Begini Awal Mula Terbongkarnya Kebohongan Dwi Hartanto yang Diklaim Sebagai Penerus Habibie


    SURATKABAR.ID – Dwi Hartanto yang merupakan mahasiswa Indonesia program doktor di TU Delft Belanda sudah meminta maaf atas klaimnya sebagai ahli kedirgantaraan dan sederet prestasinya yang ternyata palsu. Kebohongannya tersebut terbongkar setelah latar belakangnya diselidiki oleh alumni TU Delft di Indonesia.

    Melansir laporan Kumparan.com, Selasa (10/10/2017), penyelidikan tentang kebohongan Dwi bermula saat dirinya diundang sebagai pembicara di salah satu konferensi tentang kedirgantaraan di Indonesia. Waktu itu, alumni TU Delft di Indonesia menyelidiki background Dwi, namun tak menemukannya.

    “Alumni yang awalnya nyelidiki ini adalah dosen di Indonesia, dulunya TU Delft juga, bidang aerospace engineering. Dia merasa ada yang aneh dengan Mas Dwi, lalu dicek backgroundnya. Agak dalam juga tuh ngeceknya,” beber salah seorang mahasiswa TU Delft saat dihubungi tim wartawan pada Minggu (8/10/2017).

    Mereka juga menanyakan perihal Dwi Hartanto ke European Space Agency (ESA), karena Dwi mengaku bekerja di sana. Namun ternyata setelah dikroscek, tidak ada nama Dwi Hartanto di ESA.

    Baca juga: Dahlan Iskan Pamerkan Mobil Listrik “Selo”, Jokowi: Sayang Dihambat Rumitnya Regulasi Negeri Sendiri

    Dia tak tahu sejak kapan Dwi Hartanto berbohong. Namun menurutnya penyelidikan kasus Dwi sudah berlangsung cukup lama.

    “Awal mula kecurigaan alumni itu sudah lama. Mungkin sudah setahunan,” ungkapnya.

    Akhirnya, Dwi diinterogasi oleh PPI Delft, PPI Belanda, dan KBRI Den Haag, dan dia mengakui kesalahannya. Dwi yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Akprind Yogyakarta itu juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

    “Selama ini kami enggak tahu kalau ternyata Mas Dwi berbohong,” tutur teman Dwi yang enggan disebutkan namanya ini.

    Pernyataan Permohonan Maaf

    Dwi mengaku khilaf—tidak mengkoreksi, verifikasi, dan klarifikasi. Bahkan latar belakang pendidikan Dwi yang sebelumnya digembar-gemborkan bersinggungan dengan satelit  serta sejumlah informasi yang tidak akurat dan cenderung melebih-lebihkan kemudian dibantahkan lewat pernyataannya. Berikut ini merupakan penuturannya:

    Saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar terkait dengan pribadi, kompetensi, dan prestasi saya.

    Saya mengakui dengan jujur, kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang berakibat pada terjadinya framing, distorsi informasi, atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya.

    Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

    Untuk itu saya berjanji:

    Baca juga: Jembatan Kaca Pertama di Indonesia Sudah Dibuka, Berani Coba?

    1. Tidak akan mengulangi kesalahan/perbuatan tidak terpuji ini lagi,
    2. Akan tetap berkarya dan berkiprah dalam bidang kompetensi saya yang sesungguhnya dalam sistem komputasi dengan integritas tinggi,
    3. Akan menolak untuk memenuhi pemberitaan dan undangan berbicara resmi yang di luar kompetensi saya sendiri, utamanya apabila saya dianggap seorang ahli satellite technology and rocket development, dan otak di balik pesawat tempur generasi keenam.