Tragedi Tampomas II Menyisakan Misteri yang Tak Terpecahkan


    SURATKABAR.ID – Tanggal 27 Januari 1981 menjadi salah satu momen yang masih menyisakan misteri dalam catatan sejarah hitam Indonesia. Waktu itu hari Senin. Kapal Motor Penumpang (KMP) Tampomas II milik Pelni tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembo di Laut Jawa (termasuk wilayah Jawa Timur), dalam pelayaran dari Tanjung Priok ke Makassar. Peristiwa nahas yang menimpa kapal penumpang kebanggaan tanah air tersebut menorehkan dukacita yang mendalam bagi rakyat RI.

    Di tengah lautan—sebelah selatan Pulau Matisiri, 220 mil dari Selat Makassar, dekat Pulau Masalambo—awak Kapal Motor (KM) Sangihe melihat asap mengepul tebal. Capt. Agus KS yang merupakan Nakhoda KM Sangihe mengarahkan haluan mendekati sumber asap. Awak KM Sangihe mendengar, “teriakan-teriakan histeris dan ngeri. Ada yang berteriak dengan adzan atau berdoa kepada Tuhan agar memberikan perlindungan, ada pula yang berteriak minta tolong,” demikian ditulis dalam koran Merdeka, edisi 4 Februari 1981—sebagaimana dikutip dari laporan JPNN.com, Minggu (29/10/2017).

    Semakin mereka mendekat, kian tampak jelas Tampomas II terbakar. Melalui saluran radio, KM Sangihe mengirim kabar ke radio pantai di Surabaya dan Ujung Pandang. Juga ke kapal-kapal lain yang berada di sekitar perairan tersebut. KM Sangata, KM Niaga XXIX, KM Istana VI, KM Jeruk, KM Wayabullah, KM Adiguna dan KM Brantas segera merapat begitu mendapat kabar dari KM Sangihe.

    Tak hanya itu saja. Ada juga kapal Sonne milik Jerman, kapal Korea, kapal Inggris dan kapal Singapura yang sedang melintasi perairan Makassar. Mereka memberi pertolongan.

    Baca juga: Try Sutrisno Tantang Amerika Buka Dokumen G30S/PKI

    Kilas Balik Kejadian

    Jumat, 23 Januari 1981

    Tiga hari sebelum tragedi, KM Tampomas II dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta tujuan Ujung Pandang (kini Makassar), Sulawesi Selatan. Kerusakan mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.

    Sabtu, 24 Januari 1981

    Beralih ke Tanjung Priok, peluit panjang berbunyi. Pukul 09.55 WIB KM Tampomas II meninggalkan Tanjung Priok. Merujuk manifes, kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak kapal.

    “Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak terdaftar di manifes,” tulis Bondan Winarno dalam Neraka di Laut Jawa: Tampomas II. Buku ini ditulis berdasarkan reportase para jurnalis Sinar Harapan dan Mutiara.

    Dari sejumlah studi pustaka dan penjelajahan kecil yang dilakukan tim wartawan, didapati sejumlah surat kabar yang memberitakan Tragedi Tampomas II.

    Koran Sinar Harapan edisi 3 Februari 1981 menulis, selain mengangkut penumpang, Tampomas II juga membawa banyak kendaraan bermotor.

    Dituturkan oleh Kepala Pelni cabang Ujung Pandang B. Sumarto, ada 334 motor roda dua; Vespa dan Honda, 197 mobil dan 380 pak kiriman paket pos.

    Yang diangkut termasuk kendaraan roda empat jenis Toyota milik NPH Jikala sebanyak 81 buah, Daihatsu milik UD Jujurjaya 30 buah.

    “Seorang pimpinan yang mengirim kendaraan bermotor ini mengakui kendaraan yang dikirim dengan KM Tampomas II berisi bahan bakar. Menurutnya, per unit diisi 3-5 liter karena mobil harus dijalankan masuk palka tempat penyimpanan mobil,” tulis sebuah koran.

    Minggu, 25 Januari 1981

    Kapal berada di perairan Masalambo sewaktu muncul percikan api di geladak bawah di tempat penyimpanan kendaraan bermotor (car deck). Dengan cepat, lidah api menyambar tong minyak pelumas.

    Tak ayal kebakaran dimulai! Waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA saat itu.

