Mengenal Sosok Pemuda Kalimantan yang Menjadi Tangan Kanan Penemu The Wallace Line


SURATKABAR.IDHasil ekspedisi ilmiah naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari bantuan penduduk lokal.Jika dilihat peran penduduk lokal tentu sangat besar dalam membantu sejarawan sains untuk menghasilkan temuan yang luar biasa dan diakui dunia.

Salah seorang asisten kepercayaan Wallace adalah pemuda Melayu berusia sekitar 15 tahun bernama Ali.  Wallace menggambarkan Ali sebagai remaja Melayu yang penuh perhatian, bersih, dan pandai memasak.

“Ali, yang populer dengan sebutan Ali Wallace, awalnya direkrut sebagai juru masak, juru perahu, dan dalam perjalanan berbulan-bulan, naik kelas menjadi asisten pribadi Wallace,” kata John van Wyhe yang merupakan seorang sejarawan sains yang mempelajari Charles Darwin dan Alfred Wallace di National University of Singapore seperti dilansir viva.co.id, Selasa (17/10/2017).

Wallace menyebut Ali sebagai asisten yang cerdas, menyenangkan, dapat dipercaya, dan laki-laki muda yang kompeten. Ali setia menemani Wallace melewati hampir semua perjalanan.

“Dalam otobiografinya, Wallace menilai Ali sebagai sosok yang sangat berguna dalam mengajari tugas-tugas asisten yang lain. Dia cepat tanggap dalam mengetahui keinginan dan kebiasaan Wallace,” tutur John.

Baca Juga: Hari Batik Nasional, Ini Sejarah di Balik Warisan Nusantara yang Jarang Diketahui

Selama ekspedisi, Wallace dan Ali saling berbagi tugas. Wallace mengumpulkan serangga, sedangkan Ali mengumpulkan burung. Ali mampu membuat penemuan baru yang signifikan bagi Wallace.

Pada otobiografi miliki Wallace ada deksripsi yang menjelaskan atau menggambarkan tentang sosol Ali.

“Ketika saya tiba di Sarawak tahun 1855, saya mengajak seorang remaja Melayu bernama Ali sebagai pelayan pribadi. Dia juga membantuku mempelajari bahasa Melayu dengan berkomunikasi terus menerus. Dia banyak belajar soal menembak dan menguliti burung dengan baik. Lalu, dia pengayuh perahu yang lihai, seperti kebanyakan orang Melayu. Dia siap untuk melakukan apa pun saat tenaganya dibutuhkan”.

Selama berkelana di hutan, sungai, pegunungan, berjalan kaki dan naik perahu, Wallace dibantu oleh lebih dari 100 asisten yang terdiri dari pemandu, koki, kru perahu, pemanggul barang, penembak dan tukang menguliti burung, pemotong kayu, dan peran lainnya.

Ekspedisi Wallace selama delapan tahun di kepulauan Melayu adalah salah satu cerita klasik dari sejarah sains. Dalam kurun waktu 1854-1862, Wallace dan tim asistennya mendapatkan 125.660 spesimen sejarah alam yang terdiri dari serangga, burung, reptil, mamalia, dan kerang.

Koleksi tersebut diambil dari Singapura, Sarawak di Borneo, Bali, Lombok, Makassar di Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Jawa, dan Sumatera.

Temuan itulah yang pada akhirnya mengukuhkan Wallace sebagai ilmuwan dunia yang menciptakan teori seleksi alam dan garis imajiner yang lebih dikenal dengan nama Garis Wallace (The Wallace Line).