Kejam! Oknum Polisi Tega Aniaya Tukang Cukur, Ternyata Penyebabnya…


SURATKABAR.ID – Aksi kejam yang dilakukan Brigadir Edwin Rais telah mencoreng citra polisi di masyarakat.

Sebab, pria 28 tahun ini tega memukuli seorang tukang cukur bernama Sofyan Doni Kurniawan hanya karena masalah sepele.

Doni yang merupakan warga Pekon Sukamulya, Kecamatan Banyumas, Kebupaten Pringsewu, Lampung ini dianiaya di tempat usahanya.

Kejadian bermula ketika Edwin berniat memotong rambutnya agar lebih rapi. Namun, setelah rambutnya selesai dipotong, Edwin merasa tak puas dengan hasil cukuran Doni. Menurutnya, hasil cukuran Doni terlalu tipis.

Baca juga: Demi Selamatkan Jemaah Gereja, Pria Muslim Ini Meninggal Karena Peluk Bom

Namun, Doni memastikan bahwa hasil cukurannya sudah pas dan tak terlalu tipis. Tak terima dengan jawaban Doni, Edwin pun langsung mengamuk. Awalnya dia memukul kaca di depannya. Setelah itu, amukannya diarahkan pada Doni. Edwin menampar Doni berkali-kali.

Mendapat perlakuan kasar ini, Doni segera meminta maaf. Namun, Edwin yang sudah kesetanan tak menggubrisnya sama sekali. Karena permintaan maafnya tak didengar, Doni mencoba membela diri dengan menendang Edwin.

Sayangnya, aksi perlindungan dirinya ini malah membuat Edwin makin emosi. Edwin lansung mengambil pisau cukur dan mengejar Doni.

Tak berhenti disitu, Edwin kemudian pulang kerumahnya. Ia lalu kembali ke tempat Doni dan mengacung-acungkan senjata api ke arah korban dan warga yang ada di lokasi.

“Bahkan sempat membuang tembakan ke udara sebanyak empat kali. Karena takut, saya lari,” tutur Doni, dilansir grid.id.

Peristiwa menegangkan ini dibenarkan oleh Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Hadi Surosi Siswoyo. Akibat ulahnya itu, Edwin langsung diamankan dan digiring ke Propam.

Setelah penelusuran, Kepala Bidang Propam Polda Lampung Komisaris Besar Hendra Supriatna menuturkan bahwa Edwin berada di bawah pengariuh narkoba. Oleh karena itu, ia tak bisa mengontrol emosinya.

“Dia (Edwin) mengakui menggunakan narkoba sudah satu tahun lebih,” ungkap Hendra.