Kebaktian Nasrani di Yogyakarta Dibatalkan Karena Dituding Pemurtadan


    SURATKABAR.ID – Jumat (20/10/2017), Kebaktian Nasrani yang diinisiasi oleh Pendeta Stephen Tong di Stadion Kridosono, Yogyakarta, gagal digelar. Penyebanya adalah PT Anindya Mitra Internasional (AMI) selaku pengelola stadion membatalkan perjanjian sewa yang mereka tandatangani sebelumnya dengan panitia acara keagamaan yang bertajuk Kebaktian Nasional Reformasi 500 tahun itu.

    Pembatalan acara kebaktian itu pun tidak lepas dari desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI). “Ada beberapa informasi dan masukan terkait acara itu. Kami kan badan usaha, pasti memperhatikan itu semua karena risiko harus kami hitung,” kata Direktur Utama PT AMI, Dyah Puspitasari, seperti diberitakan laman bbc.com.

    Diketahui pada 12 Oktober lalu, FUI mengirimi surat Kepala Polda Yogyakarta Brigjen Ahmad Dofiri. Dalam surat itu, FUI menulis bahwa kebaktian yang dipimpin oleh Stephen Tong itu berpotensi untuk menjadi ajang pemurtadan lantaran berisi penyembuhan masal. Selain meminta agar Kapolda tidak mengeluarkan izin, FUI juga di sana menyarankan agar acara kebaktian tersebut dipindahkan ke gereja.

    Empat hari dari itu, MUI melakukan hal yang sama dengan FUI, yakni menyurati Kapolda. Surat yang ditandatangani langsung oleh Ketua MUI Yogyakarta Thoha Abdurrahman berisi tak beda jauh dengan isi surat FUI sebelumnya.

    Sementara itu, Kabid Humas Polda Yogyakarta, AKBP Yulianto mengatakan bahwa pihaknya tidak perlu memberi izin untuk acara kebaktian tersebut, cukup surat tanda terima pemberitahuan. Yulianto mengaku berkaca pada acara serupa yang digelar di Stadion Kridosono tahun 2015 di mana kepolisian harus menurunkan personel yang banyak untuk mengamankan acara tersebut.

    “Kami belajar dari pengalaman, kalau tahun ini dilaksanakan pun, kami akan mengeluarkan pengamanan yang cukup banyak,” kata Yulianto.

    Yulianto menyebut bahwa pihaknya sudah membantu panitian kebaktian untuk mendapat tempat alternatif. Namun, katanya, pihak panitia kebaktian tidak memberi respon atau tak menindaklanjuti tawaran tersebut.

    Baca Juga: Mengenang KH Ahmad Hanafiyah, Ulama Lampung yang Gugur saat Melawan Penjajah

    Lewat keterangan tertulis, panitia kebaktian sudah memberi pernyataan terkait dengan apa yang ditudingkan. Menreka menyebut bahwa apa yang dilakukan Stephen Tong tidaklah seperti apa yang ditudingkan, Stephen Tong tidak pernah menggelar kebaktian penyembuhan fisik.

    “Stephen Tong hanya melakukan kebaktian kebangunan rohani yang menekankan pertobatan sejati,” ujar panitia dalam surat berkop Stephen Tong Evangelistic Ministries International.

    Stephen Tong sendiri merupakan pimpinan Gereja Reformed Injil Indonesia (GRII). Berdasar dari situs daring mereka, gereja ini memiliki cabang di empat benua, yakni Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Sementara kantor pusatnya ada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, di sebuah gedung berkubah besar bertuliskan solus christus soli deo gloria.

    Komnas HAM mencatat pengaduan pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan terhadap FUI pada tahun 2016 ada 87, meningkat 10 aduan dari tahun 2015. Dari angka itu, 44 di antaranya pelanggaran mendirikan rumah ibadah dan 19 lainnya adalah pembatasan kegiatan keagamaan.