Tragis! Tenggak Racun di Ruang Sidang, Pembantai Muslim Bosnia Tewas


    SURATKABAR.ID – Slobodan Praljak; mantan jenderal yang merupakan seorang tahanan perang PBB meninggal setelah menenggak racun di ruang sidang. Dalam kejadian yang tampak seperti b***h diri tersebut, ia memproklamirkan dirinya bukan penjahat perang dan ia menolak putusan pengadilan. Kemudian ia meminum cairan mematikan dari sebuah botol. Ia melakukannya setelah mengetahui gagal naik banding dan harus menerima vonis hukumannya.

    Melansir laporan China Global TV Network, Jumat (1/12/2017), Slobodan Praljak meninggal dunia pada hari Rabu (29/11/2017) waktu setempat, sesaat setelah ia menenggak racun. Beberapa detik setelah mendengar vonisnya, Slobodan Praljak tersebut menyatakan, “Slobodan Praljak bukan penjahat perang, saya menolak keputusan pengadilan!”

    Dia kemudian minum racun dari botol kaca kecil itu dan berkata, “Saya telah meminum racun.” Hakim ketua Carmel Agius yang semula tampak kebingungan kemudian menangguhkan persidangan dan sebuah ambulans dipanggil. Praljak, tak lama kemudian langsung limbung dan terjatuh, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Namun nyawanya tak tertolong.

    Pengadilan yang dibentuk PBB untuk menggeret para penjahat perang Bosnia mengumumkan, ruang sidang dianggap tempat kejadian perkara.

    Baca juga: Dapat Nasihat dari Prabowo Subianto, Ahmad Dhani Ingin Seperti Limbad! Ini Isi Pesannya

    Polisi Lakukan Penyelidikan

    Kepolisian Belanda lantas langsung bergerak menyelidiki kematian mantan Jenderal Tentara Kroasia tersebut. Slobodan Praljak (72) meminum racun usai pembacaan vonis oleh hakim dalam Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia (ITCY) di Den Haag, Belanda.

    Jaksa Belanda, dalam sebuah pernyataan singkatnya menuturkan, penyelidikan akan fokus pada tindakan “b***h diri dan pelanggaran terhadap Undang-undang Obat-obatan”.

    Polisi juga akan menyelidiki bagaimana Slobodan Praljak bisa mendapatkan cairan mematikan yang diminumnya, termasuk apa jenis cairan tersebut, serta siapakah yang menyelundupkan racun itu kepadanya—padahal pengadilan tersebut dilengkapi dengan pengamanan ketat, demikian mengutip laman The Guardian.

    Peristiwa b***h diri Praljak bukanlah yang pertama terjadi selama persidangan di Den Haag. Slavko Dokmanovic, yang diduga melakukan kejahatan perang, juga tercatat dalam sejarah telah menggantung diri di selnya pada 1998.

    Sementara itu, di tahun 2006, pemimpin perang Serbia, Milan Babic juga b***h diri di selnya.

    Juru Bicara ICTY, Nenad Golcevski mengungkapkan bahwa Praljak “langsung jatuh sakit” usai minum racun dan meninggal di rumah sakit. Ia menambahkan, pihaknya tidak dapat mengonfirmasi apa jenis cairan yang diminum Praljak.

    “Penyelidikan independen sedang berlangsung yang telah diprakarsai oleh pemerintah Belanda atas permintaan ICTY. Kami akan bekerja sama sepenuhnya,” demikian ujar Nenad Golcevski.

    Seorang jaksa penuntut Belanda, Marilyn Fikenscher, membenarkan bahwa botol yang diminum Praljak memiliki racun mematikan di dalamnya.

    “Ada tes awal yang sudah dilakukan untuk memeriksa kandungan apa yang terdapat dalam wadah tersebut, dan yang bisa saya katakan untuk saat ini adalah memang ada zat kimia dalam wadah itu yang dapat menyebabkan kematian,” beber Fikenscher.

    Membantai Muslim Bosnia

    Seperti diketahui, Praljak merupakan Jenderal Tentara Kroasia yang dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan perang kepada warga muslim Bosnia selama Perang Kroasia-Bosnia pada periode tahun 1992-1994. Ia pun dihukum penjara selama 20 tahun.

    Usai perang ia sempat menjadi pebisinis di bidang teknik, film, dan teater. Pada tanggal 5 April 2004 ia menyerahkan diri ke otoritas Kroasia, lalu dikirim ke tempat tahanan penjahat perang milik ICTY.

    Posisinya sebagai pejabat tinggi di Kementerian Pertahanan Kroasia semasa perang membuat Praljak dipastikan terlibat dalam penyusunan strategi perang, termasuk merancang aksi pembantaian warga sipil Bosnia.

    Pada musim panas 1993 tentara Kroasia pernah mengumpulkan warga muslim di daerah Prozor, Bosnia dan Herzegovina. Pembantaian lalu terjadi, dan Praljak dituduh gagal untuk mencegahnya meski sebenarnya diberi tahu tentang rencana aksi tersebut.

    Ia juga menyerang para anggota organisasi internasional dan menghancurkan situs bersejarah bernama Jembatan Tua (Old Bridge) serta sejumlah masjid. Demikian sebagaimana dikutip dari Tirto.id.

    Meski begitu, sebagian orang menganggap Praljak adalah pahlawan mereka. Kematian Praljak pun dikenang oleh sekitar seribu orang Kroasia Bosnia yang berkumpul di Mostar dengan menyalakkan lilin pada Rabu (29/11/2017) malam waktu setempat usai berita duka Praljak diumumkan.

    “Saya datang ke sini untuk mendukung jenderal-jenderal kami dan menghormati Jenderal Praljak yang tidak dapat menanggung ketidakadilan sehingga membuat keputusan terakhirnya,” tutur seorang veteran perang Kroasia, Darko Drmac. “Dia adalah kebanggaan dan pahlawan kami.”

    Laman The Sun melaporkan ratusan orang Kroasia Bosnia menyalakan lilin di lapangan umum di seluruh negeri untuk mengenang Praljak. Foto-fotonya dipasang di dinding. Ada kehadiran polisi yang meningkat di banyak kota.

    Baca juga: Menelusuri Goli Otok, ‘Neraka Hidup’ Era Perang Dingin di Kroasia

    Sementara itu, juru bicara jaksa mengatakan sebuah otopsi akan segera dilakukan.

    Sedangkan pengacara Praljak, Nika Pinter, dikutip oleh kantor berita HINA Kroasia pada hari Kamis waktu setempat menuturkan: “Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa dia dapat melakukan hal seperti itu.”

    UN war crimes suspect died after drinking poison in court

    After losing an appeal to his prison term, Slobodan Praljak, a UN war crimes convict died after drinking poison in the courtroom. In what looked like a suicide, Praljak proclaimed: "I am not a war criminal, I oppose this conviction."

    Posted by CGTN on Wednesday, November 29, 2017