Tegas! Begini Tindakan Saudi Terhadap Pengguna Twitter yang Ancam B***h Pendukung Wanita Mengemudi


SURATKABAR.ID – Sabtu (30/9/2017) Jaksa Penuntut Umum Arab Saudi mengeluarkan surat perintah untuk penangkapan terhadap pengguna Twitter, yang meminta siapa saja yang mendukung wanita mengemudi untuk dibunuh. Ancaman itu dikeluarkan beberapa hari setelah keputusan kerajaan mengakhiri larangan lama perempuan mengendari mobil.

Pengguna Twitter yang tak disebutkan namanya, diduga telah menyebutkan siapa-siapa mereka yang memberikan dukungan wanita mengemudi sebagai ‘orang yang harus dibunuh,’ berdasarkan sumber dilansir Antaranews.com dari Asharq al-Awsat.

Pengumuman jaksa diajukan dua hari setelah surat perintah penangkapan terpisah dikeluarkan untuk seorang pria yang mengancam di dalam video klip yang diunggah dalam jaringan untuk menyerang pengemudi perempuan.

Banyak masyarakat Saudi Arabia yang menyambut baik pengumuman pada Selasa yang dikeluakan Raja Salman terkait pencabutan larangan tersebut mulai tahun depan .Namun ada pihak-pihak yang menyataan kontra dengan keputusan itu dalam jaringan atau percakapan sunyi.

Baca juga: Bocor Surat Keberatan Freeport Soal Divestasi Saham, Kemenkeu Tahan Komentar

Di dalam pernyataan tersebut, jaksa berjanji akan memantau ancaman pelecehan dan mengajukan kasus melawan orang-orang yang melakukan penghasutan untuk melakukan penyerangan terhadap hak orang lain.

Sebelumnya, seorang menteri menyatakan jika pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan bisa berdampak mengurangi jumlah kecelakaan mobil di negara dengan tingkat kematian terburuk di dunia terkait lalu lintas. Raja Salman mengumumkan perubahan yang sangat berserjarah itu pada Selasa untuk mengakhiri tradisi konservatif yang sangat membatasi ruang gerak perempuan.

Sebagai informasi, Arab Saudi merupakan negara satu-satunya di dunia yang saat ini masih melarang perempuan mengemudi, kebijakan itu secara resmi akan berakhir pada Juni 2018 setelah komite menteri melaporkan langkah-langkah yang diperlukan untuk implementasi keputusan kerajaan itu.

Baca juga: Santer Isu PKI, PDI-P: Untuk Memisahkan Pak Jokowi dan Bu Mega

Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Nayef, Menteri Dalam Negeri Arab Saudi menyebukan jika pasukan keamanan sudah siap menerapkan undang-undang lalu lintas kepada pria dan wanita, meskipun tidak menyebutkan apakah nantinya perempuan juga direkrut sebagai polisi lalu lintas ataupun juga tidak.

Keputusan itu menjanjikan perubahan gaya hidup bagi banyak 10 juta penduduk perempuan yang berusia di atas 20, termasuk juga orang asing yang menetap di Arab. Keputusan itu juga dapat membantu pemulihan pertumbuhan penjualan mobil di pasar yang disebabkan oleh dampak ekonomi dari harga minyak yang lemah. Namun lantaran tardisi konservatif itu sudah terlalu lama, kemungkinan butuh waktu bertahun-tahun untuk menerapkan aturan baru.