    Sebagaimana dikisahkan Bondan Winarno, di anjungan, terlihat Nakhoda Tampomas II, Capt. Abdul Rivai mengedarkan pandangan ke arah buritan yang terbakar.

    “Ia ingat, pada Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di perairan Ujung Pandang,” ungkap Bondan, penulis yang belakangan sering membawakan program petualangan kuliner yang populer dengan jargon “maknyuuus!” tersebut.

    Karena dekat dengan kamar mesin, kebakaran di car deck sangat berbahaya. Nakhoda paham ini. Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak berfungsi. Api menyebar ke ruangan lain. Satu persatu penumpang jadi korban.

    Capt. Rivai kembali menyalakan mesin. Rencananya, Tampomas II dibawa ke pulau terdekat, lalu mendamparkannya ke pantai. Namun, apa boleh buat. Mesin tak berhasil menggerakkan baling-baling. Panas api telah melumpuhkannya.

    Kapal tak bisa mengirim kabar SOS lantaran radio pun mati. Flares (isyarat cahaya) yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II benar-benar dalam bahaya.

    Api terus berkobar menjalar ke lantai dek. Korban terus berjatuhan. Beberapa orang meloncat ke laut. Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.

    “Sebaiknya kita turun saja, Kep,” sebut Karel Simanjuntak, seorang awak kapal yang berada di dekat Capt. Rivai.

    “Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat?” sahut Capt. Rivai, seperti termaktub dalam buku Neraka di Laut Jawa: Tampomas II karya Bondan Winarno.

    Anak sulung Rivai, Mohammad Ichsan, mengisahkan, ayahnya bukan tipe orang yang mudah panik. “Ini pernah dialaminya sendiri ketika mengikuti pelayaran ayahnya sebagai nakhoda KM Krawatu dan kapal itu terlanda badai topan di Laut Cina Selatan,” tulis koran Kompas, 3 Februari 1981.

    Senin, 26 Januari 1981

    Di tengah lautan—sebelah selatan Pulau Matisiri, 220 mil dari Selat Makassar, dekat Pulau Masalambo—Tampomas II yang terbakar, akhirnya tenggelam. Bersemayam di dasar lautan.

    Sebelum tenggelam, sebagaimana dikisahkan Wagiman, masih terlihat Capt. Abdul Rivai dengan tenang menolong beberapa penumpang wanita, lalu melambaikan tangannya, kemudian masuk ke kapal. Wagiman merupakan kepala rombongan PT Pembangunan Jaya, saksi mata Tragedi Tampomas II, tulis koran Merdeka, 4 Februari 1981.

    Geladak makin terbenam

    Harapan belum pudar

    Masih ada yang ditunggu

    Mukjizat dari-Nya

    Syair di atas adalah cuplikan lagu Langkah Berikutnya dari album kelima Ebiet G Ade—sebuah lagu ungkapan dukacita mewakili raungan tangis anak bangsa.

    Penyanyi Iwan Fals juga merekam peristiwa itu dalam lagu bertajuk Celoteh Camar Tolol dan Cemar.

    Api menjalar dari sebuah kapal

    Jerit ketakutan, keras melebihi gemuruh gelombang yang datang

    Sejuta lumba-lumba mengawasi cemas, risau camar membawa kabar

    Tampomas terbakar, risau camar memberi salam

    Tampomas II tenggelam

    Ada yang menuturkan, Nakhoda Tampomas II Capt. Abdul Rivai-lah yang paling sibuk menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Saat kapal mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut.

    Bahkan pada detik-detik terakhir saat kapal mulai tenggelam, Capt. Abdul Rivai masih terlihat  di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela. Ia memegang teguh janjinya untuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana. Capt. Abdul Rivai sempat dikabarkan hilang.

    Melansir Republika.co.id, Sabtu (17/9/2016), total jumlah penumpang kapal nahas itu, yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah 82 awak kapal. Namun rupanya kapal tersebut juga membawa terdapat ratusan penumpang gelap hingga keseluruhan mencapai 1.442 orang.

    Tim penyelamat memperkirakan 432 orang tewas (143 mayat ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal). Sementara, 753 orang diselamatkan. Sumber lain menyebutkan korban sebenarnya mencapai 666 orang.

