Jonru Sangat Terbuka di Dunia Maya, Tapi Bagaimana Jika di Dunia Nyata?


SURATKABAR.ID – Sikap Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru Ginting di dunia nyata dan dunia maya sepertinya berseberangan dan tampak kontras. Jika di dunia maya ia lebih vokal dan frontal, lain halnya dengan di dunia nyata. Rupanya, Jonru Ginting dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup dalam kesehariannya. Bahkan disebut-sebut lingkungan sekitarnya tak banyak mengetahui sosok penulis dan aktivis media sosial tersebut.

Melansir reportase CNNIndonesia.com, Kamis (5/10/2017), hal itu diketahui dari penuturan warga di sekitar lingkungan tempat tinggal Jonru yang berlokasi di Jl. Kerja Bakti, Kelurahan Makasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Ketua RT 01/RW 02 Kelurahan Makasar, Mei Sumarno (35) menyebutkan, Jonru hampir tak pernah berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Bahkan, kerja bakti yang biasa dilakukan sebulan atau dua bulan sekali pun jarang dihadiri olehnya.

“Kalau Pak Jonru enggak pernah keluar (rumah). Sama saya saja kemungkinan tidak kenal,” tuturnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Baca juga: Sempat Dikira Jadi Transgender, Begini Penampilan Alfandy Trio Kwek Kwek Sekarang

Ia lalu mengungkapkan, dirinya sempat bertemu dengan Jonru di sebuah toko swalayan tiga hari sebelum penetapannya sebagai tersangka ujaran kebencian. Sayang, tidak sedikit pun ada tegur sapa atau perbincangan di antara keduanya.

Jonru juga jarang menghadiri kegiatan seperti perlombaan 17 Agustus yang diadakan di wilayahnya.

Soal kegiatan keagamaannya, Mei mengaku pernah bertemu dengan Jonru saat hendak menjalankan salat di masjid di lingkungannya, Masjid Nurul Huda.

“Pernah sekali dua kali ketemu di Masjid tapi itu juga jarang. Tapi saya tidak pernah lihat ada kegiatan keagamaan atau kumpul-kumpul di rumahnya,” demikian pengakuannya.

Terkait pekerjaan Jonru, Mei hanya mengetahui dari orang sekitar jika Jonru adalah seorang penulis. Rumah Jonru pun diketahui bersatu dengan kantor tempat Jonru menulis. Mei mengetahuinya setelah bertemu dengan salah satu karyawan Jonru di tempat makan miliknya.

“Saya baru tahu ketika saya nanya sama anak buahnya yang lagi makan di sini. Itu juga kalau tidak ditanya saya tidak tahu,” sebutnya.

Sebagaimana yang diketahui, Jonru mulanya diperiksa penyidik Polda Metro Jaya sebagai terlapor kasus dugaan ujaran kebencian, Kamis (28/9/2017) sore. Pada dini hari keesokan harinya, polisi meningkatkan statusnya sebagai tersangka.

Jonru kemudian ditangkap dan dibawa ke kediamannya di Jakarta Timur untuk dilakukan penggeledahan. Polisi menyita sejumlah dokumen dan peralatan kerja Jonru. Usai penggeledahan, Jonru kembali dibawa ke Polda Metro Jaya. Pada Sabtu (30/9/2017) dini hari, ia dikenakan penahanan.

Ketika penggeledahan itu dilakukan, Mei diminta Kepolisian menjadi saksi. Saat itulah, ia melihat wajah panik Jonru. Terutama, sewaktu polisi meminta kata sandi laptop Jonru.

“Pas ditanya soal password, Jonru sempat juga bilang password ditulis di buku, tapi habis itu bilang di file, sampai dibilang sama polisi yang mendampingi, ‘aneh sebagai penulis seperti itu’,” bebernya.

Ungkapan senada dituturkan oleh Rio (44), tetangga yang tinggal di depan rumah Jonru sejak 2004. Rio menyebut, Jonru merupakan individu yang cukup tertutup. Dengan posisi rumah yang berdekatan pun, Rio mengaku hampir tidak pernah mengobrol dengan Jonru.

Sesekali Rio bertemu dengan Jonru saat hendak salat di Masjid Nurul Huda. Ketika berpapasan itu, Rio berbincang dengan Jonru hanya tentang kondisi di lingkungan tinggal. Tak sekalipun Jonru bicara soal politik dengannya.

“Sesekali sih pernah bertemu dengan dia saat jalan mau ke Masjid. Tapi saya juga hampir tidak pernah bertemu dengan dia, mungkin karena dia sibuk kali ya,” ungkap Rio yang sehari-hari membuka rumah makan Soto Betawi.

Saat mengetahui soal kasus yang menjerat Jonru, Rio menilai Jonru merupakan orang yang berani karena kritikannya. Rio mengaku akan berpikir panjang untuk menyampaikan kritik seperti yang dilakukan Jonru.

 

Menurutnya, kasus yang menimpa Jonru memang harus dijalani sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Dia hanya merasa simpati terhadap istri dan tiga anak Jonru.

“Saya sih kasihan sama istri dan anaknya yang masih kecil-kecil,” imbuhnya.

Saat disambangi ke kediamannya, Yulianti yang merupakan istri Jonru enggan diwawancarai di rumahnya karena memikirkan keadaan anak-anaknya yang masih kecil.

Yulianti sendiri sudah menyerahkan kasus Jonru kepada kuasa hukumnya Juju Purwantoro. Dia mengaku hendak menyambangi kantor Juju yang terletak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan untuk kemudian mengunjungi Polda Metro Jaya.

Saat ditanya soal keseharian Jonru, Yulianti hanya mengatakan, Jonru enggan berbicara banyak. “Kesehariannya baik-baik saja kok,” tuturnya sambil memasuki kediamannya.

Jonru dilaporkan Muannas Alaidid dengan tuduhan ujaran kebencian melalui media sosial. Jonru diduga mempertentangkan antara muslim dan non muslim serta semangat mempertajam sentimen individu dan etnis tertentu.

Laporan terhadap Jonru dimuat dalam Laporan Polisi Nomor: LP/4153/VIII/2017/PMJ/ Dit.Reskrimsus tertanggal 31 Agustus 2017.

Muannas juga melaporkan Jonru terkait pencemaran nama baik. Dia diduga menyebut Muannas sebagai keluarga dari petinggi Partai Komunis Indonesia Dipa Nusantara Aidit.

Laporan tersebut diterima dalam LP/4157/IX/2017/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 19 September 2017.

Baca juga: Dua Pekan Terakhir Masa Jabatan, Ini Sejumlah Program yang Sedang Dituntaskan Djarot

Selain itu, Muhamad Zakir Rasyidin juga ikut melaporkan Jonru dengan tuduhan pencemaran nama baik. Salah satunya berhubungan dengan unggahan Jonru mengenai Presiden RI, Ir. Joko Widodo.