5 Kejahatan Paling Bengis yang Dilakukan Oleh Anak-Anak


SURATKABAR.ID – Mendidik dan mengasuh anak memang tidak mudah. Terlebih di zaman yang serba modern dan berkembang seperti sekarang. Pengaruh buruk dari pergaulan, internet, televisi dan hal-hal lainnya bisa jadi terlalu kuat untuk dikalahkan. Itulah sebabnya dalam satu dekade terakhir ini kriminalitas yang dilakukan oleh anak di bawah umur kian menjamur.

Sebagai orangtua, fakta ini tentu memprihatinkan dan membuat miris. Pasalnya, setiap kita pasti akan menggambarkan anak di bawah umur sebagai sosok yang manis, lugu, polos dan patut dilindungi. Siapa sangka bahwa para manusia kecil itu sudah sanggup melakukan kejahatan paling bengis dan keji di sepanjang sejarah. Sebagai pelajaran bersama, hendaknya kita perlu lebih berhati-hati dalam membesarkan anak-anak di sekeliling kita. Jangan sampai seperti kelima anak ini yang terbukti sudah melakukan kejahatan yang terbilang sadis dan mengerikan.

Berikut adalah daftarnya, sebagaimana dilansir dari laman Liputan6.com, Minggu (10/12/2017).

1. Barry Dale Loukaitis (Washington)

Tanggal 2 Februari 1996, Barry Dale Loukaitis saat itu masih berusia 14 tahun. Dengan berpakaian ala koboi, remaja belia itu berangkat ke sekolah. Tak ada yang menyangka di hari itu, tas yang dibawa Barry ternyata tidak berisi buku dan alat tulis, melainkan sebuah senapan berburu kaliber 30 dan dua buah pistol milik ayahnya, serta 78 pak amunisi!

Baca juga: Bergerak dengan Senyap, Inilah Kisah Keberhasilan Operasi Kopassus di Tanah Papua

Barry berjalan dari rumahnya ke sekolah, kemudian dia masuk ke dalam kelas matematika yang sudah dimulai. Begitu masuk kelas, Barry menembak membabi buta, dua orang pelajar tewas seketika sementara satu orang kritis. Setelah menembak dada guru matematikanya, Leona Caires, Barry sempat menyandera seorang siswa selama kurang lebih 10 menit sebelum guru olahraga bernama Jon Lane mampu meringkusnya.

Atas perbuatannya, Barry dikenai hukuman penjara 2 kali seumur hidup dan tambahan hukuman penjara selama 205 tahun.

2. Joshua Phillips (Florida)

Tanggal 3 November 1998, Maddie Clifton yang saat itu berusia 8 tahun dilaporkan hilang. Setelah menginterogasi beberapa tersangka, polisi kemudian melepaskan mereka karena kurang alat bukti. Seminggu setelahnya, polisi mengumumkan telah menghentikan pencarian. Namun masyarakat sekitar dan sukarelawan yang berjumlah sekitar 400 orang menolak dan mereka secara gotong royong tetap terus mencari si anak hilang.

Pencarian baru benar-benar berhenti ketika ibu Joshua Phillips berupaya membersihkan kamar anaknya. Ibu yang bernama Melissa ini curiga melihat cairan keluar dari bawah kasur. Setelah kasur diangkat, betapa terkejutnya ibu ini melihat mayat Maddie ada di sana. Seketika Melissa lari keluar rumah sambil berteriak minta tolong.

Joshua yang hari itu juga ditangkap di sekolahnya, dalam penyidikan polisi mengakui telah mencekik Maddie menggunakan kabel telepon, kemudian memukulinya dengan pemukul baseball dan menusuknya 11 kali dengan pisau!

Atas perbuatannya itu, Joshua dihukum seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat karena negara bagian Florida tidak mengenal hukuman mati untuk anak dibawah umur.

3. Jon Venables dan Robert Thompson (Liverpool)

James Patrick Bulger, seorang balita berusia 2 tahun, hilang dari pantauan ibunya saat sedang berbelanja di sebuah supermarket pada tanggal 12 Februari 1993. Polisi kemudian menemukan mayatnya telah dimutilasi di sebuah rel kereta api, 4 km dari supermarket tempat dia diculik.

Sewaktu polisi menyelidiki rekaman CCTV, betapa terkejutnya mereka sewaktu melihat penculik bayi itu adalah dua orang anak berusia masing-masing 10 tahun bernama Jon Venables dan Robert Thompson. Kedua anak ini sebelumnya telah sering dipergoki mengutil permen dan mainan di supermarket itu.

Sebelum memutilasi korbannya, kedua anak ini menendang, memukul, dan melempari anak malang itu dengan batu. Dokter yang mengotopsi mayat korban menyatakan terdapat total 42 luka di sekujur tubuh korban.

Karena undang-undang di Inggris tidak mengatur hukuman penjara kepada anak dibawah umur, kedua pembunuh cilik ini hanya ditahan di rumah sakit jiwa hingga mereka berusia 18 tahun dan kemudian membebaskannya. Hingga kini keduanya menghirup udara bebas dengan identitas mereka yang baru.

  1. Mary Bell (Newcastle)

Mary Bell adalah anak dari Betty McCrickett, seorang wanita tuna susila yang melahirkannya ketika berusia 17 tahun. Siapa ayah dari Mary Bell hingga kini tidak diketahui. Sejak balita, ibunya seringkali berusaha menghabisi nyawa Mary Bell dengan cara menjatuhkannya dari jendela dan memberikannya obat tidur.

Ketika berusia 4 tahun Mary Bell mulai dijual ibunya kepada para pedofil, karena itu tidaklah heran kalau Mary Bell tumbuh menjadi anak kecil yang penuh dendam dan jahat.

Pada saat usianya 11 tahun, Mary Bell mencekik seorang balita bernama Martin Brown hingga tewas. Tiga bulan kemudian, kali ini bersama seorang anak lain bernama Norma Bell, dia mengulangi perbuatannya dengan mencekik balita bernama Brian Howe. Tak hanya dicekik, balita ini juga disayat perutnya dengan sebuah silet membentuk huruf ‘N’ yang kemudian disayatnya lagi hingga membentuk huruf ‘M’. Bayi malang ini juga dimutilasi kemaluannya.

Namun seperti juga Jon Venables, Mary Bell hanya ditahan di rumah sakit jiwa dan telah dibebaskan ketika berusia 23 tahun.

  1. Michael Carneal (Kentucky)

Pada tanggal 1 Desember 1997, tragedi penembakan terjadi di sekolah menengah Heath. Pelakunya adalah seorang anak bernama Michael Carneal yang masih berusia 14 tahun. Di hari itu, Michael membawa 2 senapan dan 1 pistol yang didapatnya dari mencuri ke sekolah. Ketika sampai di sekolah, Michael memasang earplug dan menembakkan senjatanya ke arah kerumunan anak yang sedang berdoa. Tiga anak langsung tewas seketika, sementara lima yang lain mengalami cedera serius.

Baca juga: Tragis! Balita Ini Tewas Dilindas Tronton di Gempol, Ayah-Ibunya Alami Luka-Luka

Kepada polisi, Michael menyatakan tindakannya sebagai balasan karena dia sering dibully di sekolah. Walaupun dokter menyatakan Michael mengidap paranoia akut sebagai akibat dari bullying tersebut, pada persidangan di bulan Oktober 1998, hakim mengganjarnya hukuman seumur hidup dengan kemungkinan bebas bersyarat setelah menjalani masa hukuman selama 25 tahun.