Terancam! NASA: Es di Kutub Utara Mencair, 6 Kawasan di Indonesia Ini Akan Terendam


SURATKABAR.ID – Perangkat internet yang bisa memperkirakan kota-kota dunia yang terkena dampak mencairnya lapisan es telah diluncurkan oleh NASA atau Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat. Dengan menggunakan peralatan tersebut, bisa diperkirakan air yang mencair dari es serta distribusinya secara global.

“Peralatan itu memberikan—untuk setiap kota—gambaran tentang gunung es, lapisan es, ataupun puncak es yang mana yang amat penting,” ungkap para peneliti, sebagaimana dikutip dari laporan Tribunnews.com, Selasa (21/11/2017).

Selama ini, beberapa pihak menganggap Indonesia jauh dari kawasan gunung es sehingga tidak mungkin terkena dampak dari mencairnya lapisan es di Kutub Utara atau Kutub Selatan. Namun anggapan tersebut salah besar.

Pasalnya, para ilmuwan mengungkapkan, perputaran Bumi dan efek gravitasi akan membuat air dari gunung dan lapisan es menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Miris! 7 Fakta Ini Buktikan Manusia Menghancurkan Bumi, Nomor 6 dan 7 Terjadi di Indonesia

Seperti ibukota kita, Jakarta. Berdasarkan perkiraan para ilmuwan, Jakarta akan terkena dampak peningkatan permukaan laut setinggi 1.713 milimeter.

Selain Jakarta, ada empat kota besar Indonesia serta satu kawasan lain yang terkena dampaknya, sebagaimana diprediksi oleh peralatan internet yang dikembangkan Laboratorium Propulsi Jet NASA di California tersebut:

  1. Banda Aceh, dengan peningkatan permukaan air laut 1,713 mm,
  2. Jawa Timur, dengan peningkatan permukaan air laut 1.766 mm,
  3. Makassar, dengan peningkatan permukaan air laut 1.764 mm,
  4. Manado, dengan peningkatan permukaan air laut 1.780 mm,
  5. Jayapura, dengan peningkatan permukaan air laut 1.747 mm.

Laporan terkait prediksi peningkatan permukaan laut tersebut sudah diterbitkan di Science Advances.

“Sejalan dengan kota-kota dan negara-negara yang berupaya membangun rencana untuk mengurangi banjir, mereka harus berpikir 100 tahun ke depan jika ingin mengkaji risikonya dengan cara yang sama dilakukan perusahaan asuransi,” tukas Dr Erik Ivins.

“Peralatan baru ini memberikan cara bagi mereka untuk melihat lapisan es yang seharusnya paling mereka khawatirkan.”

Dengan menggunakan peralatan itu, terlihat juga peningkatan permukaan air laut yang signifikan akibat dari perubahan di lapisan es di sebelah bagian barat laut Greenland.

Proses Pola Perubahan Permukaan Laut

Seorang ilmuwan lain bernama Dr Eric Larour menuturkan, ada tiga proses utama yang mempengaruhi “jejak permukaan laut” atau istilah untuk pola perubahan permukaan laut di seluruh dunia.

Proses yang pertama adalah grafiti.

“Hal itu (lapisan-lapisan es) ini adalah massa besar yang mengerahkan daya tarik ke laut,” ungkap Dr Larour.

“Ketika es menyusut, daya tarik tersebut berkurang dan laut akan menjauh dari massa itu.”

“Sejalan dengan daya ‘tarik-dorong’ itu, daratan di bawah lapisan es yang mencair akan mengembang secara vertikal, karena sebelumnya ditekan lapisan es yang berat,” tambah dia.

Faktor terakhir yang mempengaruhi adalah planet yang berputar.

“Anda bisa memikirkan Bumi yang berputar,” tambah Dr Larour. “Pada saat berputar, dia bergoyang dan pada saat massa di permukaan berubah, maka goyangannya juga berubah.”

“Hal itu, pada gilirannya meredistribusi air ke seluruh Bumi.”

Baca juga: 5 Foto Fenomenal Ini Buktikan Tiang Listrik Juga Bisa Jadi Viral

Dengan memperkirakan semua faktor tersebut ke dalam kalkulasi, para peneliti mampu membangun sebuah peralatan prakiraan untuk kota-kota dunia tersebut.

“Kami bisa menghitung kepekaan yang tepat, untuk kota tertentu, tentang permukaan laut untuk setiap massa es di dunia,” urai Dr Larour dilansir laman BBC.