Memprihatinkan! Nasib 200.000 Anak Rohingya yang Mengungsi Dipertanyakan, Begini Tanggapan Paus Fransiskus


SURATKABAR.ID – Mengenai nasib ratusan anak Rohingya yang berada di kamp-kamp pengungsi, Paus Fransiskus mengungkapkan keprihatinannya pada Senin (23/10/2017). Ia menyatakan rasa ibanya terkait nasib 200.000 anak Rohingya yang terkatung-katung di kamp-kamp pengungsi, sebulan sebelum ia bertolak ke Myanmar dan Bangladesh di tengah krisis kemanusiaan yang semakin mengkhawatirkan.

“Sebanyak 200.000 anak Rohingya berada di kamp pengungsian. Mereka tidak memperoleh asupan makanan yang cukup meski mereka berhak mendapatkan makanan. Mereka mengalami kekurangan gizi dan tidak memperoleh obat,” papar pemimpin Gereja Katolik Roma tersebut, seperti diungkapkan dalam reportase Antaranews.com, Selasa (24/10/2017).

Rencananya, Sri Paus akan akan mengunjungi negara Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha tersebut pada 27-30 November—sebelum bertolak ke Bangladesh, yang menampung lebih dari setengah juta pengungsi Rohingya korban konflik di Myanmar.

Sebelumnya, Paus menyatakan dukungannya bagi kelompok minoritas muslim Myanmar tersebut dan menyebut Muslim Rohingya sebagai “saudara laki-laki dan perempuan”. Ini dilakukannya saat krisis Rakhine menjadi perhatian global untuk pertama kalinya pada Oktober 2016—setelah milisi Rohingya membunuh sembilan polisi dalam serangan ke sebuah pos perbatasan.

Baca juga: Menohok! Tanggapi Soal Densus Tipikor Polri, Busyro: Mulailah dari Rekening Gendut Dulu Saja

“Kami belum tahu apa yang akan disampaikannya… Tapi dia akan datang untuk kepentingan negara ini dan akan berbicara tentang perdamaian,” ungkap Pastor Mariano Soe Naing, juru bicara Konferensi Uskup Myanmar seperti dilaporkan AFP via Kompas.com.

“Tidak akan ada pertemuan (dengan tokoh) antaragama karena kurangnya waktu,” bebernya, meskipun demikian, Paus akan bertemu dengan otoritas tertinggi Buddhis.

Dalam kunjungannya, dikatakan bahwa Paus akan bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Diketahui, Aung San Suu Kyi merupakan peraih Hadiah Nobel Perdamaian yang belakangan menuai kecaman masyarakat dunia. Pasalnya, sikapnya yang enggan mengecam tindakan brutal aparat militer negara terkait terhadap warga Rohingya belakangan dianggap tidak benar. Publik menilainya kurang bersimpati kepada warga Rohingya.

600.000 Warga Rohingya Mengungsi ke Bangladesh

Sementara itu, berdasarkan catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Minggu (22/10/2017), lebih dari 600.000 pengungsi Rohingya meninggalkan Myanmar demi mengungsi ke Bangladesh sejak aksi kekerasan meletus di Rakhine pada Agustus silam.

Kini, otoritas Bangladesh bersiap menunggu kedatangan para pengungsi lain karena ribuan kelompok etnis minoritas muslim itu masih terkatung-katung di perbatasan.

Pengungsi Rohingya berbondong-bondong berlindung ke Bangladesh usai serangan militan terhadap pasukan keamanan Myanmar di Negara Bagian Rakhine memicu tindakan represif terhadap warga Rohingya. PBB menyebut tindakan aparat Myanmar sebagai pembersihan etnis (genosida).

Di sisi lain, menurut laporan Kelompok Koordinasi Antarsektor (ISCG) di bawah komando PBB—yang mengarahkan bantuan kemanusiaan—menyebutkan sekitar 603.000 pengungsi dari Rakhine sudah melintasi perbatasan demi mengungsi di Bangladesh sejak 25 Agustus.

Baca juga: Karma? Inilah yang Dialami Ratu Kecantikan Myanmar Setelah Berkomentar Pedas Tentang Militan Rohingya

“Aktivitas lintas perbatasan oleh lebih dari 14.000 pengungsi tercatat dalam sepekan terakhir,” demikian menurut laporan kantor berita Prancis AFP.