Malahayati—Laksamana Wanita Pertama Dunia Asal Aceh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional


SURATKABAR.ID – Menyambut peringatan Hari Pahlawan pada Jumat (10/11/2017), Presiden RI Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tersebut diberikan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Namun sebelumnya, Malahayati sudah menjadi laksamana perempuan pertama di dunia dan berasal dari Kesultanan Aceh.

Mengutip laporan Tempo.co, Kamis (9/11/2017), Presiden Jokowi secara resmi menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada ahli waris dari empat tokoh yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan Lafran Pane dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Laksamana Wanita Pertama di Dunia

Salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional adalah Keumalahayati atau lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Laksamana Malahayati merupakan seorang muslimah yang menjadi laksamana perempuan pertama di dunia dan berasal dari Kesultanan Aceh.

Malahayati merupakan putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M.

Baca juga: Tegas! Kapolri Ungkap Alasan Kenapa Bareskrim Harus Hati-Hati Garap Kasus Pimpinan KPK

Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Dari silsilah tersebut dapat diketahui bahwa laksamana Malahayati merupakan keturunan darah biru.

Di tahun 1585-1604, Malahayati memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Sepak terjangnya di medan tempur tak lepas dari dibentuknya pasukan “Inong balee” (janda-janda pahlawan yang telah syahid). Ia sendiri kehilangan suaminya yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis.

Memimpin Armada Laut

Malahayati memimpin armada laut dengan 2.000 orang pasukan “Inong balee” dan berperang melawan kapal-kapal serta benteng-benteng Belanda pada 11 September 1599.

Ia juga berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar “Laksamana” untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.

Kendati baru dianugerahi gelar pahlawan nasional pada peringatan Hari Pahlawan ke-72 di tahun 2017, namun namanya telah diabadikan sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Namanya ditabalkan sebagai nama pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dengan nama Pelabuhan Malahayati.

Tak hanya itu saja. Salah satu kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah milik TNI Angkatan Laut juga dinamakan KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus untuk TNI-AL.

Universitas Malahayati

Kiprahnya rupanya tak berhenti sampai di situ. Tidak hanya di dunia kelautan dan militer, tapi di dunia pendidikan namanya juga diabadikan sebagai nama universitas yang terdapat di Bandar Lampung yaitu Universitas Malahayati.

Pada tahun 2007, kebesaran nama dan juga perjuangannya dihidupkan kembali dalam sebuah serial film Laksamana Malahayati yang mengisahkan riwayat hidup Malahayati.

Nama Malahayati juga dipakai oleh Ormas Nasional Demokrat sebagai nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati.

Malahan, baru-baru ini warga Aceh di perantauan mengusulkan nama pahlawan Aceh, Laksamana Keumalahayati menjadi nama jalan di Jakarta.

Penasihat Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP-TIM) Mustafa Abubakar menyatakan ide tersebut sangat mungkin dilaksanakan. Sebelumnya pada era Gubernur DKI Jakarta Surjadi tahun 1990-an disahkan dua nama pahlawan Teuku Panglima Polem dan Sultan Iskandar Muda sebagai nama ruas jalan protokol di Jakarta.

Minim Pahlawan Perempuan Saat ini sebanyak 169 tokoh telah dianugerahi gelar pahlawan nasional, namun baru 12 di antaranya yang wanita.

Dengan dianugerahinya gelar pahlawan nasional kepada Laksamana Malahayati, maka bertambahlah daftar menjadi 13 perempuan.

Bertambahnya empat tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2017, menjadikan jumlah total pahlawan nasional kini sebanyak 173 orang.
Minimnya pahlawan nasional perempuan mendorong Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengusulkan pejuang perempuan asal Aceh Laksamana Malahayati sebagai calon pahlawan nasional.

“Hingga saat ini dari 169 pahlawan nasional, baru 12 di antaranya perempuan. Oleh sebab itu, kami mengusulkan Laksamana Malahayati untuk mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai pahlawan nasional,” ungkap Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo di Jakarta, pada Kowani fair yang dilaksanakan 1 Juni lalu.

Menurutnya, pejuang perempuan yang bernama Keumalahayati dan merupakan keturunan Kesultanan Aceh tersebut sudah diakui dunia. Dengan demikian, sudah selayaknyalah pemerintah memberikan penghargaan dengan gelar pahlawan nasional.

Baca juga: Heboh, Begini Tampilan Kahiyang dengan Baju Tidur Imut Usai Malam Pertama

Khofifah Indar Parawansa sebagai Menteri Sosial menuturkan, pahlawan nasional menjadi gelar yang diberikan pemerintah kepada seorang Warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara yang semasa hidupnya tanpa cela.