Kunjungi Myanmar, Paus Fransiskus Dilarang Sebut Kata Rohingya. Alasannya Bikin Muntab


SURATKABAR.ID – Paus Fransiskus akan mengunjungi Myanmar untuk berdialog degan masyarakat setempat.

Namun, sebelum tiba di Myamnar, Paus Fransiskus diingatkan agar tak menggunakan kata Rohingya. Peringatan ini disampaikan oleh Kardinal Charles Maung Bo saat berbicara dengan awak media.

Mengenai penggunaan kata Myanmar, Kardinal Bo khawatir akan menuai protes dari kelompok anti Muslim. Akibatnya, pesan yang disampaikan Paus Fransiskus tidak akan didengar.

Meski memberi peringatan ini, Kardinal Bo memahami bahwa Paus Fransiskus akan berada di posisi yang sulit. Sebab, penggunaan kata Rohingya ketika berkunjung ke Myanmar akan menjadi sebuah poin penting.

Baca juga: Astrid Ellena, Putri Cantik Fredrich Yunadi yang Pernah Tak Diakui Anak

“Jika dia tidak menggunakannya, masyarakat internasional akan mengatakan sesuatu. Jika dia menggunakannya, maka kata itu bisa jadi sangat buruk bagi militer, pemerintah, dan kaum Budha,” tutur Kardinal Bo, seperti dilansir tempo.co, Senin (27/11/2017).

Tak hanya Kardinal pertama Myanmar itu yang merasa khawatir, peneliti di Institut Lowly Australia, Aaron Connelly, juga memikirkan hal serupa.

“Argumen yang selalu muncul adalah penggunaan istilah Rohingya seketika membuat kaum Budha Myanmar bersikap offside dan menutup pikiran mereka untuk berdialog,” ujar Connelly.

Selama ini, Myanmar kerap memanggil kaum Rohingya dengan sebutan Bengali. “Mereka menyebut mereka Bengali untuk menyatakan mereka sebenarnya orang-orang dari Bangladesh,” lanjutnya.

Sementara itu, sejumlah ahli berpendapat, jika Paus Fransiskus menyebut kata Rohingya dalam setiap kotbah atau pidatonya saat berkunjung ke Myanmar, sudah jelas bahwa ia akan mengambil sikap daam isu kemanusiaan itu.

Namun, dalam pesan videonya yang menunjukkan rencana kunjungannya ke Myanmar, Paus Fransiskus tak menggunakan kata Rohingya. Dalam video yang ditayangkan minggu lalu ini, Paus Fransiskus menyampaikan pesan tentang ajakan saling mendukung sesama.

Dalam kunjungan pertamanya ke Myanmar, pemimpin umat Katolik ini akan bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, Panglima militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing dan para pengungsi Rohinya di Bangladesh.