Jerman Wajibkan Orang Tua Hancurkan Smartwatch Anaknya, Mengapa?


SURATKABAR.ID – Secara mendadak, pemerintah Jerman mengeluarkan aturan pelarangan penggunaan smartwatch pada anak mulai usia 5 tahun hingga 12 tahun. Sebelumnya, smartwatch umum digunakan orang dewasa Jerman untuk memantau aktivitas olahraga, selain berfungsi sebagai penghubung ke smartphone. Selanjutnya, para orang tua di sana memakaikan arloji pintar tersebut kepada anak-anak mereka.

Melansir laporan Kompas.com, Rabu (22/11/2017), bahkan para orang tua diminta untuk menghancurkan smartwatch yang diberikan ke anaknya dan memberikan bukti penghancuran itu pada badan regulasi komunikasi Jerman—Bundesnetzagentur.

Apa sebabnya pemerintah Jerman menjadi keras terhadap penggunaan arloji pintar pada anak?

Rupanya, smartwatch tersebut kerap digunakan orang tua untuk memantau aktivitas dan percakapan di lingkungan sekitar anaknya saat berada di sekolah. Pemerintah setempat menilai, perilaku tersebut melanggar peraturan yang tercantum dalam undang-undang anti-pengawasan di Jerman.

Baca juga: Terancam! NASA: Es di Kutub Utara Mencair, 6 Kawasan di Indonesia Ini Akan Terendam

Dalam sebuah penyelidikan, smartwatch telah digunakan oleh orang tua murid untuk menguping pembicaraan guru dalam kelas.

“Melalui sebuah aplikasi, orang tua dapat menggunakan jam tangan anak-anak tersebut untuk mendengarkan lingkungan di sekitar anaknya,” ungkap Jonchen Honman, pimpinan Bundesnetzagentur, mengutip The Register via KompasTekno, Rabu (22/11/2017).

Boneka Cayla

Tak hanya smartwatch, pemerintah Jerman pun telah melarang penjualan boneka Cayla (My Friend Cayla Doll) yang dirilis perusahaan mainan Genesis Toys pada bulan Februari lalu. Perangkat yang ada di boneka ini dianggap ilegal karena mengandung mikrofon yang dapat menangkap pembicaraan dan suara anak, seperti dilaporkan dalam reportase CNN.com.

Tak Hanya Jerman

Kecemasan serupa terkait penyalahgunaan smartwatch pada anak-anak ini juga terjadi di Norwegia. Pemerintah Norwegia menemukan celah kejahatan yang akan terjadi jika alat ini digunakan oleh anak-anak. Bahkan mereka telah menciumnya sebelum regulasi pelarangan penggunaan jam tangan pintar diterapkan oleh Jerman.

Di bulan Oktober lalu, Norwegian Consumer Council (NCC) melaporkan bahwa sejumlah smartwatch dan perangkat GPS untuk anak sangat rentan. Ini dikarenakan kedua perangkat tersebut mengirim dan menyimpan data tanpa enkripsi.

Baca juga: Jennifer Dunn Somasi Shafa Harris, Sarita: Berarti Berhadapan Sama Saya, Saya Siap

Hal ini dirasa tidak aman mengingat dengan demikian para peretas bisa saja mengakali jam tangan tersebut. Dengan segenap kemahirannya, para hacker bisa melacak lokasi anak tertentu, menggiringnya ke tempat yang ada di luar jangkauan orang tua, melakukan panggilan palsu, dan menculiknya untuk meminta sejumlah uang tebusan—sesuatu yang tentu ingin dihindari oleh siapapun demi alasan keamanan.