Imbas Putusan MK Terkait Penghayat Kepercayaan, MUI Khawatirkan Dampak Buruk Ini


SURATKABAR.ID – Fahmi Salim, Sekjen Komisi Dakwah MUI mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sebelumnya, MK telah memutuskan dan menyatakan jika penganut kepercayaan bisa masuk kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan juga Kartu Keluarga (KK).

Fahmi mempertanyakan dasar apa MK memutuskan penganut kepercayaan bisa masuk ke kolom agama yang berada di KK dan juga KTP. Padahal menurutnya, undang-undang sendiri sudah mengatur agama-agama apa saja yang diakui di negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kalau dia masuk dalam kolom KTP itu landasan UU apa? Apakah sudah ada yang mengatur bahwa di Indonesia terdapat beberapa jenis kepercayaan?” tanya Fahmi, Jakarta pada Selasa (7/11/2017) seperti yang diwartakan oleh Republika.co.id

Baca juga: MK Ketok Palu Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama di KTP dan KK, Begini Respon Tak Terduga Pemohon

Menurutnya lagi, jika memang keputusan MK mengikuti aturan yang ada, hal itu tak perlu dipermasalahkan. Namun, jika keputusan yang diambil MK tidak berlandaskan pada UU makan menurutnya keputusan yang dibuat itu blunder.

“Kalau tidak ada ini menurut saya blunder, kolom kepercayaan diisi (di KTP) tapi tidak ada landasan UU atau peraturannya itu mau diisi apa namanya?” ujar dia.

Lebih jauh lagi, Fahmi menjelaskan jika kehidupan keagamaan akan semakin runyam dan tidak jelas. Fahmi mengkhawatirkan nantinya masyarakat akan semakin banyak membuat kepercayaan masing-masing karena keputusan yang diambil MK itu.

“Dalam kehidupan sosial keagamaan yang saya katakan ini anarkis. Masing-masing ingin menunjukkan eksistensinya, nanti akan berdampak pada stabilitas politik dan stabilitas nasional dan ini bahaya menurut saya,” beber Fahmi.

Baca juga: Memanas! Pengacara Setnov Bakal Adukan KPK ke Pengadilan HAM Den Haag Jika…

Fahri kembali melanjutkan, jika semakin bermunculan aliran-aliran kepercayaan justru akan semakin sulit dikontrol, orang akan bisa membuat kepercayaan masing-masing lalu akan menyempal dari agama dan tak mau tunduk pada agama yang diakui di Indonesia.

“Orang akan bisa membuat kepercayaan masing-masing, lalu bermunculan aliran-aliran yang akan menyempal dari agama, tidak mau dikontrol tunduk pada agama yang akui Indonesia, ini lalu menyebabkan ada dampak negatifnya,” jelas