Bagaimana Cara Bertaubat Bagi PNS yang Lulus dengan Cara Nyogok?


    pns1-1024x568

    SURATKABAR.ID – Lapangan kerja di Indonesia konon kabarnya sangat sedikit. Mencari pekerjaan di Indoensia dengan gaji yang layak bukan perkara mudah. Intu sebabnya, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah sebuah primadona bagi warga negara ini. Akan tetapi, rumor tentang adanya praktek suap menyuap untuk bisa menjadi PNS santer terdengar dan sekaan menjadi rahasia umum.

    Fenomena tentang adanya PNS yang kabarnya mendapatkan pekerjaannya tersebut dengan cara menyuap, menimbulkan sebuah pertanyaan mengenai keabsahan dan kehalalan gaji yang diterimanya. Mengingat, menjadi PNS bisa dikategorikan sebagai “karir abadi” atau hampir bisa dipastikan akan dijabatnya hingga pensiun.

    Menjawab persoalan tersebut, di laman eramuslim.com disebutkan jika suap merupakan dosa besar sehingga Allah swt mengancam para pelakunya, baik yang memberikan maupun yang menerimanya dengan laknat atau dijauhkan dari rahmat-Nya bahkan, sebagaimana diriwayatkan oleh An Nasai dari Masruq berkata,”Apabila seorang hakim makan dari hadiah maka sesungguhnya dia telah memakan uang sogokan. Apabila dia menerima suap maka ia telah menghantarkannya kepada kekufuran.” Masruq mengatakan barangsiapa yang meminum khamr maka sungguh ia telah kufur dan kekufurannya adalah tidak diterima shalatnya selama 40 hari.

     

    Suap sendiri merupakan perbuatan terlaknat. Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr berkata: ”Rasulullah saw telah melaknat orang yang memberi dan menerima suap.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para ulama telah mengatakan,”Sesungguhnya pemberian hadiah kepada wali amri—orang yang diberikan tanggung jawab atas suatu urusan—untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan atasnya adalah haram, baik bagi yang memberikan maupun menerima hadiah itu, dan ini adalah suap yang dilarang Nabi saw.

    Beberapa ulama menyimpulkan bahwa karena kegiatan suap menyuap adalah perilaku yang diharamkan, maka penghasilan yang didapatkannya juga dianggap haram.

    Melakukan tindakan suap untuk menjadi PNS selain telah melakukan tidakan yang dilaknat, yaitu suap menyuap, perilaku tersebut bisa juga dikategorikan sebagai upaya mengambil hak orang lain.

    Seseorang yang seharusnya secara test dan persyaratan bisa lulus tetapi digagalkan karena ada pihak lain melakukan praktek suap, maka secara langsung atau tidak langsung itu dianggap sebagai bentuk kezhaliman atau merampas hak orang lain, dan itu dosa.

    “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al Baqoroh : 188)

    Imam al Qurthubi  menyatakan makna ayat ini adalah janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lainnya dengan cara yang tidak benar. Dia menambahkan bahwa barangsiapa yang mengambil harta orang lain bukan dengan cara yang dibenarkan syariat maka sesungguhnya ia telah memakannya dengan cara yang batil. Diantara bentuk memakan dengan cara yang batil adalah putusan seorang hakim yang memenangkan kamu sementara kamu tahu bahwa kamu sebenarnya salah. Sesuatu yang haram tidaklah berubah menjadi halal dengan putusan hakim. (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an juz II hal 711), dilansir dari eramuslim.com.

     

    Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa melakukan kerjasama jahat dengan cara menyuap untuk medapatkan sebuah pekerjaan maka penghasilan yang didapatkan dari pekerjaanya dianggap sebagai sesuatu yang haram. Selain dianggap telah melanggar syariat dalam memperoleh pekerjaan, juga dianggap telah mencuri hak orang lain yang sepatutnya menduduki posisi tersebut jika tidak ada praktek suap.

    Dalam laman eramuslim.com tersebut juga disebutkan seseorang yang pernah melakukan atau bahkan terbiasa dengan praktek suap menyuap ini dan menjadikannya suatu penghasilan baginya dan untuk keluarganya, maka tidak ada kata lain baginya untuk segera melakukan hal-hal berikut, yaitu: Beratubat, mengembalikan semua harta yang didapatkannya dan jika kesulitan untuk mengembalikan kepada yang berhak (karena sudah susah dilacak) dibolehkan baginya untuk menyedekahkannya atas nama si pemberi suap ke tempat-tempat yang baik seperti pembangunan masjid, rumah sakit, jembatan dan lainnya.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,”Apabila seseorang tidak mengetahui pemilik sebuah harta maka hendaklah dia menyerahkannya kepada tempat-tempat maslahat bagi kaum muslimin, demikian menurut jumhur ulama seperti Malik, Ahmad dan selainnya. Apabila ditangan seseorang terdapat harta dari cara yang batil, curang, titipan atau gadai sementara dia telah berputus asa dalam mengetahui pemiliknya maka hendaklah dia menyedekahkannya atas nama mereka (pemiliknya) atau menyerahkannya ke tempat-tempat maslahat kaum muslimin atau juga menyerahkannya kepada orang yang adil untuk menyerahkannya ke tempat-tempat maslahat kaum muslimin dan maslahat-maslahat keagamaan.”

    Keberkahan seseorang tidaklah ditentukan dari banyak atau sedikitnya harta yang dimilikinya namun dari halal atau tidaknya harta tersebut. Seberapa pun harta yang dimiliki seseorang ketika memang itu semua didapat dengan cara-cara yang halal dan dibenarkan syariat maka didalam harta itu terdapat keberkahan dari Allah swt.

    Wallahu A’lam