Deretan Faktor Ini Jadi Penentu Nasib Rupiah Tahun Depan


SURATKABAR.ID – Diprediksikan oleh pemerintah, nilai tukar Rupiah untuk tahun depan akan menjadi lebih lemah. Diasumsikan secara rata-rata bahwa Dollar Amerika Serikat (AS) akan berada di besaran level Rp 13.400. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara menyebutkan, meski lebih lemah, pemerintah tetap mengupayakan agar Rupiah tidak bergerak liar.

Pendorongnya tak lain terletak pada kinerja perekonomian nasional yang relatif baik, seperti akselerasi proyek infrastruktur, keberhasilan program pengampunan pajak, terjaganya tingkat inflasi, neraca pembayaran, terkendalinya defisit transaksi berjalan, hingga kuatnya cadangan devisa.

“Nilai tukar Rupiah 13.400 secara rata-rata dalam 1 tahun di 2018. Tentu ini akan dipengaruhi faktor kinerja ekonomi yang makin baik, akselerasi infrastruktur, perbaikan peringkat investment grade, tapi tetap memperhatikan resiko global dari kenaikan fed fund rate, dan pengurangan besaran balance sheet dari federal reserve,” paparnya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/10/2017), seperti dikutip dari laporan Finance.Detik.com.

Ia melanjutkan, kebijakan stabilitasi nilai Rupiah secara terukur sesuai dengan fundamental ekonomi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dan penurunan suku bunga acuan BI.

Baca juga: Ketika 3 Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK Dipandang Gagal oleh Pakar Ekonomi Faisal Basri

Faktor lainnya yang mempengaruhi stabilitas nilai Rupiah tahun depan adalah peningkatan sovereign rating Indonesia ke investment grade (BBB-).

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait hal tersebut, seperti perbaikan ekonomi AS hingga pengurangan balance sheet dari The Fed. Pelaksanaan kebijakan perdagangan AS di bawah pemerintahan baru yang cenderung proteksionisme.

Terakhir, rebalancing ekonomi China, dan ketidakpastian permasalahan geopolitik, terutama antara AS dengan Korea Utara dan krisis Qatar juga turut menjadi faktor penentu yang mesti mendapat perhatian.

“Karena itu untuk ekonomi makro, indikatornya di 2018, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,4%, inflasi 3,5%, Rupiah di 13.500/US$, suku bunga SPN 5,3%, harga minyak US$ 48/barrel dan lifting minyak 800 ribu barrel/hari,” demikian Suahasil menguraikan.

Gubernur BI Tanggapi Dolar AS di Rp 13.500

Sementara itu, hingga saat ini dolar Amerika Serikat (AS) berada pada level Rp 13.514. Besaran ini cukup signifikan bila dibanding posisi bulan lalu yang berada di Rp 13.200.

Dalam laporan Finance.Detik.com, Agus Martowardojo selaku Gubernur Bank Indonesia (BI) memastikan posisi Rupiah yang masih dalam tren pelemahan ini disebabkan oleh efek dari kondisi eksternal. Di dalam negeri sendiri, menurutnya, tak ada permasalahan serius.

“Jadi kondisi ini adalah kondisi yang cukup baik dari Indonesia. Perkembangan di luar negeri perlu diwaspadai,” ungkap Agus di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Agus menambahkan, kondisi luar negeri yang patut diwaspadai salah satunya adalah dari AS. Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal kenaikan suku bunga acuan jelang akhir tahun.

“Kita juga mendengar balance sheet reduction The Fed yang akan dilakukan. Namun yang banyak dibicarakan kepastian yang akan dipilih untuk meneruskan sebagai chair dari The Fed. Hal-hal ini yang utama terjadinya gejolak pasar uang,” bebernya.

Agus mengatakan, dari dalam negeri, tidak ada persoalan yang begitu serius. Pertumbuhan ekonomi 5,01% selama semester I-2017 dan diproyeksi 5,1-5,2% di semester II. Inflasi berdasarkan suvei minggu ketiga Oktober 3,66% (year on year).

Baca juga: Ini yang Dilakukan KPK untuk Cegah Korupsi Daerah dan Sektor Swasta

Posisi defisit transaksi berjalan juga semakin rendah, dengan perkiraan di bawah 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Yang umum Fundamental ekonomi kita dalam kondisi baik,” pungkasnya menegaskan.