Catat! Tak Hanya Sebabkan Diabetes, Inilah Sejumlah Bahaya Akibat Menahan Tangis


    SURATKABAR.ID – Sebagian orang menganggap bahwa menangis itu lemah, tidak pantas menunjukkan sisi emosional kita di muka publik. Padahal sebagai manusia, menangis itu lumrah. Bahkan hal pertama yang dilakukan semua bayi sesaat setelah terlahir di dunia pun adalah menangis. Namun seiring bertambahnya usia, dorongan untuk menangis terpaksa harus lebih bisa dikendalikan oleh manusia dewasa.

    Dorongan untuk menangis memang bisa datang pada kondisi yang tidak tepat. Misal saat bersama atasan dan rekan kerja di kantor, rapat dengan klien atau bahkan di depan calon mertua. Karena tak ada pilihan lain, mungkin banyak dari kita yang terpaksa harus menahan tangis sampai tiba saatnya menemukan privasi seorang diri.

    Tapi, mengingat momen ingin menangis bukan sesuatu yang dapat diulang seenak hati, apakah menahannya dapat merusak kesehatan? Melansir laporan Kompas.com, Kamis (23/11/2017), dikatakan bahwa menangis pada dasarnya seperti katup yang terbuka untuk melepas stres atau perasaan tertekan. Jadi, ketika Anda menahannya, sistem saraf simpatetik Anda menjadi tegang. Demikian Nicole Van Groningen, MD, dokter internis di NYU Langone Medical Center mengungkapkan.

    Otak Anda mengirim sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol.

    Baca juga: Jerman Wajibkan Orang Tua Hancurkan Smartwatch Anaknya, Mengapa?

    Hormon adrenalin dan kortisol ini meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, yang membuat dada sesak dan napas berat saat Anda memaksakan diri untuk tidak menangis. Hormon ini juga dapat mengacaukan nafsu makan dan kadar gula darah.

    “Menekan emosi seperti rasa frustrasi atau kesedihan, benar-benar bisa membuat Anda merasa lebih buruk,” tandas psikolog Nikki Martinez, Psy.D.

    “Jadi, ketika Anda mungkin berpikir bahwa Anda sedang mengendalikan diri, sebenarnya Anda sedang memupuk stres.”

    Sesekali menahan tangis, itu masih tidak apa-apa. Namun, jika terjadi secara rutin, akan menjadi masalah.

    Dalam jangka pendek, hal itu dapat menyebabkan masalah seperti lekas marah, kecemasan dan gangguan tidur. Dalam jangka panjang, menyebabkan tekanan darah tinggi, masalah jantung dan diabetes.

    Jadi, Van Groningen mengatakan, jika Anda perlu untuk menangis meraung-raung dan bisa menyelinap sebentar untuk melakukannya, kemudian kembali beraktivitas, itu adalah yang terbaik.

    Namun, jika Anda berada di tengah-tengah sesuatu dan harus menahan tangis, perasaan berat yang tertunda dapat menghasilkan efek buruk seperti di atas.

    Solusinya?

    Untuk mengatasinya, Martinez menambahkan, Anda bisa belajar untuk melepaskan stres dengan cara lain. Tidak perlu berteriak pada rekan kerja atau terisak saat menyusuri lorong kantor.

    Cukup menemukan teknik menghilangkan stres seperti berjalan-jalan sejenak melihat-lihat pemandangan di luar kantor, bertandang ke meja teman untuk sekadar mengobrol ringan, atau mendengarkan musik (beberapa studi dan riset menemukan bahwa mendengarkan musik favorit benar-benar dapat membuat Anda merasa lebih baik).

    Baca juga: Terancam! NASA: Es di Kutub Utara Mencair, 6 Kawasan di Indonesia Ini Akan Terendam

    Seperti diketahui dari sejumlah studi dan riset, menangis memang bermanfaat untuk meredakan stress, membuang racun tubuh, membunuh bakteri, mencegah mata kering dan meningkatkan suasana hati (mood).

    Selain itu, menangis adalah super-katarsis, tapi itu bukan satu-satunya cara untuk melepaskan stres dari tubuh Anda. Ketika air mata sedang tidak mendapat tempat yang tepat untuk dikeluarkan, pastikan tubuh Anda menemukan cara lain untuk melepas stress.