Setya Novanto Ditahan KPK, Ramalan Nazarudddin 3 Tahun Lalu Jadi Omongan. Apa Isinya?


    SURATKABAR.ID – Ketua DPR RI Setya Novanto resmi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP.

    Sebelum menjadi tahanan KPK, Novanto sempat mengalami kecelakaan yang menghebohkan publik. Sebab, Ketua Umum Partai Golkar ini dikabarkan terluka parah.

    Setelah mengalami kecelakaan, Novanto segera dilarikan ke Rumah Sakit Permata Hijau, Jakarta Selatan, untuk mendapat perawatan. Selanjutnya, ia dibawa ke RSCM.

    Setelah 3 hari dirawat di RSCM, tim dokter KPK dan IDI yang melakukan pemeriksaan menyatakan bahwa Novanto tak perlu lagi dirawat di rumah sakit dan sudah bisa diinterogasi.

    Baca juga: Setya Novanto Ditahan KPK, Jokowi Siapkan Tokoh Ini Jadi Ketum Golkar?

    Namun, seiring dengan kabar tersebut, sebuah video lawas mendadak jadi perbincangan netizen. Video berdurasi 3 menit 42 detik tersebut menampilkan wawancara mantan Bendahara DPP Demokrat Nazaruddin Syamsudin.

    Dalam video itu, Nazaruddin menyebut bahwa Novanto kebal hukum. Bahkan, ia memberikan gelar sinterklas untuk Novanto.

    “Setya Novanto ini, saya yakin, (penegak hukum) tidak akan berani. Tidak akan berani. Orang ini Sinterklas, kebal hukum. Tidak akan berani walaupun saya bilang, sudah jelas buktinya,” kata Nazaruddin, dilansir tribunnews.com.

    Nazaruddin kemudian menjelaskan dengan rinci bagaimana proyek e-KTP didesain sedemikian rupa untuk menguntungkan sejumlah pihak dengan jalan yang tak benar.

    “Saya cerita soal e-KTP. e-KTP itu dari sebelum proyek ditender, sudah dimarkup senilai Rp 2,5 Triliun. Sudah dibuat, keuntungannya segini untuk dibagikan ke DPR, Mendagri, hingga pengusaha bagian posisi Novanto,” lanjutnya.

    Pernyataan tersebut dikatakan oleh Nazaruddin pada Januari 2014 silam atau lebih dari 3 tahun lalu. Bahkan, dalam wawancara itu, Nazaruddin menyebut kata “tidak akan berani” hingga tiga kali untuk memprediksi proses hukum Novanto dalam kasus korupsi e-KTP.

    Sebelumnya, Novanto memang berhasil lolos dari status tersangka yang diberikan KPK karena menang dalam praperadilan. Kali ini, akankah Novanto bisa kembali meloloskan diri dari proses hukum?