Misteri Kematian Pangeran Arab Saudi, Benarkah Disiksa Algojo?


SURATKABAR.ID – Kematian salah satu anggota Kerajaan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Ali bin Abdullah al-Jarasah al-Qahtani hingga kini masih menyisakan misteri. Sejumlah sumber dekat dengan penentang Arab Saudi mempertanyakan apa persisnya penyebabnya. Beberapa pihak meyakini, kematian pejabat Kerajaan itu diduga akibat disiksa oleh para algojo yang menginterogasinya.

Melansir laporan Tempo.co, Rabu (27/12/2017), pengintrograsian tersebut terjadi di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh. Berdasarkan reportase Middle East Monitor, ia ditahan di hotel supermewah tersebut lantaran tuduhan korupsi yang dialamatkan oleh Komite Antikorupsi bulan lalu.

“Kondisi kesehatan Al-Qahtani bagus dan dia tidak menderita sakit apapun selama dalam tahanan,” demikian ujar sumber yang tak bersedia disebutkan namanya itu.

Di lain pihak, laporan resmi yang dikeluarkan oleh Kerajaan mengungkapkan, dia meninggal akibat stroke mendadak. Namun keterangan tersebut ditolak oleh pihak keluarga, khususnya putra-putra Al-Qahtani. Mereka juga tidak menampik laporan bila kematian ayahnya akibat siksaan.

Baca juga: Mengejutkan! Beri Saran untuk Raffi Ahmad dan Ayu Ting Ting, Ini Kata Mbah Mijan

Kelompok hak asasi manusia internasional dan organisasi kemanusiaan mengutuk pemerintahan Arab Saudi karena melarang keluarga menemui para tahanan.

Al-Qahtani ditahan bulan lalu setelah rekannya, Pangeran Turki bin Abdullah ditahan oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi karena tuduhan korupsi terkait proyek pembangunan metro Riyadh.

Sewa Tentara Bayaran AS untuk Siksa Tahanan Koruptor?

Sementara itu, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) diduga menyewa tentara bayaran Amerika Serikat—Blackwater.

Pasukan keamanan bayaran ini diduga sengaja disewa untuk menginterogasi termasuk menyiksa dan memukuli pangeran dan pengusaha miliarder yang tertangkap dalam operasi antikorupsi di kerajaan ini.

Arab Saudi berusaha mengembalikan kekayaan negara yang konon telah hilang sebanyak US$100 miliar atau sekitar Rp 1300 triliun.

Seorang sumber di kerajaan Arab Saudi yang bercerita kepada media Daily Mail menuturkan MBS menyewa pasukan keamanan swasta Amerika, yang dikenal sebagai Blackwater.

Sekitar sebelas pangeran, empat menteri aktif dan ratusan pejabat serta mantan pejabat termasuk pengusaha miliarder negara itu ditangkap dalam pemberangusan terhadap praktek korupsi.

Seperti diketahui, sebelumnya Raja Salman membentuk Komisi Antikorupsi Arab Saudi dan menunjuk Putra Mahkota Pangeran Mohammed Bin Salman sebagai kepalanya. Mohammed memerintahkan penangkapan massal yang menjaring 208 orang, dengan tujuh diantaranya telah dilepas.

Baca juga: Heboh! Tersangkut Kasus Korupsi, Belasan Pangeran Diciduk KPK Arab Saudi

Penangkapan itu diikuti ‘interogasi’ yang menurut sebuah sumber dilakukan oleh ‘tentara bayaran Amerika’, yang disewa pangeran berusia 32 tahun tersebut, dan kini menjadi tokoh kerajaan yang paling berkuasa.