Tegas! Mantan Panglima TNI: Prajurit Tak Seharusnya Sempat Pikirkan Politik


    SURATKABAR.ID – Dalam diskusi bertajuk Membaca Indonesia: TNI dan Politik Negara di kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Rabu (4/10/2017), Mantan Panglima TNI Jenderal (Purnawirawan) Moeldoko menekankan profesionalitas TNI di tengah persoalan nasional, regional dan global. Apabila TNI lebih berfokus untuk meningkatkan profesionalitas, maka prajurit tidak akan sempat memikirkan masalah politik.

    “Kalau semua prajurit menuju ke sana (profesional) maka tidak ada lagi, tidak sempat lagi mikir masalah politik,” ujar Moeldoko dalam diskusi yang digelar di kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan tersebut. Demikian seperti diwartakan kembali dari laporan CNNIndonesia.com, Kamis (5/10/2017).

    Kedepankan Akuntabilitas dan Transparansi

    Moeldoko melanjutkan, sebelum era reformasi, tuntutan profesionalitas TNI datang dari masyarakat. Namun saat ini dorongan profesionalitas itu berasal dari internal TNI. Dia menambahkan, upaya peningkatan profesionalitas TNI pun harus diikuti dengan peningkatan kesejahteraaan prajurit.

    Jelang hari lahir yang ke-72, TNI diharapkan membangun kekuatan yang andal dengan mengedepankan akuntabilitas dan transparansi.

    Baca juga: Edan! Korupsi di Kabupaten Ini Ternyata Akibatkan Kerugian Negara Lebih Besar Dibanding Kasus E-KTP

    Moeldoko menerangkan, TNI harus membangun pertahanan dengan konsep aliansi strategis dengan masyarakat, karena Indonesia menerapkan sistem pertahanan rakyat semesta dengan melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional.

    “Ke depan, bagaimana membangun konsep pertahanan aliansi strategis antara TNI dan masyarakat,” tandas Moeldoko.

    Jenderal Gatot Akui Berpolitik

    Di sisi lain, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengakui dirinya ikut dalam kancah perpolitikan. Meski demikian, ia mengklaim politiknya bersumber pada konstitusi negara, bukan politik praktis.

    “Panglima TNI pasti berpolitik, tapi politiknya negara, bukan politik praktis. Saya akan menjalankan tugas saya secara konstitusi,” Gatot memaparkan saat ditemui di Pelabuhan Indah Kiat, Kota Cilegon, Banten, usai memimpin gladi resik puncak peringatan HUT TNI ke-72, Selasa (03/10/2017).

    Dengan masa jabatannya yang tersisa enam bulan lagi, Maret 2018, Gatot mengaku tengah mempersiapkan calon pengganti yang bisa semakin menyolidkan tiga matra TNI.

    “Tugas saya menyiapkan adik-adik saya jadi pemimpin yang solid antar-TNI, antar-matra, dalam satu kesatuan komando, agar netral,” tukas Gatot.

    Ada opun mengenai pemutaran sosiodrama bertema Jenderal Soedirman dalam puncak peringatan HUT ke-72 TNI, Gatot juga mengisyaratkan tentang langkah politiknya.

    Baginya, Jenderal Soedirman adalah salah satu penyemangat jiwa patriotisme dan kebersamaan di tubuh semua prajurit, tanpa mengenal perbedaan pangkat. Saat di medan tempur, bawahan maupun jenderal berada dalam situasi yang sama.

    Baca juga: Menohok! Fadli Zon: Jokowi Jangan Tanya Nama Ikan, Tanya juga Bagaimana Kondisi Ekonomi Rakyat

    “Makanya Jenderal Soedirman setelah selesai berperang menyerahkan kondisi negara kepada Soekarno,” demikian Gatot memungkasi.