Semua Perokok Terkena Kanker Paru? Begini Penjelasan Dokter


    SURATKABAR.ID – Pertanyaan soal akankah semua perokok terjangkit penyakit kangker paru barangkali menjadi salah satu pertanyaan yang terlintas pada seorang perokok. Seprti diwartakan situs kompas.com, Jumat (24/11/2017) lalu, dr Elisna Syahruddin SpP(K) PhD memberikan penjelasan tentang kanker paru dan hubungannya dengan perokok.

    Kanker paru sendiri, papar Elisna, merupakan penyakit kanker yang paling banyak terjadi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada 2015 lalu, terdapat hampir 1,7 juta orang yang terdiagnosis mengidap kanker paru.

    “Kalau ada 10 orang yang didiagnosis mengidap kanker paru, delapan orang meninggal pada tahun itu juga. Itulah kenapa kanker paru disebut kanker yang mematikan. Karena umumnya di seluruh dunia, kanker paru ketemunya sudah stadium lanjut, jadi tidak bisa dilaksanakan terapi secara maksimal,” terang Elisna di Jakarta, dikutip dari kompas.com.

    Elisna menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab kanker paru, salah satunya faktor usia. Seseorang berusia lebih dari 40 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang kanker paru. Selain itu, diperkirakan ada 40 orang per 100.000 penduduk dunia berisiko terkena penyakit ini.

    Meski begitu, semakin ke sini, kata Elisna, usia pengidap kanker paru semakin muda. Bahkan, tidak jarang ditemukan pada seseorang yang masih berusia 30 tahunan.

    Di luar faktor usia, Elisna menegaskan bahwa sebetulnya setiap orang mempunyai potensi untuk terserang kanker paru. Hal itu dikarenakan dengan proses menarik dan mengeluarkan nafas. Jadi, jelas Elisna, pada momen tertentu terdapat mukosa atau selaput lendir di saluran pernafasan dari hidung hingga ke bronkus yang rusak.

    Kendati demikian, Elisna menyebut bahwa hal itu bisa disembuhkan oleh tubuh dengan sendirinya.

    “kalau ada yang slip, dia menjadi tidak normal, yaitu bibit-bibit kanker. Tapi tidak segampang itu menjadi kanker. Ada mekanisme tubuh sendiri untuk menghilangkan yang tidak normal tadi. Maka tidak semua orang terkena kanker,” ujarnya.

    Masih dilansir dari laman kompas.com, bagi para perokok, potensi tumbuhnya kanker paru itu meningkat. Elisna menyebut, merokok menyumbang 80 persen risiko terjangkit kanker paru. Bahkan, pada perempuan pengidap kanker paru, 55 persen di antaranya adalah perokok aktif.

    Baca Juga: Mengharukan! Guru Tunanetra Ini Dapat Hadiah Umrah di Hari Guru Nasional. Ketua DPR Sampai Terharu

    Pada seorang perokok, setiap harinya mereka mengiritasi dengan intesitas tinggi yang menyebabkan perubahan jaringan dan sel di saluran pernafasan. Hal ini memicu terjadinya sel kanker paru.

    Terkait dengan nikotin, Elisna mengatakan bahwa perokok kerap keliru dalam memahami zat tersebut. Seorang perokok ketika melihat label rendah nikotin dalam rokoknya cenderung merasa lebih aman dari penyakit dan mengonsumsi lebih banyak rokok.

    Padahal nyatanya, jelas Elisna, nikotin itu salah satu zat karsinogen yang memicu terjadinya kanker paru.

    “Nikotin itu lebih dominan kepada adiksi atau kecanduannya. Semakin lemah kadar yang diberikan, orang yang ketagihan jadi cenderung merokok lebih banyak. Akibatnya, iritasinya lebih banyak dan risikonya lebih tinggi,” kata Elisna.

    Perlu untuk diketahui juga bahwa butuh waktu 15 tahun setelah berhenti merokok untuk membuat kondisi paru sama dengan orang yang tidak merokok.

    “Bukan baru semingguan berhenti merokok risikonya turun. Selama 15 than enggak terjadi kanker, selamatlah. (Dia bisa) dianggap sama dengan orang yang tidak pernah merokok,” pungkasnya.