Bergerak dengan Senyap, Inilah Kisah Keberhasilan Operasi Kopassus di Tanah Papua


SURATKABAR.ID – Baik di dalam maupun di luar negeri, Pasukan Korps Baret Merah TNI Angkatan Darat kerap menuai keberhasilan dalam sejumlah penugasan. Nama satuan elite TNI AD ini mulai bersinar sewaktu masih bernama RPKAD, tepatnya ketika penumpasan G30 S PKI dipimpin Kol Inf Sarwo E Wibowo. Walau namanya kemudian berubah menjadi Puspassus AD, Kopasandha hingga Komando Pasukan Khusus (Kopassus), namun prestasi emas terus ditorehkan oleh anggota pasukan elite TNI AD ini.

Seperti dikutip dari laman Sindonews.com, Minggu (10/12/2017), dalam penugasan di Irian Barat atau Papua, jejak kekeberhasilan pasukan ini pun kerap tersimpan rapat-rapat. Ini dikarenakan misi dan tugas operasi mereka yang bersifat rahasia, sehingga mayoritas kegiatan dari satuan Kopassus tidak pernah diketahui secara menyeluruh.

Karena anggota Kopassus kerap di Bawah Kendali Operasi (BKO) serta Kodam setempat, keberhasilannya pun hanya kerap tersiar dari mulut ke mulut sesama anggota pasukan di lapangan. Salah satunya yakni sewaktu operasi pembebasan Bandara Kobagma saat masih berada di Kabupaten Jayawijaya (sekarang masuk dalam Kabupaten Membramo Tengah)—dimana sejumlah personel Kopassus berhasil melumpuhkan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menguasai bandara tersebut.

Operasi dilakukan secara senyap dan tertutup, sehingga dalam tempo singkat bandara perintis yang dikuasai OPM tersebut dapat berhasil dikuasai pasukan korps baret merah TNI AD ini dan dapat dioperasikan kembali.

Baca juga: Kisah Perang 6 Hari, Sejarah Jatuhnya Yerusalem ke Tangan Israel

Kapendam XVII/Cenderawasih Kol Inf M Aidi Nubic pun membenarkan hal ini, “Ya informasi tersebut memang benar terjadi beberapa tahun lalu. Tapi karena operasinya sifatnya tertutup jadi tidak terekspose ke luar,” tutur perwira menengah yang juga menyandang brevet Komando ini kepada tim wartawan beberapa waktu lalu.

Penyerbuan Markas OPM Dipimpin Prabowo

Salah satu prestasi yang begitu diingat dan terekspose hingga dunia internasional ialah ketika pembebasan sandera Ekpedisi Lorenz 95 yang dipimpin Danjen Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto waktu itu.

Pada 9 Mei 1996 satuan elite Kopassus menyerbu markas OPM di Desa Geselama, Mimika dengan menggunakan sejumlah helikopter Penerbad (Mobud-mobile udara). Operasi ini mengakhiri drama penyanderaan selama 130 hari.

Dalam penyerbuan ini, sembilan sandera berhasil dibebaskan pasukan Kopassus dan Satgas Rajawali BKO Kodam VIII/Trikora saat itu. Namun dua dari 11 sandera ditemukan tewas yakni Matheis Yosias Lasembu, seorang peneliti ornitologi dan Navy W Th Panekenan, seorang peneliti biologi.

Selanjutnya, prestasi kembali ditorehkan oleh 13 personel Kopassus. Pada Jumat (17/11/2017) mereka berhasil memandu sejumlah Pasukan Raider dan Tontaipur Kostrad sehingga berhasil membebaskan ratusan warga Kimbeli dan Banti, Tembagapura, Papua.

Kol Inf M Aidi Nubic menjelaskan, sebanyak 13 anggota Kopassus yang diterjunkan dalam operasi pembebasan sandera tersebut merupakan pasukan di Bawah Kendali Operasi (BKO) Kodam XVII/Cenderawasih yang telah 7 bulan berada di Provinsi Papua. Ke-13 anggota Kopassus tersebut diambil dari Grup 1 Serang, Grup 2 Kartosuro dan dari Satuan Penanggulangan Anti Teror/Gultor 81 dipimpin Lettu Inf Sukma.

Bergerak dengan Senyap

Aidi menceritakan proses pembebasan warga itu. Pasukan pemukul Kodam Cenderawasih dari Satuan Raider dan Tontaipur Kostrad yang dipandu tim Kopassus sudah bergerak ke lokasi sasaran sejak lima hari sebelumnya.

“Mereka bergerak dengan senyap, sangat rahasia pada malam hari. Lalu pada siang hari mereka mengendap. Sambil mengamati situasi hingga mereka telah mencapai sasaran pada Kamis 16 November 2017. Bahkan saat itu anggota yang tidak makan satu hari ini sudah meminta izin kepada Pangdam selaku pimpinan operasi untuk segera mengambil tindakan karena jarak mereka hanya sekitar 30-50 meter,” tutur Kol Inf Aidi.

Namun Pangdam Cenderawasih memberikan petunjuk bahwa kelompok kriminal bersenjata masih membaur dengan masyarakat sipil. Sehingga tidak boleh diambil tindakan karena operasi lebih mengutamakan keselamatan warga sipil yang tersandera.

Lalu pada Jumat pagi 17 November 2017 sekitar pukul 04.17 WIT disaat masih gelap pasukan melakukan penyerbuan di kedua kampung tersebut.

“Kurang dari 2 jam atau sekitar 78 menit seluruh medan di kamp yang sebelumnya dikuasai kelompok kriminal bersenjata berhasil diduduki Kopassus, Raider dan Tontaipur. Lalu para kelompok separatis tersebut berhamburan melarikan diri ke hutan dan gunung,” papar Kapendam.

Baca juga: Massa PKS Demo di Kedubes AS, Donald Trump Didoakan Kena Stroke!

Atas keberhasilan ini, sejumlah anggota Kopassus beserta prajurit Raider dan Tontaipur Kostrad mendapat kenaikan pangkat luar biasa di Mimika, Papua, Minggu (18/11/2017).

Penganugrahan pangkat ini diberikan secara langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang memimpin langsung upacara tersebut.