Terungkap! Mantan Danpaspampres Akhirnya Buka Suara Tentang Alasan Jokowi Tak Temui Pendemo 411


SURATKABAR.ID – Jumat, 4 November 2016 Monas dipenuhi massa. Pada waktu yang bersamaan di tempat lain, tepatnya di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta, Presiden Joko Widodo memimpin salat Magrib. Usai salat, Jokowi, sapaan akrab Presiden, meminta untuk kembali ke Istana. Pada hari itu, Presiden meninjau pembangunan jalur kereta bandara.

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) Mayjen TNI (Marinir) Bambang Suswantoro tidak bisa memenuhi permintaan Presiden tersebut. Hal itu didasarkan pada masukkan dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, dan Sekretaris Negara M. Pratikno. Sayangnya Presiden keukeuh ingin tetap pulang ke Istana. Lantas, Bambang pun mencoba bernegosiasi, meyakinkan Presiden tentang situasi dan kondisi di sekitar Istana. “Akses masuk Istana terkepung massa. Kalau ada pendemo yang tidak menghargai Bapak, kami keberatan,” kata Bambang, seperti diberitakan detik.com. kemudian, Jokowi pun memilih untuk pulang ke Istana Bogor.

Namun, sudah di Bogor, Jokowi seperti kerasan beristirahat di sana. Pada saat Bambang dan stafnya makan malam di sebuah kafe, ada laporan padanya yang menyebut Presiden ingin kembali ke Jakarta. “Waduh…, langsung makanan tak tinggal,” katanya tertulis dalam buku biografi ‘Bambang Suswantono Memberi yang Terbaik’ karya Fenty Effendy.

Di Istana Bogor, Jokowi bertanya-tanya soal kondisi di Jakarta. Bambang menjelaskan situasinya belum kondusif untuk Presiden bisa masuk Istana. “Oo… begitu,” ucap Jokowi, kemudian masuk kamar. Beberapa saat kemudian, Jokowi menanyakan kembali situasi terbaru di sana. “Pak, Mensesneg menyampaikan agar Bapak tetap di Istana Bogor saja,” jawab Babang. Tak lama berselang, Jokowi kembali keluar dari kamar seraya memberi perintah pda Bambang untuk mengawal kembali ke Jakarta. Bambang tak bisa membantah, “Siap, Pak!”

Jokowi kemudian kembail ke Jakarta. Dengan alasan taktis, yang digunakan hanya dua mobil, jip Mercy yang biasa ditumpangi Danpaspampres serta voorijder. Presiden menumpang di mobil pengawalnya itu. Sebelumnya, Bambang sudah menjelaskan opsi pada Jokowi, Massa masih bertahan dan diperkirakan akan memaksa masuk. Maka, bentrokkan dengan aparat sulit dihindarkan. “Kalau terjadi pertumpahan darah, provokator lah yang akan bertepuk tangan,” terang Bambang.

Baca Juga: Kisah Pedagang Kopi Keliling yang Anaknya Terbang ke Kanada

Akhirnya, Jokowi pun setuju untuk mengalihkan tujuannya yang semula hendak ke Istana Negara menjadi ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Ia juga meminta para Menteri terkait untuk datang ke Halim dan melakukan rapat. Namun, sekitar pukul 21.00, tepatnya ketika mobil yang ditumpangi Bambang dan Presiden melintasi kawasan Taman Mini, ada laporan yang menyebut bahwa massa sudah bergeser ke Patung Kuda. Istana pun sudah siap dimasuki Presiden. Istana pun kembali menjadi tujuan. Lalu tiba di istana, rapat langsung digelar dengan menteri terkait. Hasil rapat langsung disampaikan kepada pres.

Ketidakhadiran Presiden di tengah pendemo itu sendiri sebelumnya sempat menjadi polemik. Tak sedikit yang menuding Presiden pengecut sebab tak berani menemui pengunjuk rasa. Sejumlah ulama yang menemuinya sepekan kemudian juga menyinggung hal tersebut. Lantas, Presiden menyampaikan kepada tamunya itu bahwa sebetulnyya dirinya ingin dekat dengan rakyatnya, termasuk salat jumat di Istiqlal. Sayang, aturan protokoler, keamanan sesuai masukan Kapolri, Panglima TNI, BIN dan menteri terkait menyebut untuk tidak ikut ke sana.