    Proses karamnya KMP Tampomas II berlangsung selama tiga hari. Dimulai dengan terbakarnya kamar mesin akibat puntung rokok. Tenggelamnya KMP ini merupakan kecelakaan laut terbesar kala itu.

    Nakhoda Tampomas II yang tewas bersama ratusan penumpang yang ikut terjun ke laut, sempat berteriak, “Sabotase! Sabotase!”

    Begitu derasnya gelombang laut, banyak mayat yang ditemukan di perairan Sulawesi, jauh dari tempat tenggelamnya kapal.

    Dikatakan bahwa tak ada seorang pejabat pun yang mau bertanggung jawab atas tenggelamnya KMP Tampomas II. Semuanya berujung pada kesalahan awak kapal. Tak ada tuntutan kepada pejabat pemerintah, misalnya terhadap JE Habibie yang saat itu menjabat sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Skandal ini, terutama menyangkut pembelian kapal bekas dari Jepang seharga 5 juta dolar AS, sengaja ditutup-tutupi pemerintahan Soeharto, kendati banyak desakan pengusutan dari anggota DPR.

    Misteri Perairan Indonesia yang Ganas

    Sudah sejak dulu perairan Indonesia sejak dulu terkenal ganas. Seperti pada saat-saat kedatangan VOC pertama kali ke Nusantara akhir abad ke-16. Dari belasan kapal ekspedisi Belanda, hanya empat kapal yang selamat tiba di Batavia. Lainnya tenggelam di laut dengan ratusan anak buah. Pada 28 Oktober 1628, Gubernur Jenderal JP Coen pernah mendatangkan pintu gerbang Batavia dari negeri Belanda, namun tidak pernah sampai.

    Kapal bernama Batavia itu berangkat dari pelabuhan Texal membawa 341 orang penumpang—dua pertiga pelaut dan 38 wanita serta anak-anak. Seperti juga Titanic, kapal milik VOC itu menerjang karang dan kandas di sebuah kepulauan di Australia Barat. Lokasi musibah tak ditemukan sampai 1950. Konon, peristiwa ini terjadi karena nakhodanya mabuk berat.

    Sebelum era kapal uap dan dibukanya Terusan Suez pada 1858, kapal-kapal layar harus melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan, hingga pelayaran dari Eropa ke Indonesia memerlukan waktu berbulan-bulan. Kadang-kadang lebih setahun, dengan risiko kemungkinan karam, para awaknya terkena penyakit, atau perampakan yang sering terjadi kala itu.

    Lantaran banyaknya kapal yang rusak, tidak heran kalau VOC mendirikan galangan dan reparasi kapal di Pulau Onrust, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Di galangan yang pernah disinggahi oleh kapal James Cooks, yang diklaim oleh orang Eropa sebagai penemu Australia, itu dipekerjakan ratusan budak belian yang diharuskan bekerja tanpa mengenal lelah.

    Di pulau, yang kini makin menyempit akibat abrasi, itu tokoh DI/TII Maridjan Kartosuwirjo pernah ditembak mati pada 1960-an, karena melakukan pemberontakan bersenjata untuk mendirikan negara Islam. Bung Karno juga pernah memenjarakan sejumlah tokoh Liga Demokrasi’ yang dianggap oposisi terhadapnya di pulau itu. Para pengemis dan gelandangan yang tertangkap pada masa itu juga ‘dibuang’ ke Onrust.

    Pernah terjadi pemberontakan di Kapal HMS Bounty (berbobot mati 1.215 ton), saat berlayar ke Tahiti (difilmkan oleh Hollywood). Kapten kapal kemudian diturunkan oleh wakilnya ke sekoci bersama 18 orang pengikutnya. Mereka terdampar di Timur (Kupang), dan baru 18 tahun kemudian di ditemukan masih hidup (1908).

    Baca juga: Lima Bulan Ditahan, Ahok: Pokoknya Nyesel Deh Orang-orang yang Kirim Saya ke Penjara

    Kapten kapal itu kemudian ke Batavia dan pernah menginap di Toko Merah, Kalibesar, Jakarta Kota. Sejak dulu, pada saat-saat musim angin barat (Desember-Januari), nelayan kepulauan Seribu tidak melaut. Itulah sebabnya harga ikan laut jadi mahal.