Tahukah Anda? Perdagangan Daging Anjing Dinilai ‘Brutal’ di Indonesia, Ini Faktanya

WHO Identifikasi Konsumsi Daging Anjing Menjadi Penyebab Utama Penyebaran Rabies di Indonesia


*Peringatan: Foto dan video dalam tulisan ini mungkin bisa mengganggu kenyamanan Anda.

SURATKABAR.ID – Pada November ini, sejumlah aktivis dari berbagai organisasi meluncurkan kampanye Indonesia Bebas Daging Anjing (Dog Meat Free Indonesia) dan hasil investigasi ke tempat pengepulan dan penyedia daging anjing di Jawa Barat, juga Jawa Tengah. Konsumsi daging anjing di Indonesia mendapat kritik dari aktivis pemerhati hak hewan. Mengonsumsi daging anjing dipandang sebagai bentuk kekerasan terhadap binatang. Di sisi lain, konsumsi daging anjing merupakan bagian dari budaya bagi beberapa kalangan masyarakat.

Dilansir dari laporan BBC.com, Rabu (8/11/2017), dalam video investigasi Dog meat free Indonesia, tampak puluhan anjing terikat di bagian mulut dan kaki. Mereka dibawa dengan menggunakan motor, kemudian dilempar ke dalam sebuah truk.

Tim investigasi mengikuti pemasok daging anjing yang berada di sejumlah lokasi di Cilacap, Jawa Tengah, dan Ciamis, Jawa Barat.

Dessy Zahara Angelina Pane selaku Direktur program Animal Friends Jogya (AFJ),  menyebutkan banyak anjing dalam kondisi sakit.

Baca juga: Usai Konten GIF Pornonya Dibersihkan, WhatsApp Batal Diblokir

“Kondisinya benar-benar memprihatinkan, karena banyak sekali lokasi pengepulan itu areanya terbuka dan banyak anjing terikat ke pohon-pohon dan kondisi mereka itu sudah terlihat lemah dan menderita sakit kulit yang parah,” urainya.

Anjing Hasil Curian?

Dugaan Angelina, sejumlah anjing merupakan hasil curian.

“Sempat kita menunggu ada motor yang datang dan membawa anjing dalam kondisi terikat dan itu kemungkinan besar juga anjing curian karena kita menunggu cukup lama untuk pengepulnya itu bisa mendapatkan anjing ini,” ungkap Angelina.

Merujuk data yang ada, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah organisasi peduli hewan pun menerima lebih banyak laporan orang yang kehilangan anjing peliharaan. Dengan kata lain, kasus kehilangan anjing pun meningkat.

Angelina melanjutkan, para pemasok ini mengirimkan puluhan anjing yang masih hidup ke Yogya dan Solo.

“Dari 1 supplier daging anjing bisa mengangkut sampai 60 anjing, 2-3 kali dalam seminggu, di Yogyakarta ada 6.450, dan di Solo ada 12.840 anjing yang disembelih setiap bulannya,” papar Angelina.

Di tempat penjagalan, anjing biasanya di potong di area yang terbuka, dan bahkan disaksikan oleh anjing yang masih terikat mulut dan kakinya.

Selain Yogya dan Solo, konsumsi daging anjing juga banyak dilakukan di Manado, Bali dan Jakarta. Menurut perkiraan pegiat penyayang binatang, sekitar satu juta ekor anjing di seluruh Indonesia dibunuh untuk dijadikan makanan.

Penyebaran Rabies Disorot WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga  tengah menyoroti konsumsi daging anjing di Indonesia. Mereka mengidentifikasi bahwa perdagangan daging anjinglah yang menjadi penyumbang utama penyebaran penyakit rabies di Indonesia.

Berdasarkan investigasi Dog Meat Free Indonesia, ditemukan bahwa anjing-anjing yang dibunuh untuk dijadikan makanan itu berasal dari daerah yang tidak bebas rabies—seperti Cilacap, Pangandaran, dan Ciamis, Jawa Barat.

Padahal Yogyakarta dan Solo sebagai daerah tujuan para pemasok sudah bebas rabies.

Anung Endah Suwasti selaku Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkapkan, meski sudah ada surat edaran gubernur berisi larangan masuknya hewan dari daerah yang belum bebas rabies seperti Jawa Barat, namun pengawasannya masih sulit dilakukan.

“Tenaga pengawas kita terbatas. Selama ini pos pengawasannya juga kurang,” jelas Anung.

Anung menambahkan, upaya yang dapat dilakukan adalah memperketat pengawasan di pos perbatasan antar daerah untuk mencegah masuknya anjing dari luar DIY, karena tidak ada aturan tentang anjing sebagai hewan potong.

“Tempatnya paling banyak di Kabupaten Bantul. Dan kita tidak bisa melarangnya karena tidak ada aturannya. Memang berbahaya tapi permasalahannya, konsumennya ada. Jadi ini memang dilema dan terjadi di setiap propinsi,” beber Anung.

Tak adanya aturan untuk melarang konsumsi daging anjing, membuat peredarannya cukup sulit untuk ditangani.

