Sadar atau Tidak, Banyak yang Berlaku Curang di Rumah Tuhan


    SURATKABAR.ID – Ketika ibadah haji, ada saja yang berfoto di luar masjid untuk menjadkan masjid sebagai latar belakang. Namun, ada juga yang mengambil foto di tempat-tempat sakral, padahal sebenarnya dilarang berfoto. Misalnya, di Ka’bah, dan di dalam raudhah  (tempat di sekitar mimbar yang dulu dipakai Nabi di Mesjid Nabawi), dekat makam Nabi, dan lainnya.

    Tak sedikit pula yang berfoto sambil beraktivitas ibadah, misalnya ketika tawaf dan sa’i. Kadang yang mengeherankan, ada juga pembimbing hajiyang tawaf sambil merekam dengan kamera videonya.

    Apakah ini boleh? Banyak pendapat soal ini secara fiqh atau syariat.

    Memang tawaf dan sa’i tidak seketat salat, di mana orang dilarang melakukan atau mengucapkan apa pun selain yang sudah ditentukan. Dalam tawaf dan sa’i, orang boleh saja sambil melakukan hal lain. Berkata-kata selain doa dan zikir juga dibolehkan.

    Namun, bagaimana dengan memotret dan merekam video? Untuk itu tidak ada larangan secara khusus.

    Baca juga: Paradoks! BPJS Alami Defisit, Tambalan Dananya dari Cukai Rokok

    Tapi, sebaiknya coba sekali lagi kita pikirkan. Bukankah itu adalah ritual beribadah? Di mana, kita sedang memuja Tuhan di hadapan-Nya. Mengapa harus foto-foto?

    Jika dibuat perumpamaan seperti ini, saat kita ada rapat dengan presiden direktur dari kantor pusat, pasti rasanya ingin berfoto untuk pamer kalau kita pernah rapat dengan beliau. Namun, kita mana berani karena takut dianggap berbuat tak sopan. Lalu, kenapa waktu memuja Tuhan kita berani saja melakukannya?

    Seperti dilansir dari bbc.com mengutip dari tulisan Hasanudin Abdurakhman, dirinya menanyakan hal tersebut kepada ustaz pembimbingnya ketika dulu pergi umrah. Jawaban beliau ialah, “Saya tidak mau repot dengan seluk beluk fiqh. Tanya saja diri sendiri, datang ke sini itu tujuannya apa? Untuk pelesir dan berfotokah?”

    Analogi menarik diberikan oleh ustaz lainnya. “Kalau ada seseorang yang berswafoto atau merekam video saat dia sedang bermain sepak bola, dapatkah kita sebut dia bermain dengan serius?”

    Lalu, bagaimana ketentuan soal ini menurut pengelola mesjid?

    Ada tanga dilarang memotret di kedua masjid tersebut, tanda itu dalam bentuk papan peringatan dengan simbol, tulisan serta ada papan elektronik. Ada tambahan peringatan di papan elektronik, menghimbau supaya jamaah fokus pada ibadah, dan meninggalkan hal-hal selain ibadah.

    Larangan ini dulunya diberlakukan dengan ketat. Setiap orang yang masuk dan keluar masjid pun diperiksa, apakah mereka membawa kamera ataukah tidak. Ada cerita dari teman Hasanudin yang mengatakan bahwa ia sampai dibawa ke ruangan pengelola masjid, ia pun diperiksa karena sudah memotret.

    Namun tetap, meski ada larangan ketat, masih ada saja yang membawa kamera dengan sembunyi-sembunyi, malah bercerita dengan bangga ketika pulang dari haji.

    Sekarang pemeriksaan ketat sudah tak ada lagi. Jarang juga petugas yang berjaga menegur orang-orang yang berfoto. Barangkali itu karena sudah sulit sekali mencegah orang untuk membawa kamera. Bagaimana tidak, kini semua telepon genggam sudah dilengkapi kamera. Melarang orang membawa telepon genggam juga tak mungkin dilakukan.

    Meski demikian, lepas dari penjagaan ketat maupun longgar, kan sudah sepatutnya mematuhi larangan ini?

    Baca juga: Kalau Setnov Jadi Tersangka Lagi, Pengacara Bakal Pidanakan KPK

    Sebaiknya kita coba tanyakan kembali pada diri sendiri. Apa tujuan pergi ke tanah suci? Untuk memenuhi panggilan Allah. Kita ingin menunjukkan bahwa diri kita ini patuh kepada-Nya. Namun, perilaku kita malah memperlihatkan sebaliknya. Berbagai cara dilakukan untuk melanggar ketentuan. Kita pun melakukannya di rumah Tuhan, rumah Allah.

    Karena inilah kita perlu bercermin, pergi haji dan berada di tanah suci tidak serta-merta menjadikan diri kita lebih baik. Barangkali, itu karena fokus kita kepada ritual-ritual vertikal saja, sampai melupakan ritual yang sifatnya horizontal.

    Bisa juga, dikarenakan diri kita lalai memperbarui standar etika dan moral kita, sampai-sampai kita masih menganggap layak terhadap hal-hal yang curang dan tidak patut dilakukan di rumah Allah.