Luar Biasa! Sniper Paling Mematikan di Dunia Ini Selamat Meski Satu Batalion Dikirim Untuk Membunuhnya

Simo Häyhä Namanya, The White Death Julukannya...


SURATKABAR.ID – Jika melihat gerak-geriknya di film-film, seorang sniper alias penembak jitu jarak jauh bisa mencabut nyawa seseorang hanya dalam sepersekian detik, dari posisi yang tidak terdeteksi. Namun faktanya, dalam dunia militer, sniper memang dikenal sebagai senjata pembunuh yang paling mematikan. Dalam sejarah militer, banyak sniper yang dikenal sebagai sosok berbahaya dan paling mematikan. Yang paling banyak membunuh menjadi yang paling disegani.

Tapi, di antara para sniper tersebut, bisa dibilang nama Simo Häyhä yang menduduki puncak teratas. Bekerja dalam sunyi dan diam, Simo adalah tentara Finlandia yang tercatat sebagai sniper yang paling banyak membunuh tentara lawan. Julukannya adalah ‘The White Death’ alias Malaikat Maut Putih. Demikian seperti dilansir dari laman Jatim.Tribunnews.com, Sabtu (25/11/2017).

Membunuh 705 Orang

Angka nyawa manusia yang direnggutnya pun bikin merinding, ada 705 orang. Sebanyak 505 orang dibunuhnya dengan menggunakan senapan, sedangkan 200 lainnya dihabisi dengan senapan otomatis. Dan yang lebih mencengangkan lagi, korban sebanyak itu dibunuh oleh Simo dalam waktu kurang dari 100 hari saja!

Fakta yang tak kalah mengejutkannya adalah ini: angka di atas hanyalah yang terkonfirmasi lawan. Diperkirakan, Simo Häyhä telah membunuh ratusan lebih banyak lagi yang tidak diketahui.

Baca juga: Kisah Hidup Kho Ping Hoo, Pendongeng Cerita Silat yang Melegenda

Ada hal yang menarik dari angka yang besar tersebut. Pasalnya, bila melihat senapan yang digunakan Simo Häyhä, tentu siapa pun tak akan menyangka. Dia merupakan tentara yang bertugas di era Perang Musim Dingin, antara Rusia dan Filandia, pada tahun 1939-1940. Jadi, di era tersebut, senapan tentu masih primitif.

Senapan yang digunakan Simo bahkan tidak memakai lensa pembidik seperti halnya senapan sniper modern masa kini. Jadi bisa dibayangkan betapa tajamnya penglihatan sang sniper yang satu ini.

Hebatnya lagi, Simo bertempur di tengah udara dingin nan ekstrem. Ia berperang dalam suhu udara mencapai hingga minus 40 derajat Celcius.

Lenyapkan Satu Batalion

Dengan sepak terjangnya yang luar biasa ini, tak heran jika kisah Simo Hayha kini menjadi legenda yang diceritakan dari satu sniper ke sniper lain. Konon, saat bertempur, Hayha hanya berdiam diri di satu tempat, hingga membunuh semua lawan di medan perang. Tak ada yang bisa menyadari dimana Hayha berada hingga 3 bulan lamanya.

Awalnya, Pihak Rusia mendengar bahwa Finlandia punya seorang sniper berskill tinggi di medan perang. Rusia kemudian mengirim satu sniper untuk menandinginya. Namun tebak yang terjadi selanjutnya. Sniper Jerman yang dikirimkan itu pulang tinggal nama, mayatnya dikirim ke markas Jerman.

Sang panglima lalu mengirim beberapa sniper sekaligus. Namun mereka semua lenyap, tak diketahui kabarnya setelah diterjunkan ke medan perang. Jerman kemudian mengirim satu batalion demi membunuh Simo Hayha. Banyak tentara Jerman dalam batalion itu terbunuh, tapi tetap saja lokasi Hayha tak bisa ditemukan.

Bahkan, sewaktu Jerman mengirim serangan artileri dengan membabi buta, Hayha tetap tak diketemukan. Hayha memang dikenal sebagai sniper cerdas. Dia memakai baju serba putih, termasuk topeng putih yang menutupi wajahnya. Dengan berkamuflase seperti itu, mustahil melihatnya ketika bersembunyi di timbunan salju.

Yang lebih gila lagi, ketika beraksi, Hayha terbiasa memasukkan salju di mulutnya. Cara ini dilakukannya agar mulut Hayha tak mengeluarkan uap ketika bernafas di udara dingin.

Tertembak di Mulut

Pada 6 Maret 1940, seorang lawan menembak mulut Simo Hayha. Menurut tentara yang mengangkut Simo, saat itu hampir separuh dari wajah Simo ‘hilang’. Namun, seperti plot cerita di film-film action besutan Hollywood, Simo Hayha, sang lakon, secara ajaib tetap bertahan hidup. Pada hari ke-13 setelah tertembak, dia sadar dari komanya.

Dan terjadilah peristiwa yang dramatis. Bertepatan di hari ketika Simo siuman dari komanya, pihak Uni Soviet/Rusia dan Finlandia pun memutuskan untuk berdamai dan menghentikan perang.

Meski selamat, Simo mengalami cacat wajah secara permanen.

Di tahun 1998, Simo ditanya dalam sebuah wawancara, apakah resep rahasianya sehingga dia bisa menjadi sniper yang sedemikian hebatnya.

Simo menjawab singkat : “Latihan.”

Lalu, dia ditanya lagi, apakah dia menyesal telah membunuh begitu banyak manusia.

Begini jawaban Simo: “Aku hanya menjalankan tugasku, itu yang aku lakukan, sebaik mungkin akan kulakukan.”

Kisah hidup Simo ini menjadi inspirasi lagu White Death—sebuah lagu yang dipopulerkan oleh band metal asal Swedia, Sabaton.

Baca juga: Mengungkap Kisah Bung Tomo dan Kolam Kanuragan Mbah Kiai Pucung di Blitar

Pada tahun 2002, Simo Hayha tutup usia setelah hidup selama 96 tahun. Ia mengembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit khusus veteran perang. Pada nisannya, tertulis 3 kata dalam bahasa Finlandia, selain nama. Tiga kata itu adalah: “Koti, Uskonto, Isanmaa” yang berarti “Rumah, Agama, Ibu Pertiwi.”