kenali Gangguan Hipoaktif dalam Kehidupan Bercinta, Atasi Segera!


SURATKABAR.ID – Dalam kehidupan bercinta, tak hanya pencapaian klimaks saja yang kerap menjadi masalah. Beberapa gangguan hasrat seksual seperti hipoaktif atau yang sering disingkat HSDD (hypoactive sexual desire disorder) rupanya juga menjadi salah satu faktor pengganggu. Gangguan hasrat seksual hipoaktif (HSDD) adalah gangguan pada hasrat wanita untuk mencapai klimaks.

Seperti dikutip dari laman Grid.ID, Sabtu (27/08/2018), hipoaktif adalah kebalikan dari hypers*ex. Dengan demikian, wanita yang mengalami gangguan ini memiliki hasrat bercinta yang sangat rendah.

Lebih lanjut, seperti dikutip dari laman DailyMail berikut adalah penjelasan terkait disorder ini.

Jika gangguan hasrat ini tidak segera ditangani, maka tekanan yang disebabkan bukan hanya akan menimpa pada penderitanya saja, melainkan juga pada pasangannya.

Baca juga: Orang Indonesia Wajib Tahu! Ini 10 Fakta Tentang Kawasan ‘Cincin Api’ yang Kini Makin Aktif

Gangguan hasrat bercinta diderita hingga 40 persen wanita di beberapa titik di Amerika dan Inggris. Lantas apa penyebabnya?

Sayangnya, para ahli mengungkap penyebab terjadinya gangguan ini sangatlah kompleks. Perubahan hormonal saat menopause atau kehamilan juga bisa menjadi salah satunya.

Selain itu, kondisi kesehatan mental seperti depresi dan tekanan emosi juga bisa menjadi penyebab gangguan ini.

Masalah hasrat ini bisa segera diatasi dengan cara dengan mengonsultasikannya ke terapis seksologi.

Umumnya, terapi hormonal seperti pengobatan berbasis esterogen atau progesteron mungkin juga bisa dilakukan. Akan tetap terapi testoteron tidak disetujui untuk kaum wanita di AS.

Ciri-Ciri Penderita HSDD

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dijadikan patokan untuk mengetahui tanda-tanda seorang wanita menderita HSDD atau li*bido rendah.

Melansir laman Newsmax.com via Vemale.com, tanda pertama wanita dengan HSDD atau li*bido rendah adalah ketidaktertarikan untuk melakukan hubungan s*eks.

Umumnya, hal ini normal terjadi pada sebagian besar wanita. Namun yang membedakannya adalah wanita dengan HSDD akan sama sekali tidak terangsang saat dirangsang di area wanita yang umumnya mudah terangsang.

Wanita dengan HSDD akan terlihat sama sekali tak punya hasrat seksual dan sama sekali tidak terangsang meskipun tanpa tekanan psikologi atau emosional. Wanita seperti ini tak bereaksi secara sehat dan normal akan keintiman.

Tanda-tanda kedua adalah perasaan jijik terhadap s*eks. Wanita penderita HSDD awalnya hanya sekedar tak suka akan hal-hal yang berbau s*eks. Namun lama-kelamaan hal tersebut menjadi semakin parah dan berubah menjadi semacam kebencian akan konsep s*eks dan aktifitas s*eks itu sendiri.

Alasan dari jenis penolakan ini bisa berasal dari faktor psikologi seperti pendidikan agama mengenai konsep s*eks yang salah, atau faktor fisik seperti adanya tumor yang tumbuh pada kelenjar di bawah otak. Kesulitan untuk mencari penyebab pasti dari penyakit ini akhirnya berdampak pula pada asumsi beberapa masyarakat mengenai tanda-tanda beragam yang bisa ditunjukan oleh penderita HSDD.

Ciri ketiga seorang wanita mengidap HSDD adalah adanya rasa sakit pada alat vitalnya selama hubungan suami istri sedang berlangsung. Rasa sakit yang dialami bisa jadi merupakan gejala dari dyspareunia atau rasa sakit yang tak biasa pada kelaminnya. Biasanya hal ini disebabkan oleh infeksi.

Tanda keempat adalah perselingkuhan atau hubungan gelap diluar perkawinan. Pasangan yang menderita HSDD kemungkinan akan memutuskan untuk hidup tanpa menjalani aktivitas seksual apapun. Bahkan, mereka juga bisa memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pasangannya dan hidup sendiri.

Sehubungan dengan masalah ini, pasangan dari wanita yang menderita HSDD kemungkinan besar akan mencari hiburan di luar atau kepuasan s*eks di luar status perkawinannya. Ketidakpuasan seksual merupakan tanda yang bisa menjadi ciri seseorang menderita HSDD.

Pengalaman s*eks yang tak memuaskan atau kurang dari harapan umumnya memicu seseorang jadi tak puas lantaran kebutuhannya akan s*eks tak terpenuhi.

Sebagai info, penderita HSDD umumnya akan menilai s*eks sebagai sesuatu yang sangat membosankan, menyakitkan dan menakutkan. Umumnya hal ini merupakan akibat dari pengalaman buruk mengenai s*eks masa lalu, seperti pernah memiliki pasangan dengan lemah syahwat, mengalami p*erkosaan, atau perlakuan s*eks kasar yang dialami pada masa kanak-kanak.

Baca juga: Terungkap! Penyebab Siswi SMP Tewas Usai Bercinta Tiga Ronde

Baik penyebab maupun tanda-tanda yang dialami penderita HSDD, kesemuanya harus mendapat perhatian penting dan juga penanganan segera yang khusus agar bisa memberikan segera ditangani dan dirawat dengan cara yang semestinya.