“Ini masalah yang sedikit pelik, karena tidak ada hukum yang melarang pembunuhan anjing untuk dimakan. Tetapi banyak aktivitas illegal di sekitarnya yang dapat diatasi, seperti pengangkutan dan penjagalan anjing yang biasa dilakukan di daerah perumahan, yang tergolong ilegal,” sebut Karin Franken dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

Warung Daging Anjing di Yogya dan Solo

Di Solo, daging anjing cukup populer dan biasa dikenal dengan nama sate jamu. Salah satu warung yang ramai didatangi yaitu shelter Komplang, Nusukan, Banjarsari.

Sejumlah motor dan mobil berderet parkir rapi di depan sebuah warung makan, para pembeli yang tak hanya berasal dari Solo bergantian keluar masuk membeli rica-rica daging anjing atau lebih dikenal dengan sebutan rica-rica guguk pada Jumat (03/11/2017) lalu.

Sukardi, pemilik warung makan rica-rica guguk telah merintis usaha kuliner ini sejak tahun 1979 lalu. Kini, empat cabangnya telah tersebar di sekitar Surakarta.

Dalam sehari, Sukardi mengaku memotong empat sampai lima ekor anjing per hari, yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat; Pelabuhan Ratu, Tasikmalaya, Indramayu, Pangandaran.

“Anjing didatang dari daerah itu, karena kalau dari lokal sudah tidak ada. Itu anjing liar, kalau pas ujan kan banyak yang turun. Usianya paling sekitar 8 bulan sampai setahun. Paling kecil mungkin bobotnya 9 kilogram, ” jelasnya.

Sukardi membeli anjing dalam kondisi hidup langsung dari pemasok.

“Jadi semisal satu truk di-drop ke Solo. Nanti satu truk itu dibagi-bagi ke beberapa penjual di Solo. Anjing disembelih kayak sapi itu,” urainya kemudian.

Dia mengaku berusaha menjaga kebersihan dan higienitas masakan sate jamu yang dijual dengan harga Rp 18.000.

Seorang pelanggan kuliner daging anjing bernama Vinto meyakini, dengan mengonsumsi daging anjing, aka nada sejumlah khasiat yang didapatkannya.

“Kalau makannya itu malam, efeknya badan hangat. Terus esok harinya usai bangun tidur badan akan terasa lebih segar,” bebernya.

Tyo Pras—penggemar daging anjing lainnya, juga menyebutkan alasan kesehatan yang membuatnya mengkonsumsi daging anjing secara rutin selama satu bulan sekali.

“Nggak tahu itu semacam sugesti atau apa, tetapi di badan memang terasa hangat,” tuturnya.

Di Yogyakarta, daging anjing banyak dijual di warung makan namun lebih tertutup. Biasanya, warung-warung itu memiliki ciri tersendiri, seperti Warung Sengsu, Rica-rica Guguk, Rica-rica RW, atau Tongseng Jamu.

Seperti salah satu warung makan yang menyediakan daging anjing yang berada di sekitar kantor Samsat Yogyakarta. Namun di menu yang dipajang di dalam warung tertulis RW untuk daging anjing.

Salah satu pelanggan warung yang ditemu tengah memakan masakan rica-rica, Andi Pratama—bukan nama sebenarnya—mengetahui anjing merupakan salah satu Hewan Pembawa Rabies (HPR), dan berbahaya untuk manusia.

“Kalau rabies bisa disembuhkan, dan di sini saya percaya dagingnya bersih dan aman dari rabies,” dia mengungkapkan.

Seorang wanita penjaga warung makan yang tidak ingin disebutkan identitasnya menuturkan, rata-rata ada 20 kilogram daging anjing yang diperoleh dari tempat penjagalan yang berada di Kabupaten Sleman.

Ia melanjutkan, selama 20 tahun menyediakan daging anjing, tak pernah ada keluhan dari para pelanggan.

“Dan belum pernah ada pembeli yang mengeluh sakit akibat makan RW di sini,” katanya.

Kampanye Indonesia Bebas Daging Anjing

November ini, sejumlah pegiat penyayang binatang itu menyerukan penghentian konsumsi daging anjing dalam kampanye Indonesia Bebas Daging Anjing (Dog Meat Free Indonesia) dengan alasan kesehatan; selain merupakan bentuk kekerasan terhadap hewan.

Dalam investigasinya, Dog Meat Free Indonesia menemukan penjagalan anjing dilakukan secara brutal.

Karin Franken dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) menyebutkan, peluncuran video ini merupakan bagian dari kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Sangat mengerikan, begitu banyak hewan yang harus menderita begitu hanya demi kenikmatan manusia. Dan kami ingin orang tahu bahwa karena Anda ingin makan daging anjing, Anda turut mendorong penyebaran rabies. Dan bahwa tak ada mahluk hidup yang patut mengalami penderitaan seperti itu,” tutur Karin.

Selain JAAN dan Animal Friends Jogya (AFJ), sejumlah organisasi dan selebritis penyayang binatang juga mendukung Dog Meat Free Indonesia. Mereka terdiri dari Change For Animal Foundation, Humane Society International, Chelsea Island, Melanie Subono dan Sophia Latjuba.

Baca juga: Viral! Terlilit Utang Miliaran Hingga Nyaris B***h Diri, Begini Gaya Hidup Angela Lee yang Mirip Anniesa Hasibuan

Berikut adalah cuplikan video kampanye mereka. *Peringatan: foto dan video dalam tulisan ini mungkin bisa mengganggu kenyamanan Anda.