Bukan Tren Baru, Bersantap di Atas Langit Ternyata Sudah Ada Sejak Dulu

Dinner in The Sky, Sensasi Bersantap di Dekat Awan


SURATKABAR.ID – Ketika tahun 1932 di Rockefeller Center, tentu belum ada gedung yang menjulang tinggi di wilayah ini. Waktu itu, hanya ada rangka-rangka besi dan crane yang menggantung di ketinggian 840 kaki. Lalu suatu siang, 11 orang pekerja bangunan memutuskan untuk makan bersama. Mereka duduk di salah satu bongkahan besi yang terletak di level 69 pembangunan Gedung GE, gedung ternama di kawasan Rockefeller Center.

Tak hanya pekerja bangunan saja, ada tiga orang fotografer yang ada di sana yakni Charles C. Ebbets, Thomas Kelley, dan William Leftwich. Mereka hendak melakukan pengambilan gambar sebagai materi promosi untuk kompleks gedung pencakar langit di New York. Kelak, majalah Time menobatkan foto berjudul “Lunch Atop a Skycarper” sebagai salah satu foto menarik dalam 100 foto pilihan. Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Tirto.id, Senin (18/12/2017).

Tayangan dokumenter mengenai potret terkait mengungkapkan, ada kebersamaan yang tersirat di dalam gambar yang memuat orang-orang dari berbagai latar belakang tersebut. Selain berasal dari berbagai macam etnis, sebagian dari mereka ialah kaum imigran. Ekspresi tawa menjadi penanda rasa relaks dan tenang, meski tempat yang mereka duduki bisa menimbulkan bahaya. Pasalnya, memang tak ada pengaman untuk menyelamatkan diri jika kecelakaan terjadi (terjatuh).

Hingga kini, sensasi bersantap melayang di ketinggian ratusan kaki masih mungkin dirasakan. Namun tentu sudah dengan pengaman lengkap. Meski begitu, ternyata pengaman tersebut tak bisa membebaskan setiap orang dari rasa takut. Hansen, pendiri Modern Pantry Restaurant di Clekenwell, pernah mencoba pengalaman bersantap di atas crane di London dalam acara bertajuk London In The Sky.

Baca juga: Merinding! 7 Cerita Horor & Misteri yang Pernah Dialami Driver Ojek Online Ini Asli Serem Banget

Hansen duduk di kursi makan yang dilengkapi sabuk pengaman ekstra. Kursi makan nampak seperti kursi dalam wahana pemacu adrenalin di sebuah taman bermain semacam Dufan. Tak berapa lama, ia bersama sejumlah orang yang mengelilingi meja makan diangkat menggunakan crane menuju ketinggian 100 kaki. Di sana, makanan pun mulai disajikan.

“Saya tidak pernah berada di ketinggian seperti ini sebelumnya dan tidak yakin mengapa saya rela melakukan hal ini,” ujarnya kepada The Telegraph.

London hanyalah salah satu kota tujuan acara Dinner In The Sky, yang digagas event organizer milik pengusaha kuliner dan taman bermain. Di tahun 2006, mereka sepakat membuat sesi “bersantap melayang”. Acara ini dimulai di Belgia dan mengajak 22 pemilik restoran untuk menyediakan menu pada acara ini.

Konseptor acara mendesain meja makan yang bisa memuat 22 kursi. Tersedia juga ruang bagi koki kepala, sommelier, dan pelayan untuk melaksanakan tugasnya di atas langit.

Peminat terus meningkat. Hingga saat ini, acara Dinner in The Sky telah diselenggarakan di 45 negara yang meliputi beberapa negara di Tiongkok, Australia, Canada, Jepang, India, Dubai, Afrika Selatan, Brazil, Colimbia dan Meksiko. Kemasan acara pun berbagai macam mulai dari jamuan makan tematik hingga pernikahan.

“Kami bisa merancang konsep kreatif seperti Beach bar In The Sky, Opera in The Sky dengan mengundang penyanyi opera, dan Internet Cafe in The Sky. Langit selalu membuat manusia bersemangat. Kini masyarakat cenderung menginginkan sebuah pengalaman yang tak biasa. Masing-masing dari mereka punya keinginan yang berbeda dari sekelilingnya,” demikian yang tertera pada situs Dinner In The Sky.

Henshin dan Skye

Di ibu kota Indonesia sendiri, pesona terhadap pemandangan yang dinikmati dari tempat tinggi juga dapat dinikmati. Ada Henshin dan Skye yang berada di menara-menara tinggi. Di kota ini memang belum pernah diadakan jamuan makan seekstrem Dinner In The Sky. Namun, obsesi terhadap ketinggian tersirat melalui didirikannya sejumlah restoran di lantai teratas gedung-gedung pencakar langit ibukota.

Beberapa bulan terakhir, lantai paling atas Gamma Tower, gedung tertinggi di Indonesia, selalu memancarkan cahaya warna-warni setiap malamnya. Sekali waktu, ada tulisan berjalan di lampu tersebut yang merangkai kata Henshin. Tempat itu ialah restoran yang menjadi bagian dari The Westin Hotel Jakarta. Henshin terdiri dari bar di lantai 67, restoran fine dining di lantai 68, dan ruang privat di lantai 69.

Masakan di sana dibuat oleh Hajime Kasuga, koki asal Jepang yang lama menghabiskan waktu di Peru. Menu restoran tersebut merupakan percampuran masakan Jepang dan Peru. Sejak awal dibuka hingga sekarang, Henshin sudah beberapa kali menjadi tempat peluncuran koleksi terbaru lini kecantikan dan aksesori berkelas internasional seperti Gucci dan L’Occitane.

Sebelum Henshin, euforia bersantap di gedung tertinggi terjadi lantaran dibukanya Skye, restoran dan bar yang terletak di lantai 56 Menara BCA, Thamrin, Jakarta Pusat pada tahun 2012.

“Skye menjadi salah satu destinasi wisata para wisatawan yang datang ke Jakarta. Kami melihat mereka menikmati pemandangan kota Jakarta 180 derajat. Tamu kami sebagian besar berasal dari kalangan pebisnis, sosialita, dan ekspatriat. Mereka kerap datang di jam 7 malam atau jam 9 malam untuk menikmati waktu di Lounge atau menikmati pemandangan,” papar Ryan selaku humas Skye.

“Buat saya, makan di high rise building ini bukan sebuah tren,” imbuh Astrid Suryatenggara, kepala pemasaran Altitude Grill, American Steak House, yang berlokasi di lantai 46 The Plaza, Thamrin.

“Puluhan tahun lalu sudah ada restoran yang dibangun di gedung tinggi. Mungkin setiap gedung tinggi pasti ada food and beverages area. Demikian pula yang terjadi di New York, Italia, Singapura, dan Hong Kong,” lanjutnya.

 

Sekitar tiga minggu lalu, restoran tersebut baru diresmikan. Kini, reservasi terus berdatangan untuk acara malam tahun baru.

Baca juga: Terjawab Sudah! Bukan Kue dan Parfum, Bisnis Inilah yang Bikin Syahrini Tajir Melintir

“Lokasi ini sangat premium. Kita bisa langsung melihat bundaran HI. Tempat ini ramai di malam hari. Orang suka menikmati cahaya lampu ibukota dari atas,” pungkasnya.