Demi Selamatkan Jemaah Gereja, Pria Muslim Ini Meninggal Karena Peluk Bom


    SURATKABAR.ID – Saat ini, isu agama merupakan salah satu hal yang sangat sensitif di Indonesia. Bahkan, tak sedikit peristiwa terjadi diawali dengan beredarnya sebuah isu agama yang belum pasti kebenarannya.

    Namun, kisah yang satu ini mengingatkan kita untuk saling menyayangi dan menjunjung toleransi dalam beragama. Sebab, manusia diciptakan sama apapun warna kulitnya, sukunya, ataupun agamanya.

    Kisah ini memang terjadi 17 tahun yang lalu, namun masih pantas dikisahkan hingga sekarang.

    Seorang pria bernama Riyanto telah membuat geger masyarakat karena pengorbanannya yang amat besar. Padahal, orang-orang yang diselamatkannya beragama lain.

    Baca juga: Taruh HP di Freezer Agar Tak Panas, Pria Ini Malah Alami Kejadian Mencengangkan

    Dilansir tribunnews.com, malam itu, 24 Desember 2000, Riyanto mendapat tugas untuk mengamankan misa Natal yang digelar di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur.

    Namun, tak satupun menyangka bahwa hari itu merupakan hari terakhir Riyanto bertugas. Anggota Banser NU Mojokerto ini meninggal sebagai pahlawan dan menyelamatkan ratusan nyawa.

    Saat melakukan penyisiran bersama petugas kepolisian, Riyanto tak sengaja menemukan sebuah bungkusan mencurigakan di dalam gereja. Dia pun memberanikan diri untuk membukanya.

    Tak disangka, bungkusan itu ternyata adalah sebuah bom. Percikan api juga terlihat di dalamnya. Melihat temuannya adalah bom dan sudah mengeluarkan api, ia segera berteiak “Tiarap” dengan lantang.

    Ia juga berusaha membuang bom keluar dari gereja agar tak meledak di dalam. Bom itu dilemparkannya ke tempat sampah, namun terpental. Ia dengan cepat mengambilnya kembali untuk dibuang lebih jauh. Namun, bom keburu meledak di pelukannya.

    Pemuda 25 tahun ini meninggal di tempat dengan kondii jari dan wajah yang menyedihkan. Namun, berkat aksinya itu, Riyanto menyelamatkan ratusan jemaah gereja.

    Baca juga: Mbah Atin, Penampakan Nenek Misterius Pertanda Kematian di Jogja

    Setelah 17 tahun peristiwa tersebut berlangsung, nama Riyanto tak pernah disebut lagi. Namun, sisa seragam yang dikenakannya malam itu kini dipamerkan di Museum NU, Jalan Gayungsari, Surabaya.

    Seragam loreng yang sudah compang-camping itu masih terpajang di dalam museum. Bahkan, masih ada bekas darah Riyanto di seragam tersebut.