Hebat! Menjabat Selama 38 Tahun, Siapa Sangka Presiden Ini Anak Seorang Tukang Batu


SURATKABAR.ID – Pria ini sudah menjabat sebagai presiden selama 38 tahun, tepatnya sejak September 1979. Ia adalah Jose Eduardo dos Santos, presiden negara kaya minyak di Afrika, Angola yang pada Bulan November ini lengser. Bagaimana ia bisa berkuasa sedemikian lama? Dan meski berkuasa 38 tahun, mengapa namanya sangat jarang terdengar di panggung politik internasional?

Melansir reportase BBC.com, Kamis (16/11/2017), Do Santos adalah anak tukang batu yang bergabung ke Partai Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Angola, MPLA, saat masih belia. Dengan cepat kariernya naik saat Angola merebut kemerdekaan dari Portugal pada 1970-an.

Tanpa Dipilih Rakyat

Di tahun 1979, menyusul meninggalnya Agostinho Neto—pemimpin Angola—karena kanker, Dos Santos disumpah menjadi presiden.

Fakta tersebut membuktikan bahwa sebagai salah satu pemimpin negara paling lama yang hanya kalah dari pemimpin Guinea Khatulistiwa (Teodoro Obiang Nguema Mbasogo), Dos Santos naik ke kekuasaan tanpa melalui pemilihan oleh rakyat.

Baca juga: Heboh Para Pendukungnya Serukan Uninstall Traveloka, Reaksi Anies Baswedan Bikin Adem

Sejumlah aktivis di Angola menyebutkan ‘pemusatan kekuasaan di satu tangan’ membuat Dos Santos mampu bertahan lama.

Politisi berusia 74 tahun ini mengangkat jenderal-jenderal di tubuh angkatan bersenjata dan hakim-hakim senior di lingkungan peradilan.

Seorang aktivis bernama Elias Isaac mengungkapkan kepada harian Inggris, The Guardian, bahwa mereka yang dianggap sebagai lawan-lawan politiknya kemudian dilemahkan oleh Dos Santos.

“Para lawan politik, baik itu jenderal, polisi maupun politisi, ia lemahkan. Para lawan diberi berlian, bidang usaha, dan kekayaan,” tutur Isaac.

Hingga era 1990-an MPLA, sebagai partai berkuasa, memiliki kewenangan besar. Namun sejak itu, kekuasaan dikonsentrasikan dan dikonsolidasikan ke tangan Dos Santos, tutur para pegiat.

Low Profile

Faktor lain yang membuat sosoknya kalah terkenal dibandingkan pemimpin Zimbabwe, Robert Mugabe atau Mobutu Seseseko dari Zaire/Republik Demokratik Kongo adalah gaya hidupnya yang tidak flamboyan.

Dos Santos adalah sosok yang low profile, bahkan tak banyak yang pernah melihat foto ruang kerjanya sebagai presiden.

“Berapa kali ia memberikan wawancara? Sangat-sangat sedikit. Saya tak pernah melihatnya difoto di ruang kerjanya… Tak banyak yang tahu soal dia,” kata wartawan dan aktivis Angola, Rafael Marques de Morais kepada The Guardian.

Masih Memegang Kunci

Selain itu, Dos Santos sangat menghindari mengkritik negara-negara lain. Pada pekan terakhir Agustus, Angola menggelar pemilihan umum untuk mencari pengganti Dos Santos. Meski nantinya ia tak lagi menjabat sebagai presiden, bukan berarti pengaruhnya di bidang politik dan ekonomi akan berkurang, urai Clare Spencer, seorang wartawan BBC di ibu kota Luanda.

Dos Santos akan tetap memimpin MPLA dan presiden baru nanti tak bisa memecat kepala kepolisian, panglima militer atau kepala badan intelijen selama delapan tahun ke depan. Dengan kata lain, orang-orang yang menduduki posisi tersebut, yang diangkat sendiri oleh Dos Santos, tetap berkuasa.

“Mekanisme ini secara jelas diatur dalam undang-undang yang diloloskan hanya sebulan sebelum pemilu,” imbuh Spencer.

Menurut laporan kantor berita Bloomberg, para anggota parlemen juga menjamin kekebalan dari semua tuntutan hukum bagi Dos Santos, selain satu kursi di Dewan Republik.

Dalvan Costa selaku pengamat politik Angola mengatakan kepada BBC, jabatan dan imunitas ini pada dasarnya ‘membuat Dos Santos tetap berkuasa, meski tak secara total’.

Dalam kalimat mantan Perdana Menteri Marcolino Moco, ‘Dos Santos menutup pintu tapi masih memegang kunci’.

Nepotisme?

Sementara itu, anak-anak Dos Santos masih akan tetap memegang posisi-posisi penting di Angola.

Putrinya, Isabel, merupakan miliarder yang mengepalai perusahaan minyak negara, Sonangol, dan menurut majalah Forbes adalah perempuan terkaya di Afrika.

Saudara laki-laki, Isabel, Jose Filomeno, adalah figur penting di badan yang diberi tanggung jawab menentukan investasi dari penerimaan minyak.

Dos Santos dipuji karena mendorong stabilitas di Angola, namun juga menghadapi kritik karena dianggap gagal memaksimalkan penerimaan minyak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara merata.

Keputusannya mengangkat Isabel sebagai direktur Sonagol juga membuat lembaga Transparansi Internasional menuduh Dos Santos melalukan nepotisme.

Baca juga: Diduga Rintangi Penyidikan Kasus E-KTP, Setnov dan Pengacaranya Dilaporkan ke KPK

Bagaimana MPLA, partai pimpian Dos Santos, menjawab tuduhan ini? Juru bicara MPLA menyebutkan Dos Santos ialah figur yang dicintai rakyat terbukti dengan kemenangan di pemilu, yang terakhir pada 2012.

“Kalau ia dipilih oleh rakyat, apa ini salah? Ia disambut baik ketika berada di Eropa dan Amerika” tukasnya.